Ahmad: Kami Butuh Buku

 

 
Akhir Mei 2017 lalu, sebuah lembaga nirlaba di luar negeri merilis hasil survei tahun 2016 bertemakan tingginya minat baca (Literacy) di berbagai negara. Hasilnya seperti menohok bangsa ini: Dari 62 negara yang disurvei, Indonesia, merupakan negara yang tingkat minat bacanya terendah kedua di atas Botswana atau di bawah Thailand. 

Dua tahun sebelumnya, berdasarkan data biro pusat statistik Kemendikbud tahun 2015, angka butahuruf di Indonesia masih tinggi yang jumlahnya 5.984.050orang. Angka itu tersebar di Jawa Timur (1.258.184 orang), Jawa Barat 604.683, Jawa Tengah 943.680, Papua 584.441 orang, Sulawesi Selatan 375.221 orang dan NTB 315.258 orang.

Sebuah ironi negeri yang sudah mendekati usia 72 tahun merdeka. Walau pemerintah tak pernah tinggal diam untuk mengentaskan angka butahuruf, toh data berbicara seperti yang disebutkan di atas. Patutlah kiranya, sebagai warga negara yang baik, perlu mendukung program membaca agar rakyatnya terbebas dari bencana butahuruf tersebut. 

Seperti apa yang dilakukan beberapa sukarelawan di Desa Pasilian, Kronjo, Banten. “Ahmad,” begitu ia menyebut namanya. Ketika saya menanyakan nama panjang lelaki berambut pendek ini, ia hanya tersenyum. Ditemani beberapa relawan lain, Ahmad justru bertekad untuk membudayakan minat baca pada warga Desa Pasilian. 

 Sejak tahun 2013, kami membuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Umah Ilmu. Ada beberapa sukarelawan yang membantu kami,” ujar Ahmad, saat saya temui pekan lalu di lokasi ruang berukuran 12 meter persegi di Desa Pasilian, Kronjo, Sabtu (5/8). 

Ahmad bukanlah ‘anak sekolahan’. Pengakuannya, ia hanya tamatan Sekolah Dasar. Untuk mendapatkan ijazah setingkat SMP dan SMA, ia mengambil ujian keseteraan dari pemerintah. Tapi ia mengaku, sangat berminat dalam dunia membaca. Kala membentuk TBM Umul Ilmu itu, yang terbersit dalam benaknya, agar anak-anak di lingkungan Desa Pasilian, tak bermain ke sana-ke mari. 

Lagipula saya juga mengelola lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan juga remaja mushalla di sini,” cetus lelaki yang juga menjadi kader Posyandu PKK itu. Ia prihatin, selama ini kebanyakan anak-anak itu lebih sibuk bermain-main ataupun bercengkerama dengan telepon genggam yang kian menjamur. 

Atas dasar itulah kemudian ia mulai mengumpulkan buku-buku dari para donatur. Ada juga lembaga nirlaba yang sudah memberikan buku-buku bekas untuk keperluan membaca anak-anak ataupun orang dewasa. Bahkan, ia pernah juga melakukan kerjasama dengan sejumlah sekolah yang berada di kawasan Desa Pasilian agar koleksinya semakin beragam dengan tujuan untuk menarik minat baca anak-anak ataupun remaja di sekitar desanya itu. 

“Alhamdulillah, koleksinya bertambah, tapi sayangnya perpustakaan sekolah itu lebih banyak debunya daripada pengunjungnya hahahaha…..,” ujarnya tergelak. Ia prihatin, karena meski ada perpustakaan, tak banyak yang membaca buku di sana.
Kemudian bersama para relawan lain, ia mulai memutar otak untuk menarik minat baca para anak muda di sana. Mereka berpikir, untuk koleksi buku-buku yang ada perlu diperbanyak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Misalnya buku-buku mengenai pertanian, tata cara penanaman tanaman herbal, hingga panduan-panduan praktis bagi para ibu yang ada di sana. 

“Di sini juga ada majelis taklim. Nah kami berpikir, dari majelis taklim yang kebanyakan ibu-ibu itu, kami tawarkan untuk membawa buku bacaan dari TBM ini ke rumah. Misalnya buku tentang panduan memasak atau apapun yang mereka suka. Harapannya, setelah ibu-ibu itu membaca akan menularkan ke anak-anak mereka, ” cetusnya lagi.

Sayangnya, untuk menambah koleksi ini ia membutuhkan dana yang tidak sedikit. Maklum, TBM Umah Ilmu tak disokong dengan pendapatan yang tetap. Saban anak yang meminjam buku, tak dipungut biaya, sementara untuk operasional sehari-hari, mereka mengandalkan dana sukarela dari para relawan itu. Kondisi ini membuat penambahan koleksi buku yang direncakan tak bisa berjalan dengan mulus. 

Pernah ia mengajukan bantuan ke pemerintah daerah untuk mendapatkan sumbangan buku. Dari pemerintah daerah mendapat tanggapan positif. Namun, skema bantuannya berupa pinjaman sejumlah buku. Artinya, pada periode tertentu, buku-buku itu harus dikembalikan ke pemerintah. 

“Kalau namanya pinjaman kan harus dikembalikan. Saya khawatir, kalau namanya buku dipinjam kan ada aja risiko hilang atau rusak. Kalau nanti saatnya dikembalikan ke pemerintah bukunya hilang atau ada yang rusak, untuk menggantinya kami mendapat dana darimana?” katanya lagi.

Oleh karena itu, bersama relawan lain, kini mereka tengah mencari donatur untuk mendapatkan buku-buku tersebut. Tanpa menyinggung peringkat Indonesia di dunia perihal minat baca, Ahmad dan relawan lain berharap, dengan lengkapnya koleksi ini, warga Pasilian akan kembali bergairah membaca dari berbagai buku tersebut.

 “Kami perlu buku!” kata Ahmad menutup perbincangan. (Ciganjur 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s