Jayadi dan Kasuari

  

Namanya singkat saja, asli kelahiran tanah Betawi, tepatnya Kebagusan Jakarta Selatan 49 tahun silam. Dikaruniai empat orang, “Paling besar sudah kuliah dan yang terkecil umur 3 bulan,” ungkapnya sembari tersenyum.

Jayadi, begitu ia memperkenalkan namanya kepada saya saat berjumpa dengannya di suatu pagi hari Sabtu (22/7), di depan kandang Kasuari, di Kebon Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Berhias senyum ramah di wajahnya, Jayadi menjelaskan panjang lebar perihal kehidupan Kasuari yang menjadi tanggungjawabnya. 
  
“Setiap pagi, mereka harus diberimakan buah-buahan. Biasanya per ekor Kasuari mendapat satu sisir pisang (kepok). Kalau di alam liar, Kasuari itu burung pemakan segala. Jadi di sini juga disesuaikan. Setelah pagi buah, nanti siang buah campur sayur dan juga anak ayam usia sehari atau kalau ada ya kadal liar,” jelas Jayadi.

Jayadi memang bukan baru di Kebon Binatang Ragunan. Sejak tahun 1997, ia sudah menjadi pengasuh dan perawat Kasuari. Dari sedikitnya lima burung yang ada di sana, ia hapal satu persatu kebiasaan para Kasuari itu. 

  
“Kalau yang itu namanya Saiful. Keduanya betina, tapi saya kasih nama Saiful. Nih dengerin. Saifullllll….Saifullll….” teriaknya. Tak alam kemudian, dua burung yang dipanggil dengan nama itu segera lari mendekat. Persis hewan peliharaan lain, kedua Kasuari itu keudian menatap menati harap apa yang akan dilakukan Jayadi. 

Selang beberapa menit kemudian, Jayadi melemparkan pisang kepok kupas ke dalam kandang. Ia bilang, ada juga yang maunya disuapi layaknya anak kecil. Ada pula yang malu-malu tidak mau menyantap manakala ada orang selain Jayadi. 

“Saiful yang itu (sembari menunjuk satu diantara dua Kasuari) kalau ada orang enggak mau makan. Maunya disodorin kayak anak kecil,” urainya.

Dua puluh tahun merawat Kasuari, membuatnya hapal jenis-jenis penyakit dan obat yang dibutuhkan. Kata Jayadi, secara rutin, Kasuari diberi obat cacing per tiga bulan. Kalaupun ada yang menderita sakit, segera ia memberikan obat yang dibutuhkan. “Kalau buat jaga stamina, diberi multivitamin kayak Enervon,” tambahnya lagi.

  
Demi menjaga kesehatan dan keselamatan hewan peliharaan Ragunan itu, ia membuat semacam logbook atau buku catatan perkembangan Kasuari dari hari ke hari hinga bulan ke bulan. Maksudnya, agar kesehatan Kasuari terjaga sesuai dengan perkembangan hewan tersebut. Bahkan, Jayadi melanjutkan, meski dokter hewan yang menangani berganti, ia bisa dengan cepat memberikan catatan sejarah kesehatan Kasuari yang ada di situ mulai dari kebiasaan Kasuari itu, hingga jenis obat apa yang sudah pernah diberikan. 

Dalam menjaga kesehatan para Kasuari, kerap kali ia harus mengawasi setiap detiknya. Sebab, burung yang tak bisa terbang ini ketika sakit terbilang sensitif terhadap gangguan sekitarnya. “Dulu pernah ada orang yang di tendang, hingga luka parah di kakinya karena kena kuku Kasuari. Gara-gara orang itu coba-coba masuk ke kandang, dia enggak tahu kalau Kasuarinya lagi sensitif. Untung ketahuan dan langsung saya usir Kasuarinya itu,” jelas lulusan sekolah menengah ekonomi atas (SMEA) jurusan pemasaran itu. 

Menjadi pengurus hewan tak pernah diimpikannya. Awal bekerja, ia hanya diupah Rp1.500 per jam. Ia menceritakan, dengan upah sebesar itu, ia tak berkeluh kesah. Ia menyadari betul, tahun 1997 merupakan awal masa sulit di Indonesia. Karenanya ia terus melakoni meski upah itu hanya cukup untuk membeli 1 liter beras pada masa itu. Buah ketekunannya bisa dipetik ketika ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil propinsi DKI Jakarta pada tahun 2007. Sejak itu, ia mulai mendapat gaji setara upah minimum regional DKI Jakarta, berikut tunjangan lain. 

“Yah disyukuri aja Mas, yang penting pekerjaannya halal,” pungkasnya sambil tersenyum.  

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s