Hari ke-2 Syawal 1438 H 

  

 
Syawal 1348 Hijriyah datang. Awal bulan kemenangan yang dirayakan seluruh umat muslim di dunia. Lebaran, begitu sebutan di Indonesia, yang kemudian menjadi hari libur resmi sepanjang dua hari. Tapi atas kebijakan pemerintah, kadangkala libur resmi itu diikuti dengan penetapan cuti bersama. Pemerintah sejak dahulu paham betul, mayoritas muslim di Indonesia punya banyak ritual yang membutuhkan waktu khusus.
 
Seperti dilakoni warga Betawi. Selepas lebaran hari ke-1 yang biasanya dipakai untuk ajang silaturahmi keluarga dekat dan tetangga yang masih hidup, memasuki hari kedua, giliran “bersilaturahmi” dengan para sanak famili yang sudah di liang lahat. Tidak heran, sepanjang perjalanan di Jakarta yang dekat pemakaman, berderet mobil terparkir. Tepat di depan pintu makam, berjejer para penjaja kembang. 
 
“Ziarah kubur, kirim doa ke orang tua atau orang yang dituakan,” ujar rekan saya yang asli Betawi. “Sekalian bebersih makam,” tambahnya lagi.
 
Ziarah kubur, ritual yang sejatinya tak melulu urusan warga Betawi. Di daerah lain ada juga yang biasanya di lakukan pada waktu-waktu tertentu. Kebanyakan suku Jawa melakukan ritual ini menjelang Ramadhan tiba. 
 
“Nyekar, kirim doa buat orang tua. Itu tradisi aja, kalau menurut guru ngaji Ibu, enggak ada tuntunannya dalam Islam. Tapi (ziarah) baik aja sih, bisa mengingatkan kita akan kematian. Semua yang hidup pasti mati, ” ujar Ibu saya saat berziarah ke makam Bapak di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Ahad (25/6).
 
Maka soal ziarah ini pun di kalangan para ahli ibadah selalu jadi obrolan yang menarik. Ada yang menganggap persis apa yang disuarakan ibu saya itu, ada juga sebaliknya. Masing-masing punya dalil yang dianggap benar. Selama intinya memberikan doa untuk orang lain, menurut saya silakan saja asal jangan saling memaksa merasa benar. Sehubungan saya orang awam dalam urusan agama, baiknya perdebatan dan silang pendapat itu tak saya panjangkan di sini. 
 
Saya pikir, setiap orang bebas untuk mengambil pegangannya masing-masing. Sepanjang itu berpegang teguh pada AlQuran dan Hadist, bagi muslim rasanya tak elok kalo saling diperdebatkan. Meski dalam islam yang saya anut, beda pendapat adalah hal biasa dan itulah sunatullah yang memang mesti ada.
 
Apalagi tradisi yang mengakar perihal nyekar atau sejenisnya, tentu tak mudah dihilangkan mengingat tradisi adalah produk budaya yang keberdaannya diwariskan secara temurun. Maka, lebih indah bila beda-beda tafsiran itu tak perlulah diperuncing. Sebab, rasanya kalau tujuannya adalah mendoakan yang sudah meninggal, baik saja. 
 
Seperti dilakoni ibu saya yang pada tahun-tahun pertama kehilangan suaminya ( bapak saya) kerap kali menyambangi makam untuk mendoakan. Namun seiring waktu, selepas mendapat pencerahan melalui majelis taklim yang diikutinya, paham lah ia bahwa berkirim doa tak melulu harus hadir di pemakaman. 
 
“Kirim doa bisa darimana aja kan. Setelah shalat, termasuk waktu yang baik kata ustadz ibu,” katanya.
 
Yang celaka, kebayakan orang lupa menyambangi makam, berdoa untuk yang meninggal tak dilakukan, malah berharap berkah dari makam. Dapat berkah enggak, malah dapat celaka. “Itu syirik namanya, menyekutukan Alloh SWT dosanya besar!” seru Pak Profesor ahli tafsir saat menggelar tausiyah pagi suatu ketika selepas shubuh di Masjid Baitul Makmur.
 
Ia menambahkan, “Setelah mati, hanya tiga hal yang dibawa di alam kubur: doa anak yang sholeh; amal kita dan shodaqoh. Semoga Ramadhan lalu, ibadah kita semua bisa menjadi bekal saat menghadap Sang Khalik nanti,” tutupnya mengakhiri majelis.
 
(Ciganjur 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s