Rindu Ramadhan 1439 Hijriyah

 

Syawal menjelang, takbir segera bergema menandakan akhir Ramadhan 1438 Hijriyah. Ada yang bersuka cita, tak sedikit yang menitikkan air mata. Bersuka cita lantaran bulan penuh hikmah ini seperti layaknya kawah candradimuka: tempat penggemblengan untuk menghadapi 11 bulan ke depan. Sudah barang tentu, ‘kelulusan’ ini sebagaimana mestinya dirayakan oleh para ‘siswa’, yang memperoleh kegembiraan tersendiri. 

Persis hajatan besar, segalanya harus ditampilkan secara luar biasa. Bagaimana tidak, selama 29 hari penuh setiap muslim yang beriman, menunaikan ibadah puasa, menahan haus dan lapar plus syahwat, sejak sebelum fajar menyingsing, hingga terbit matahari. Bagi muslim di Indonesia, cukuplah total antara 12-13 jam menahan hawa nafsu itu agar masuk sebagai kaum beriman. Meski urusan iman seseorang, rasa saya tak patut dibicarakan karena itu domain Ilahiah, bukan urusan makhluk seperti saya yang membaca ayat-ayat dalam Al-Quran saja belum tentu sesuai dengan kaidah atau secara tartil, istilah yang kerap dipakai para guru mengaji. Sementara waktu lebih lama lagi bagi para saudara muslim yang berada di negara-negara 4 musim. Ada yang berpuasa hingga 18 jam untuk memenuhi kewajibannya seperti yang sudah ditetapkan. 

Maka, wajarlah kiranya diakhir penggemblengan mental dan semangat keagamaan itu, harus dirayakan secara istimewa. Mulai dari cara berpakaian hingga urusan perut. Paling sedikit, urusan baju mesti berbeda tampilannya dengan keseharian. Pun demikian dengan urusan makanan. 

Bagi yang bergembira lantaran lulus ujian Ramadhan dengan disokong dana berlebih dari adanya tunjangan hari raya, bolehlah mata berbinar-binar dengan senyum mengembang lantaran bisa makan aneka hidangan istimewa, seperti semur daging, opor ayam, hingga kudapan keju yang jamak ditemui: kaastengel. 

Sebaliknya, bagi yang tidak punya dana berlebih, masih tetap bisa bergembira karena Pemerintah menyatakan harga sembilan bahan pokok, tidak mengalami ‘penyesuaian’. Jauh-jauh hari, pimpinan tertinggi negeri ini sudah berpesan, agar tidak ada lagi keluhan perihal kenaikan harga barang pokok di masyarakat. 

Adakah pernyataan itu benar? sebagai warga negara yang baik, saya tentu percaya. Apalagi, media-media besar yang selama ini kerap memberitakan setiap langkah Pimpinan tertinggi dengan berita-berita manis belaka. Kalau ada sentilan, itu hanya riak kecil di kolam raksasa. Agar tak terlihat begitu berat sebelah.

Lepas soal pemberitaan, pagi tadi terlihat lelaki berkaos garis di Jalan Harsono RM, Pasar Minggu, dekat dengan kantor sekolah sandi negara, sedang sibuk luar biasa melayani para pembeli. Lelaki muda penjual daging sapi itu, tiada hentinya melayani permintaan para ibu di sekitar situ. Walaupun pemerintah sudah menggelontorkan pasar dengan daging sapi impor beku, toh pedagang daging musiman ini tetap menuai berkah Ramadhan. 

Ada yang sekadar membeli tulang iga, ada pula yang daging murni. Harganya bervariasi, untuk tulang /paha utuh, dibanderol Rp15.000/tulang. Sementara daging, ia melepas dengan harga Rp130.000 per kilogram. Bandingkan dengan harga daging beku di pasar swalayan yang hanya dijual Rp80.000/kg.

Walau harga lebih tinggi, tetap saja para pembeli yang kebanyakan ibu-ibu menyambangi kios dadakannya itu. Lelaki muda itu mengaku, saban menjelang hari raya Iedul Fitri maupun Iedul Adha, ia berbelanja sapi utuh untuk kemudian dipotong untuk dijual langsung ke kosumen. “Kalau sudah hari gini (pukul 09.00) tinggal daging buat sop aja. Daging yang bagus-bagus udah laku,” tuturnya.

Tak ayal, hanya dalam hitungan jam, dagangannya yang digelar tepat di pinggir jalan itu menyisakan sedikit daging dengan aneka lemak. Ia mengaku, berkah Ramadhan memang tak berhenti hingga ujung bulan hitungan hijriyah itu, hingga beberapa jam menuju bulan Syawal, guliran berkahnya masih dirasakan. 

Soal berkah Ramadhan ini membawa ingatan saya saat mengobrol dengan tetangga rumah beberapa hari lalu. “Sedih rasanya Ramadhan cepat lewat ya. Kayaknya saya belum sempat ibadah macam-macam, eh udah mau masuk ke Syawal. Ya udah deh, sekarang saya berpikir aja, berarti Ramadhan tahun depan harus lebih bagus lagi. Kalau ada umur, mesti dipersiapkan selama 11 bulan ke depan nih,” ujarnya dengan mimik santai kepada saya. 

Atas jawaban itu, saya tak balik berkomentar. Bathin saya, hebat betul tetangga saya ini, belum juga lepas Ramadhan 1438 Hijriyah diumumkan secara resmi berakhir, ia sudah merindukan kembali bertemu Ramadhan 1439 Hijriyah tahun berikutnya. Inikah yang disebut sebagai orang yang merindukan Ramadhan? 

Wallahu ‘alam. Taqabalallahu minna wa minkum. 

(Ampera 2017/1438H)

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s