Dibalik Syahadat Alung

 
Kali ini pak Profesor tafsir tetangga saya itu menukil ayat Al-Quran yang menyinggung perihal apa yang akan dipertanggungjawabkan setiap insan pada hari perhitungan kelak. Pada obrolan selepas shubuh Selasa (20/6) di Masjid Baitul Makmur, meski jamaahnya semakin maju (dalam arti harfiah) hingga menyisakan tiga shaf, toh antusiasme para jamaah terlihat masih tinggi untuk mendengarkan apa yang disampaikan pak Profesor itu. 

“Baiklah, kita meneruskan pada ayat berikutnya,” sebut Profesor yang di era pemerintahan sebelum ini, pernah menjabat sebagai wakil menteri itu. Sedetik kemudian, melantunlah ayat berikut: 

{ يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [النور: 24]

Artinya: “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS; An-Nur 24)

Selepas melantunkan ayat suci berikut artinya, sang Profesor menjelaskan: Apapun yang diperbuat kita kini, nantinya akan ditanyai kegunaan dan apa yang dilakukan. Tak terkecuali perkara lidah yang dalam tafisrannya menjurus pada ,”Apa yang selama ini kita sebutkan dan bicarakan, nantinya akan dimintai pertanggungjawaban pada hari akhir,” jelasnya.

Perkataannya itu tiba-tiba membawa saya pada peristiwa tiga hari silam (Sabtu, 17/6), ketika berkunjung ke Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Selepas ashar, saat berbincang dengan Ridwan, muallaf yang sedang ber i’tikaf di Masjid itu, kami berdua dipanggil masuk kembali ke Masjid yang berdiri di antara deretan rumah toko (ruko) ini. 

“Ada yang mau mengucapkan syahadat, ayo masuk jadi saksi,” ujar lelaki berpeci yang kemudian memimpin ritual pembacaan syahadat (prosesi menyatakan diri memeluk agama islam) itu. 

“Ini saudara kita, Alung, warga jalan Lautze, mau masuk islam dengan mengucapkan syahadat. Mohon bapak-bapak bisa menjadi saksi,” sebutnya lagi.

Di Masjid Lautze bukan hal baru ada warga keturunan Tionghoa yang memeluk agama islam. Saat memasuki masjid ini, tepat di sebelah kiri pintu masuk, terpampang data statistik sejak tahun 1991-2016 sedikitnya ada lebih dari 700 orang mengikrarkan diri pindah keyakinan ke islam. Hingga Mei 2017 paling tidak sudah 41 muallaf terdaftar di sana.

“Kebanyakan justru bukan dari daerah sini (Sawah Besar) tetapi ada yang dari Tangerang, Sunter (Jakarta Utara) dan lain-lain,” jelas Ridwan.

Bagi saya, ini menjadi sesuatu yang baru. Selama ini saya tak pernah menyaksikan langsung warga keturunan etnis Tionghoa, mengucapkan syahadat. Inilah kali pertama melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri. 

Maka setelah menyatakan ikut dalam prosesi tersebut, segera saya meluncur ke dalam masjid. Setelah didahului serangkaian nasihat yang dilontarkan bapak tua yang mengajak saya tadi tentang akan siapapun yang menyatakan pindah keyakinan, haruslah secara ikhlas dan tanpa paksaan dari segala hal selain dari keinginan atas ridha Ilahi, tepat pukul 16.20 WIB tibalah Alung mengucapkan syahadat itu.

   
 

“Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Alloh, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh),” kata Alung yang harus mengulang sebanyak dua kali karena grogi. 

Sungguh saya menjadi takjub. Selarik kalimat yang meluncur dari mulutnya itu kemudian mengubah segala keyakinan yang selama ini dianutnya. Omongan singkat seperti itu kemudian menjadi ‘hukum’ yang mengikat segala sendi kehidupan Alung.

Ia yang oleh agama sebelumnya boleh menyantap apa saja, lantaran ikrar yang tak sampai tiga menit itu, kemudian memberikan batasan untuk tidak lagi memakan segala hewan yang dilarang dalam Al-Quran. Pun demikian dengan aneka minuman. Agama yang dianut sebelumnya tak mengatur perihal alkohol, tetapi setelah ikrar itu ia pun kemudian dilarang menyentuhnya.

Padahal hanya dengan mengucapkan kalimat bisa mengubah segala yang tadinya dibolehkan menjadi yang diharamkan. Begitupun sebaliknya, dari sesuatu yang diharamkan bisa berbalik menjadi dihalalkan.

“Dalam hal pernikahan misalnya. Menjadi sah bila calon mempelai pria mengucapkan kalimat penerimaan,” kata H. Abdul Chair, suatu masa kepada saya. 

Ia menyebut, manakala orang tua putri (atau wali nikah) mengucapkan ‘Saya nikahkan fulan bin fulan dengan putri saya fulani binti fulani dengan mas kawin …dibayar tunai’ kemudian mempelai lelaki menjawab: ‘saya terima nikahnya fulani binti fulani dengan mas kawin berupa..dibayar tunai’ , detik itu juga hubungan antara mempelai pria dan mempelai perempuan menjadi sah.

“Kalau tanpa mengucapkan kalimat itu dan tanpa disaksikan serta mas kawin bisa tidak sah. Hubungan antara mempelai pria dan mempelai perempuan menjadi tidak halal,” katanya lagi. 

Pahamlah saya kini, ketika berucap berkata-kata ataupun melakukan serangkaian perbincangan, selalu mempunyai konsekuensi tertentu yang mengikat pada diri sendiri. Pantaslah kiranya, bila ada rekan saya yang pernah mengirimi nasihat perihal kata-kata dan kalimat yang kita ucapkan atau tuliskan mempunyai konsekuensi terhadap runtuhnya keyakinan ataupun meningkatnya keyakinan. “Makanya, hati-hati kalau kita berkata-kata, bisa-bisa secara tidak sadar kita malah menjerumuskan diri sendiri,” terang rekan saya itu.

Syahadat Alung seperti memberi pencerahan bagi saya, bahwa kalimat yang meluncur dari lidah ini merupakan cerminan apa yang ada dalam hati. Dan itu, “harus dipertanggungjawabkan pada hari akhir nanti,” jelas pak Profesor menutup tausiyah pagi itu.

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s