Menanti Malam Mulia di Masjid Lautze

  
Sebagai muslim sejak lahir, bagi saya menjadi momen Ramadhan selalu menyenangkan. Puasa sebulan penuh, dengan aneka hidangan ketika berbuka puasa. Biasanya, sembari menunggu berbuka, saya pilih aktivitas yang mengasyikkan untuk mencapai waktu maghrib.
Sore itu, saya memutuskan untuk menggenjot sepeda yang sudah lama mangkrak sembari mencari tahu di mana Masjid Lautze berada. Maklum, lama mendengar masjid yang didirikan oleh Karim Oei, di Sawah Besar, tetapi belum pernah melihatnya secara langsung. Setelah memompa ban yang kempis keduanya, pukul 14.00 kayuhan dimulai dari Ampera, Cilandak, Jakarta Selatan. 

Singkat cerita, satu jam kemudian, saya tiba di lokasi tersebut. Ketika memasuki masjid, terlihat sosok lelaki muda berwajah oriental dengan peci putih duduk tepat di depan pintu masuk masjid. 

“Silakan, sepatunya bisa tinggal di luar. Sepedanya ditaro di depan aja. Saya jagain di sini,” sebutnya ramah. Dari dalam terdengar imam baru saja menyelesaikan shalat ashar. Pikir saya, sayang, para jamaah yang kebanyakan keturunan etnis Tionghoa, baru saja menyelesaikan shalat ashar. Alhasil, saya pun menunaikan dengan jamaah lain yang tertinggal.

Lepas menunaikan kewajiban, saya kemudian kembali menju keluar. Sosok lelaki berwajah oriental itu, tak lama kemudian juga keluar. 

“Assalamualaikum,” sapanya kepada saya.

“Waalaikum sallam,” jawab saya. 

Obrolan ringan berlanjut. Kami salaing memperkenalkan diri, hingga kemudian, saya bertanya, apakah ia merupakan salahsatu pengurus Masjid Lautze. Maklum, rasa penasaran selalu muncul ketika saya masuk di tempat atau sitausi baru.

“Saya jamaah aja, lagi i’tikaf di sini,” sebut lelaki yang memperkenalkan diri bernama Naga. “Sudah 12 kali saya i’tikaf di Masjid ini,” kata Naga kepada saya, Sabtu sore (17/6) di pelataran Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

“Dua belas kali?” tanya saya. “Berarti sudah 12 tahun ya,” imbuh saya takjub.

Kelahiran Mangga Besar, Jakarta Pusat, 40 tahun lalu ini, memang bukan muslim ‘warisan’. Tahun 2002, Naga yang mengambil dari nama Tionghoa-Nya (Liong), memutuskan untuk hijrah keyakinan yang dilakukannya di Masjid Lautze. Masjid yang didirikan oleh Haji Karim Oei dan diresmikan kembali oleh B.J. Habibie tahun 1994 (saat itu masih menjadi ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), memang banyak dijadikan rujukan para keturunan Tionghoa untuk menyatakan syahadat di sana menjadi muallaf (pemeluk islam).

“Setelah pencarian saya, ketika itu saya bekerja di Sunter, Jakarta Utara, terus saya memutuskan untuk masuk islam di masjid ini tahun 2002,” paparnya lagi.

Sejak itu, ia terus belajar bagaimana menjadi muslim sesungguhnya. Perlahan-lahan mempelajari bagaimana islam mengatur segala sendi kehidupanya dari kajian yang diadakan saban Ahad di masjid itu. Lelaki yang besar di Cengkareng, Jakarta Barat itu kemudian memasuki jalan berliku. Seperti halnya cerita para muallaf, tak semua keluarga besar menerima keyakinan baru yang dianutnya. 

Tak surut dengan kondisi, Naga istiqomah menjalani seluruh aktivitas menjadi muslim, salah satunya ia konsisten untuk mengejar malam Lailatul Qadar yang dijanjikan Alloh SWT lebih baik dari 1000 bulan.

“Kalau 10 terakhir gini, emang tidak pulang ke Pasar Kemis, Tangerang (tempat tinggalnya). Saya i’tikaf aja di sini (Masjid Lautze),” ujarnya lagi.
  
Perkataan itu mengingatkan saya akan janji Alloh SWT perihal malam mulia itu
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala usrusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar” [Al-Qadar : 1-5]

Tak ayal, sebagai mulim, Naga pun berusaha untuk mendapatkan malam itu. Katanya, selain melakukan i’tikaf, ia juga membantu sejumlah aktivitas di masjid itu. Mulai dari bebersih, hingga membantu menyiapkan panganan berbuka puasa seperti yang dilakoni sore itu. Sebentar obrolan terputus, lantaran Naga membantu para ibu yang membawa takjil maupun makanan besar turun dari mobilnya untuk kemudian diatur di lantai 2 masjid ini.

Naga tidak sendiri, di Masjid berkelir meriah (merah dan kuning) dengan lampion menghiasi pelatarannya itu, ada juga muallaf lagi warga keturunan Tionghoa yang melakukan hal serupa. 

“Nama saya Ridwan, tinggal di Cempaka Putih,” ujar lelaki berkacamata yang terlihat sibuk membantu beberapa warga keturunan lain pemeluk islam mempersiapkan buka puasa dan shalat tarawih di sana. “Di Masjid ini setiap Ramadhan ya tarawihnya memang hanya malam minggu, karena kalau malam lain, kebanyakan jamaahnya pada shalat di masjid lain di dekat sini,” tambahnya lagi.

Ridwan memutuskan pindah keyakinan pada tahun 2000, lebih ‘tua’ sedikit ketimbang Naga. Pria berambut lurus ini melanjutkan, mendekati akhir Ramadhan seperti ini, biasanya kegiatan di Masjid Lautze memang lebih aktif dari biasanya. Ia sendiri, selain ber i’tikaf juga membantu untuk penerimaan zakat fitrah.

Ridwan meneruskan, kebanyakan warga keturunan Tionghoa yang memeluk islam tinggalnya jauh dari Masjid Lautze, sehingga mereka tak bisa membayar zakat pada waktu hari kerja.

“Biasanya (muallaf Tionghoa) bayar zakat fitrahnya setelah habis maghrib. Mereka kan kerja dulu, baru malamnya sekalian pulang dari toko, mampir buat bayar zakat. Makanya, sekalian saya bantu-bantu penerimaan zakat, selama i’tikaf di sini,” ujarnya.

Dari bincang-bincang sore itu dengan Ridwan maupun Naga, terdengar keduanya tulus dalam melakukan aktivitas tersebut. Mereka hanya berharap bisa meraih malam yang mulia sambil sedekah tenaga.

Sejenak kemudian, saya berpamitan untuk kembali mengayuh sepeda menuju pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan untuk melakukan buka puasa bersama keluarga. Sembari menggenjot, berseliweran pikiran yang membuat hati ini tak tenang. Pertemuan dengan Naga dan Ridwan seperti sebuah peringatan keras bagi saya yang menjadi muslim sejak lahir.  

“Jika ingin mendapat malam 1000 bulan, bukan di pusat perbelanjaan tempatnya!”

(Masjid Lautze, 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s