Hanya Kepada-Nya

  

Seperti hari-hari sebelumnya, Ahad pagi (4/6) selepas subuh, mantan pejabat negara itu bergegas membuka Al-Quran. Ia memang didaulat sebagai imam sekaligus memberi ceramah singkat bila hadir di masjid Baitul Makmur. Bagi warga, gelar profesor yang mendahului namanya, dirasa pantas untuk memberi tausiyah. Apalagi, ia termasuk ahli tafsir yang dijadikan imam besar di masjid terbesar di Indonesia.

Persis hari-hari lain pula, demi menyimak apa yang disampaikan sang Mantan, ingin rasanya mata ini diganjal dengan biting agar tetap terbuka. Maklum, kebiasaan masa silam, membuat jam tidur tidak beraturan. Lepas tengah malam, baru terlelap sebentar kemudian bangun untuk menunaikan kewajiban. Alhasil, mata ini tak mau diajak kompromi. Orang Jawa bilang: kriyep-kriyep menahan kantuk luar biasa.

Beriring rasa kantuk itu, jemari ini menuruti apa yang disampaikan sang Mantan. Ia menyerukan kepada para jamaah untuk memembuka Al-Quran yang dibawanya. “Kita meneruskan yang kemarin, surah Al-An’am 162-163,” serunya dengan suara sendu. Sejurus kemudian, ia membacakannya dengan perlahan:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)“. (QS. Al-An’am: 162-163).

Meski ia membacakan dengan suara perlahan, arti dalam surah tersebut seperti menyodok ulu hati, seolah menyindir apa yang selama ini sudah dikerjakan: demi apa sembahyangku selama ini? Demi apa ibadahku selama ini? Demi apa hidupku selama ini? dan demi apa matiku nanti?

Meluncurlah ingatan 32 tahun ke belakang manakala Haji Chudori -guru agama semasa sekolah dasar- mengingatkan: “Kalau mau beribadah, niatnya harus benar,” tuturnya kala itu sembari membetulkan letak peci hitamnya. 

Niat itulah yang tampaknya menjadi penjaga segala perbuatan diri ini. Benarkah shalatku selama ini hanya untuk Alloh? benarkah ibadahku ini hanya untuk Alloh? Benarkah hidupku ini selama ini hanya untuk Alloh? Adakah matiku nanti berada di jalan Alloh? Pertanyaan-pertanyaan itu, seperti biting yang mengganjal mata. Sehingga rasa kantuk yang sebelumnya menghantui, tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Ada kalanya niat ini tak sejalan dengan apa yang digariskan dalam Al-Quran. Ada kalanya, niat itu justru bergeser menjauh dari titik yang dituju. 

Belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hati itu, kemudian timbul lagi tanya yang lebih besar ketika sang Mantan berucap: “Sekarang banyak dari kita yang lupa, hidup di dunia ini sebentar saja. Kalau tidak meminta perlindungan Alloh SWT, kepada siapa lagi kita berlindung?”

Dan mata ini semakin terbelalak!
(Ampera, 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s