Namaku Alif

  

Perkenalkan, aku Alif. Tahun ini umurku 4 tahun. Enggak tahu kenapa Abah kasih nama itu. Kalau kata Siti, kakak perempuanku, Alif adalah huruf pertama dalam bahasa Arab. Kata Teh Siti, guru mengajinya selalu mengajarkan Iqro dimulai dengan huruf itu. Aku senang, berarti namaku adalah pemula dari seluruh huruf yang ada.

Tapi, meski namaku Alif yang selalu ditempatkan di awal susunan huruf awal, sesungguhnya aku adalah anak ketiga dari Abah dan Umi. Kakak tertua ku sekarang sudah bekerja setelah ia lulus sekolah menengah kejuruan. Aku enggak tahu di mana kakakku itu bekerja, tetapi aku senang karena ia selalu membelikan aku permen.

Oh ya, aku tinggal di Desa Cangkuang, Garut. Abahku bekerja sebagai pendayung perahu di Situ Cangkuang. Aku senang hampir setiap hari ikut menemai Abah bekerja, karena aku bisa bermain-main di atas perahu bambu yang didayungnya. Kalau hari libur, biasanya perahu Abah penuh dengan penumpang yang ingin menyebrang untuk melihat Candi Cangkuang yang ada di tengah Pulau Situ Cangkuang dan Makam Arif Muhammad yang ada di pulau itu.

Adanya Candi dan makam itu sendiri aku tidak tahu. Kata Abah, didirikan sejak abad ke VIII masehi. Abah bilang itu tempat sembahyang orang yang beragama Hindu. Ditemukan pertama kali tahun 1966 kemudian dibetulin lagi sama pemerintah tahun 1974-9175. Sedangkan makam Arief Muhammad adalah makam yang dibangun pada abad ke XVII. Arief Muhammad menurut penuturan Abah yang mendapat cerita dari petugas penjaga situs ini, merupakan salahsatu tokoh penyebar Islam di daerah Cangkuang. Sampai sekarang, anak keturunannya masih tinggal di Kampung Pulo Yang berada di tengah pulau itu. Waktu menyebarkan agama Islam, Arif Muhammad mempunyai anak 7 orang: 6 perempuan dan 1 laki-laki. Sekarang peninggalannya masih ada di sana.

  
Semua cerita itu aku tak terlalu perhatikan. Sebab, buatku lebih asyik berlari-larian di atas perahu Abah dan sesekali duduk di pojok untuk mencemplungkan kaki ke dalam air. Semua menyenangkan, apalagi udara di Cangkuang terasa dingin meski sudah siang. Jadi saat menceburkan kaki ke air, rasanya seperti tersiram air es.

Sore tadi, salahsatu penumpang perahu Abah ada yang terus memperhatikan aku dan teteh Siti. Bapak itu kemudian mengeluarkan kamera dari tas hijaunya. Tak berapa lama, ia sudah memotret aku dengan kakakku. Sebentar-sebentar, ia tersenyum dan kemudian kembali memotretku. Aku senang, aku terus tertawa-tawa karena selama ini tak ada yang memotretku. Begitu juga kakakku ini. Melihat itu, Abah hanya tersenyum-senyum saja. Sampai tiba di ujung Pulau, bapak itu mendekati aku sambil bertanya: “Nama kamu siapa?”

Aku pun menjawab: “Aku Alif, umurku 4 tahun!”

(Cangkuang, 2017)

*Pengakuan Imaginer oleh Rizka S.Aji)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s