Kerja Nyata si A

 

 Gerak lelaki kelahiran 1956 ini terlihat masih cekatan menata tumpukan kacang rebus dagangannya. Sesekali, jari-jari keriput lelaki berinisial ‘A’ itu membenahi songkok hitam yang menutupi kepala kakek bercucu 6 ini.

“Tahun 1990 saya mulai jualan kacang rebus. Sebelumnya sempat juga jualan mainan,” ujar lelaki yang hanya mau menyebut namanya dengan Ahmad, kepanjangan dari inisial yang saya sematkan padanya.

Pria asal Cirebon, Jawa Barat ini memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. Ketika memutuskan untuk meluncur ke kota yang kini riuh setlah pemilihan kepala daerahnya, tekadnya hanya satu: mendapat banyak uang. Persis kaum urban lain, Ahmad harus bersaing dengan puluhan bahkan jutaan orang untuk menjadi warga metropolitan papan atas. Sebuah impian yang tak mudah dicapai.  

Maklum, ia tak mempunyai bekal pendidikan yang cukup. “Saya mah kelas 1 SMP udah berenti sekolah. Karena orang tua enggak mampu buat bayaran sekolah, jadi enggak boleh nerusin sekolah,” paparnya.

Ia bercerita, ketika itu, bayaran sekolah Rp50 per bulan. Berhubung orang tuanya hanyalah buruh tani, jangankan untuk sekolah, sekadar memenuhi kebutuhan dasar seperti makan saja, kadang tak mencukupi.

“Orang tua saya kan anaknya sepuluh. Saya anak kedua,” tuturnya lagi.

Maka, setelah bekerja serabutan di desa, ia memutuskan untuk pergi mencari peruntungan di Ibukota. Berhubung ia tak punya keahlian lain, maka ia memutuskan untuk menjadi kuli bangunan. Tahun 1975, ia masuk Ibukota, menekuni kerja bangunan hingga akhirnya di tahun 1990 ia merasa letih dan memutuskan untuk berganti profesi menjadi penjual segala barang.

“Akhirnya saya mulai jualan kacang rebus. Dulu masih enak, banyak yang nonton layar tancep. Jadi bisa banyak jualan juga sih. Sekrang mah layar tancep udah enggak ada. Kalau ada juga enggak ada yang nonton. Paling tukang film sama tukang layarnya aja yang nonton..hehehe.”

Walau begitu, ia mengaku tak terlalu kesulitan untuk menjual 10 kilogram kacang rebus yang dibawanya dengan gerobak. Ia yakin, rejekinya dari berjualan kacang bisa mencukupi hidupnya. 

“Alhamdulillah kadang habis kadang enggak juga. Kalau habis semua ini bisa dapet Rp200.000, Tapi sering juga cuma Rp50.000,” tuturnya. Dari hasil jualannya itu, ia bisa menghidupi ketiga anaknya yang kini sudah berumah tangga dan bekerja di kampung halamannya. Ia bilang ketiga anaknya itu kini juga mengikuti jejak sang ayah sebagai pedagang makanan keliling. Ada yang menjajakan bubur ayam, ada juga yang sekadar berjualan aneka mainan. 

Ia menceritakan, saban hari, ia memulai aktifitasnya selepas shalat isya di salahsatu masjid di Kemang Raya. Ahmad yang tinggal di daerah Petogogan, Jakarta Selatan ini mengaku berkelling hingga kawasan Cawang dengan gerobaknya hingga mendekati waktu shubuh. 

“Sebelumnya saya belanja kacang dulu, setelah itu shalat subuh di masjid dekat rumah, terus tidur. Nanti bangun lagi jam 10-an siang, terus masak. Habis shalat ashar, istirahat sebentar buat siap-siap keliling lagi,” ungkapnya bersemangat. 

Ahmad mengaku, hasil jualan kacangnya selama ini dirasanya sudah mencukupi kebutuhan hidup yang dilakoninya. Apalagi ia bilang sekarang ia tak bisa lagi terlalu jauh berkeliling untuk menjajakan dagangannya itu. “Maklum udah tua, dapat berpa aja yang penting disyukuri aja,” sebutnya lagi.

Di usia senjanya, ia masih terus bekerja dan beribadah sesuai kodratnya sebagai manusia. Lalu kita?

(Ampera, 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s