Mati Tujuh Kali

  

Teman saya itu terkekeh-kekeh manakala saya suguhi Baronang bakar bumbu kecap malam tadi. Entah apa yang dianggapanya lucu, buat saya, ikan bakar yang tersaji di meja ‘restoran’ kaki lima di jalan Fatmawati, Jakarta Selatan itu tak ada yang patut ditertawakan. Secara tampilan biasa saja sebagaimana lazimnya ikan bakar: berwarna sedikit kehitam-hitaman, dengan saputan bumbu kuning kombinasi kecap. Lantas apa yang lucu dengan itu?

“Kok ketawa?” tanya saya padanya.

“Enggak apa, ikannya kasihan,” jawabnya seenaknya.

“Kasihan?”

“Iya kasihan. Ikan ini udah bolak-balik mati. Kalau istilah kami, ikan ini sudah mati tujuh kali,” ujarnya terkekeh.

“Maksudnya?”

“Udah kita makan dulu, gua udah laper nih,” ajaknya.

Apa boleh buat, seperti kata-kata bijak: Logika ditentukan logistik. Nah, demi bisa berpikir jernih, baiklah amunisi dalam perut perlu diisi. Pikir saya, kalau sudah kenyang nanti, bisa lebih jernih berpikir dan mendapat jawaban, apa itu maksud ‘mati tujuh kali’

Seperti biasa urusan ikan bakar tak sampai seperempat jam sudah tandas tak bersisa. Kepala Baronang itu sudah tak lagi terbelah-belah. Pun demikian dengan daging ikan yang tandas licin sehingga kucing di bawah meja yang menanti tampak kecewa: berharap ada sisa tapi hanya ada tulangnya.

“Jadi apa maksudnya ‘mati tujuh kali’?” tanya saya penasaran.

“Hahah masih penasaran ya. Jadi gini, itu ikan kan adanya di laut. Nah untuk mendapatkannya harus ke tengah laut. Setelah dijala, kemudian ikan itu dimasukkan dalam lemari pendingin. Bisa dibayangin kan, setelah itu berpindah lagi ke tempat penyimpanan lain, begitu seterusnya sampai ke pedagang seafood di sini aja, masuk ke kotak pendingin. Kita bilangnya: orang darat makan ikan yang sudah mati tujuh kali,” jelasnya.

Atas penjabaran itu, mengertilah saya akan maksudnya. Maklum, rekan saya itu memang asli dari pesisir. Ia lahir dan besar di kawasan Indonesia timur yang kebutuhan hariannya tak lepas dari dunia kelautan. Tak mengherankan pula kalau ikan yang selama ini saya anggap segar, buatnya sudah tak lagi baru.

Sudah saatnya saya mesti makan ikan yang baru mati sekali. Plesiran ke pulau?

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s