Sudah Cukup

foto: 1/125 sec f5.0 ISO100 ©rizka2017

Beberapa hari lalu, terbacalah status rekan saya di akun media sosial miliknya. Bukan soal ribut-ribut pilkada yang menjemukan itu. Bukan pula perkara makanan apa yang baru saja disantapnya. Sedikit berpanjang lebar, dengan kutipan Al-Quran yang menghiasi beberapa paragraf isi, rekan saya itu mengupas perihal rezeki sehingga saya tertarik hingga tuntas membacanya. Apapula isi pembahasannya?
Menuliskan kembali di sini, saya khawatir terlalu panjang. Intinya: rekan saya itu mengutip pernyataan temannya bahwa saban orang sudah dilengkapi dan diberi rezeki sebagaimana ketentuan Sang Pencipta. Ada kutipannya yang saya tulis ulang sebagai berikut:

“Mau kerja siang malam, jungkir balik kayak apa, ya rezeki kita sudah ditentukan seperti itu. Jadi buat apa lantas mengorbankan hal lain yang lebih pokok untuk kehidupan nanti? Kalau kita sebagai muslim, ya taat beribadah sesuai ketentuan syariat. Karena harta di dunia tak akan dibawa mati.” Begitu saya mengutip ulang meski tak persis benar.

Lantas, karenanya rekan saya itu lebih memilih bekerja maksimal dengan orientasi utama untuk ibadah. Maksudnya, ia memilih bekerja yang tak mengganggu ibadahnya. Misal, saat shalat tiba, ia bisa menunaikan tepat waktu, baik itu shubuh, dhuhur, ashar, maghrib dan juga isya. Lalu, manakala memasuki waktu shalat jumat, ia bisa datang lebih cepat menuju masjid sebagaimana tuntunan yang didapatnya. Atas pilihannya itu: “Saya merasa lebih berbagia, karena rezeki yang didapat bukan cuma berupa uang, tapi rasa bahagia bisa melaksanakan segala kewajiban dunia dan akhirat. Kita bisa hidup secukupnya,” ujarnya.

Secukupnya? Yup, pernyataan itu bagi saya, menimbulkan pertanyaan baru: kapan saya merasa cukup? Itu yang sulit dijawab hingga saya berjumpa dengan Pak Tua penjaja kacang rebus pagi tadi. Sayang, saya tak sempat menanyakan siapa nama bapak ini. Ia hanya bercerita, sejak tahun 1980-an ia sudah menjajakn kacang rebus di wilayah pantai Anyer, Jawa Barat. Ia berkisah, kala itu, lokasi yang kini dipadati hotel-hotel megah itu masih berupa kebun kelapa. 

“Sepi, paling-paling hanya penduduk sini aja,” katanya.

Si bapak tua menceritakan, hasil jualan kacang bisa dinikmati bersama ia dan anak-anaknya. Saban hari, ia berkeliling untuk sekadar mendapat kelebihan Rp5,000- Rp10.000 per kilogram dari yang dibawanya. Berbekal pikulan anyaman bambu, ia mengaku hanya mampu membawa tak lebihd ari 10 kilogram. Kalaupun habis dan beruntung, ia bisa mendapat Rp50.000-Rp100.000. “Tapi itu enggak setiap hari abis sih..tapi lumayanlah cukup buat makan dan bisa nabung sedikit-sedikit,” tambahnya.

Soal rasa cukup itulah yang kemudian mencetuskan kembali ingatan saya terhadap status di akun media sosial teman saya itu. Utamanya perihal rezeki yang didapat setiap saat. Adakah saya merasa cukup terhadap apa yang didapat? Perkara ini tampaknya tak mudah dilakukan. Meski pada kenyataannya bukan sesuatu yang mustahil karena Pak Tua penjual kacang toh bisa melakukan semuanya dengan perasaan cukup selama lebih dari dari 30 tahun ini. Iya kan?

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s