Saji Rela Berbagi

Ia rela memberi untuk orang lain. Foto @sirizka, 1/13 f/3.5 ISO3200

“Saya Saji, asal Palimanan, Cirebon,” jawabnya ketika saya menanyakan siapa namanya. Seperti malam-malam sebelumnya, Saji bersama Ahmad, anaknya, menggelar dagangannya berupa ketoprak di depan jalan Ampera II, Ragunan, Jakarta.

Lelaki berusia 60 tahun ini mengaku sudah malang melintang di dunia makanan siap santap tradisional itu. Persis restoran siap saji berbendera asing yang menggurita di Indonesia, Ketoprak bisa jadi adalah makanan siap santap yang juga tersebar hampir di seantero negeri.

Bedanya, urusan rasa dan penyajian berbeda-beda. Misalnya ketoprak Bang Mamat di daerah Senopati, Jakarta yang bumbu kacangnya tak diulek dengan halus. Jadi ketika menyantapnya, terkadang butiran kacang tanahnya masih terasa digigit. Lain halnya dengan ketoprak Ciragil, yang juga tak jauh dari kawasan Senopati. Bumbu kacangnya diulek dengan halus sehingga lebih menyerupai saus. Konon untuk menambah rasa gurih, ada pula campuran kacang mede-nya. Lalu, untuk topping, diberi potongan telur rebus. Atas inisiatif ini, harga seporsinya bisa dua kali lipat dari versi lainnya.

Akan halnya ketoprak Pak Saji, persis seperti apa yang dijajakan ketoprak Ciragil. Bumbu kacang terasa halus, dengan sedikit terasa aroma bawang putihnya. Untuk topping dan pelengkap, Pak Saji tak menyajikan telur rebus maupun telur goreng. Cukup rebusan tauge, dengan sejumput bihun dan ditaburi dengan kerupuk merah. Harganya? Rp15.000 seporsi.

Sajian boleh berbeda, tetapi ketiganya punya satu kesamaan: mereka bukan orang baru di jagad industri makanan tradisional siap saji. Ketoprak Ciragil saya menaksir sudah lebih dari 20 tahun berdagang. Pun demikian dengan Bang Mamat di Senopati yang sudah melewati dua dekade. Akan halnya Pak Saji, “saya sudah 30 tahun lebih jualan ketoprak,” sebutnya.

Ia menceritakan, awal berdagang ketoprak jalan Ampera Raya masih jauh dari keramaian. Setelah lelah berdagang mainan hingga ke Sulawesi, Saji memutuskan untuk menetap di Jakarta. Perhentian pertama ada di Rawamangun, Jakarta Timur. Di sana ia berjualan aneka makanan ringan hingga akhirnya memutuskan untuk berdagang ketoprak yang didapat dari hasil coba-coba.

“Di sana terus banyak yang dagang juga, ya udah saya cari tempat lain eh ada di Gang Kancil (Ampera). Sempat pindah ke tempat lain, tapi balik lagi ke sini,” ujarnya.

Saji menceritakan, kerap kali ia menemui pelanggan yang bertingkah. Paling sering, mereka makan tapi tak membayar apa yang sudah dimakannya.

“Biasanya ada aja sihyang bilangnya mau utang dulu, karena belum dapat bayaran. Tapi abis itu enggak bayar tapi kabur gitu aja. Saya mah biarin aja, kasian juga mereka mungkin kelaperan tapi enggak punya uang,” tuturnya dengan logat Sunda yang terasa kental.

Lain waktu, ada juga yang terlihat perlente, tetapi tak mau bayar ketoprak yang sudah dimakannya. Ketika ia menagih, orang itu malah marah-marah. Tetapi, selang dua hari kemudian, justru lelaki perlente itu yang kembali untuk membayar semua yang sudah dimakannya.

“Katanya itu orang sakit perut dua hari, makanya dia bayar. Abis bayar besoknya balik enggak sakit lagi. Dia minta maaf,” kekeh Saji.

Meski begitu, ia mengaku ikhlas saja bila ada orang yang makan tetapi kemudian mengaku tidak mampu bayar. Sepanjang orang itu terlihat memang tak punya uang, bagi Saji ia rela memberi. “Kasihan soalnya,” kata Saji.

Tentu saja, pola yang sama tidak akan bisa didapatkan orang tak berpunya di restoran siap saji berskala international. Sebab, mereka bukanlah Saji yang rela untuk berbagi.

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s