Dunia Sepeda Chris Indra

Purnakarya bukan berhenti berkarya. @sirizka 1/3 sec f3.5 ISO200

Perawakannya kecil, tapi soal semangat berbanding terbalik dengan sosoknya itu. Apalagi kalau membicarakan perihal sepeda, ia bakal menggebu-gebu menceritakan kesukaannya itu.  

“Kalau mau memulai bersepeda, mulai aja dari yang sederhana dulu. Misalnya mau pergi ke warung dari rumah, coba pakai sepeda. Konsisten aja, sampai nanti bertahap pakai yang bagusan,” sebutnya. 

Chris Indra, begitu saya memanggilnya. Kenal pertama kali saat bersama-sama bertugas di Gramedia Majalah. Ia fotografer kawakan, sementara saya adalah jurnalis mula. Kala itu, saya tak paham benar akan kesukaan pria berkacamata ini. Yang jelas, saban ada liputan yang membutuhkan foto-foto, ia salah satu yang menyuplai kebutuhan itu. 

“Gua awalnya masuk majalah Hai, itu 30 tahun lalu,” sergah Chris saat saya berkunjung ke rumah sekaligus bengkel sepedanya di kawasan Cilobak, Cinere itu. 

Lelaki kelahiran 1961 ini menceritakan, sebelum orang ramai membicarakan sepeda, ia mengaku kerapkali bersepeda pergi pulang ke kantor di Palmerah, Jakarta Barat. Ketika itu, bersepeda belumlah ramai seperti sekarang. 

“Kalau sekarang gua selalu bersepeda ke mana-mana,” ujarnya seraya meneyebut, ia baru saja menggelar lapan dagangannya yang berisi aneka barang sepeda di area Car Free Day, Jalan Sudirman Jakarta. 

Dagang? Yup, Chris Indra memang sekarang lebih gemar menekuni dunia sepeda. Soal memotret yang menjadi profesinya masa lalu, sudah jarang dilakoni. Ia mengaku saat ini semakin hari disibukkan dengan urusan sepeda. Mulai memperbaiki, hingga mempelajari cara pembuatan sepeda. 

“Elu mau buat sepeda? Sekarang bisa gw buat custom (merakit sendiri) sesuai kebutuhan dan ukuran badan. Jadi gue sekarang bikin frame, yang diukur dari badan customer. Bahannnya Chrommoly atau pipa baja,” paparnya lagi.

Dalam pembuatan ini, ia mematok tarif sekirat Rp5 juta per frame custom. Ia mengibaratkan dirinya adalah ‘tukang jahit’ sebagaimana layaknya para penjahit khusus di daerah Pasar Baru. 

“Jadi gue ukur sesuai tubuh pemesan. Pengerjaan total sekitar 3 bulan deh,” ujarnya sembari menyeruput teh manis hangat yang menjadi kebiasaannya setelah bersepeda. 

Perihal dagangan sepeda customnya itu tampak beberapa yang berderet di garasi sekaligus bengkelnya itu. Ada yang sudah dilengkapi dengan gear full set, ada juga yang masih polos hanya rangka semata. Ia bilang, sebenernya untuk membuat sepeda, bisa dengan budget yang sangat minim. Dalam hitungan Rp 1 juta rupiah, siapa saja bisa merasakan bersepeda. 

“Tapi untuk sehari-hari dengan jalur biasa aja. Yang penting biar suka dulu, baru nanti setelah senang ditingkatin lagi,” tambahnya lagi. 

Dari obrolan singkat di bengelnya itu pada Ahad (27/3) lalu, ia memang seperti sudah jatuh cinta pada alat transportasi yang kali pertama dipopulerkan di Manheim tahun 1817 itu. Sebelum memutuskan untuk pensiun dari Gramedia Majalah tahun 2014 lalu, memang kerap kali saya menjumpai Chris Indra di Pasar Kebayoran Lama, sedang mengayuh sepedanya itu. Saya berselancar dengan Honda Vario, ia asyik menggenjot dengan sepeda yang entah mereknya apa. 

Ketika saya tanyakan dulu, ia menjelaskan kalau dirinya lebih memilih bersepeda karena lebih ramah lingkungan. Baginya, bersepda merupakan bentuk apresiasi untuk menjaga lingkungan terlepas dari polusi udara. Atas kesadaran itupula, ayah dua anak ini akan terus bersepeda kemanapun ia bepergian. 

Bagi Chris Indra, sepeda adalah dunianya….

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s