Perkara Rasa Malu

 

foto:@sirizka 1/80sec f/5.6 ISO1250
 
Terdengar obrolan dalam kereta commuter line. Serombongan pekerja, berbaju necis bersenda gurau menertawakan nasib mereka masing-masing. Saya menakar, mereka adalah pekerja yang tinggal di kawasan pinggir Jakarta. Pemuda berkemeja cokelat dengan celana pantalon dan bersepatu kulit membuka suara. 

 

“Gue enggak enak deh, kemaren diminta jadi imam shalat di masjid, gw tolak aja. Kan malu bacaan gue belom bener,” ujarnya kepada kedua rekannya yang bersetelan sama. Kedua rekannya hanya tersenyum. Sedetik kemudian, pemuda satunya yang memakai setelan berkelir marun menyambar.

 

“Iya, jangan sok-sokan jadi imam, nanti malah enggak bener lagi,” tuturnya setengah berteriak demi menutupi suara ‘gejlukan’ yang muncul dari kereta itu.

 

Obrolan yang saya dengar beberapa bulan lalu, ketika menggunakan kereta komuter untuk mengunjungi Jasinga, Bogor itu kembali muncul dalam ingatan pagi tadi. Bukan perkara setelan lelaki, bukan pula lantaran naik kereta kini lebih terasa nyaman, tetapi perihal percakapan ringan pemuda itu.

 

Adalah Dr. Amir Faishol Fath, MA, yang mengungkapkan, rasa malu memang penting untuk diterapkan pada setiap manusia. Pasalnya atas dasar rasa malu itulah yan seharusnya bisa menjaga manusia dari kehancuran.

 

“Rasa malu itulah yang bisa menjaga kita dari kehancuran. Misalnya, malu kalau kita menerima suap, malu kalau kita berbuat maksiat, dan malu kita bila membuat orang lain celaka,” tuturnya.

 

Dalam islam, ia menjelaskan, rasa malu terhadap Allah SWT karena tak menuruti perintahNya juga menjaga umat muslim dari kehancuran di dunia maupun di akhirat kelak. Sebab, dalam islam itu tak bisa dipisahkan antara ibadah dengan perbuatan. Meskipun ibadahnya itu baik, “Shalat malam tidak putus, puasa sunnah tak ketinggalan, tapi tanpa perbuatan dan sikap yang sejalan dengan nilai-nilai islam itu menjadi percuma. Makanya, kalau seorang muslim tidak malu terhadap perilaku yang melanggar ajaran islam, itu tidak dibenarkan,” tambahnya lagi.

 

Namun begitu, bila menyangkut urusan untuk penegakan ajaran islam sebagaimana harusnya, Dr. Amir melanjutkan, justru sebaliknya. Sebagai muslim, tidak boleh mengedepankan rasa malu. “Untuk kebaikan, justru rasa malu itu tidak tepat dipergunakan. Misalnya mengajak orang untuk melakukan pengajian. Mengajak sesama muslim untuk beribadah dan taat terhadap Allah SWT, jangan takut dan jangan malu,” tambahnhya lagi.

 

Sayangnya kini masih banyak orang muslim yang justru merasa malu untuk hal-hal ini. Dr. Amir menceritakan, pada suatu ketika ia pernah mendapati lelaki tua yang tak mau diajak untuk belajar membaca Al-Quran. “Katanya, malu saya pak ustadz, kalau saya belajar nanti bareng dengan anak-anak muda, saya paling tua sendiri,” kata Amir menirukan ucapan bapak tua tokoh yang diceritakannya itu.

 

Atas omongan itu, Amir menjawab, jika saja rasa malu itu ditiadakan, justru membawa kebaikan bagi orang tersebut. “Mana tahu ketika lagi belajar membaca Al-Quran, ia meninggal. Kan itu artinya kita meninggal dalam kebaikan, insya Allah husnul kohtimah,” ujarnya.

 

Penjelasan yang tak perlu membuat saya mengernyitkan dahi. Soal rasa malu itu, tampaknya memang punya khasiat besar. Padahal dalam keseharian, saya pun masih terkadang membawa rasa malu itu pada posisi yang tidak tepat sehingga ketika hendak melakukan sesuatu hal yang menurut penilaian saya sesuai kaidah islam yang saya anut, ada saja rasa malu kalau nanti dianggap sombong atau riya. Persis obrolan para pemuda di gerbong itu. 

Mestinya tak begitu kan?

(Ampera 2017)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s