Ketiba Waktunya Tiba

  

Lagu dibuka dengan gebukan drum Charlie Watts. Sedetik kemudian giliran Keith Richards memetik gitarnya. “Time Waits For No One” lagu yang tercipta di tahun 1974 itu, kemudian meluncur secara perlahan: ada aroma jazz yang didendangkan, mengiringi nyanyian Mick Jagger, sang vokalis grup musik asal Inggris, The Rolling Stones. Bait demi bait, Jagger menyanyikan lagu itu. Tiba giliran refrain, liriknya didendangkan secara mantap. “…And time waits for no one, and it won’t wait for me”.

Malam ini, lagu yang diklaim sebagai racikan Jagger dan Richards (ada yang bilang juga pengaruh dari Michael Kevin “Mick” Taylor yang bergabung tahun 1969-1974 di Rolling Stones) sengaja saya putar berkali-kali. Sembari menikmati petikan Keith Richards, saya pun menakar, apa sebenarnya makna syair dalam lagu itu? Setelah berkali mendengar, rasanya hanya satu yang ingin disampaikan oleh penciptanya: begitu berharganya waktu, sehingga siapapun bisa tergerus bila tak memanfaatkannya.
Stones bukan satu-satunya menjadikan waktu sebagai tema utama. Pink Floyd, band rock progresif asal Inggris juga menelurkan lagu “Time” di tahun sama dengan Stones (1974). Ceritanya tak jauh berbeda: kadang kita lupa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Tiba-tiba “…And then one day you find ten years have got behind you. No one told you when to run, you missed the starting gun.” Begitu lirik yang ditulis David Gilmor dan kawan-kawan itu. 

Perkara masa atawa waktu buat saya pun seringkali mengecoh. Foto yang terpajang dalam tulisan ini misalnya. Tak terasa, itulah foto dua bulan sebelum ayah saya wafat di tahun 2012 lalu. Lima tahun sudah, tetapi rasanya masih terekam dalam ingatan, bagaimana ketika foto itu dibuat, ayah saya itu masih mudah mengumbar senyum. Candanya di rumah sakit, seperti belum lepas dalam ingatan. Kumis yang dipeliharanya bertahun-tahun sejak menjadi Korps Komando (KKO) tahun 1965, saat foto ini selesai dibuat, ia memangkas kumisnya itu. Tapi tiba-tiba, semuanya seperti cepat berlalu. Sungguh tak terasa, waktu berjalan terus tak menunggu siapapun, persis apa yang dikatakan Jagger dalam lagunya itu..Waktu…waktu dan waktu..Jauh sebelum Jagger maupun Gilmor menuliskan lirik-lirik itu, di abad ke-7 masehi, saking pentingnya waktu, Allah SWT -Tuhan yang saya yakini karena saya sebagai seorang muslim- bahkan sampai menurunkan surah khusus yang menekankan perihal waktu ini. Dalam Al-Quran ditulisakan: (1)“Demi masa, (2) sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), (3) kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3).

Surah pendek, masuk dalam surah makkiyah (surah yang diturunkan di mekkah), dalam tafsir Ibnu Katsir, yag saya tuturkan dalam versi pengertian saya, surah ini menjelaskan bagaimana pentingnya waktu sehingga manusia akan merugi bila tak memanfaatkannya dengan saling menasehati dalam kebenaran kepada sesama muslim lain. 

Perihal tafsir ini saya bukanlah ahlinya. Tetapi paling tidak, yang saya pahami, jika Allah saja sampai menurunkan surah khusus mengenai suatu hal, sudah barang tentu hal itu menjadi sangat penting. Namun demikian, meski surah pendek itu saya yakin hampir tak ada muslim yang tak hapal, toh kini saya merasa masih ada saja yang tak terlihat dalam pengamalannya. 

Paling tidak dari kicauan di sosial media sejak bergulirnya sejumlah pemilihan kepala daerah maupun pimpinan negeri ini. Sesama muslim saling menghujat, saling menjelekkan bahkan saling membuka aib sesama muslim lain lantaran hanya berbeda pilihan. Ada yang bilang, ini bukan sekadar Pilkada, tetapi lebih pada penghinaan. Soal hina-menghina, saya sendiri pun merasa tersnggung dengan pernyataan salahsatu calon. Tetapi, rasanya terlalu berharga waktu ini kalau pada akhirnya hanya digunakan untuk kembali menghujat atau menjelekkan sesama muslim lain. Bagi saya, sudah jelas, kalau calonitu saja sudah tidak menghargai keyakinan saya sebagai warganya, tentu lebih baik saya tak memilihnya. Soal ada yang memilih pasangan calon itu, itu urusan masing-masing individu. Bukankah Al-Quran mengajarkan untuk saling menasehati dalam kebaikan dan tak berkenan untuk saling menghujat. Walau ada ayat lain yang juga menjelaskan siapa sesungguhnya orang munafik dari kalangan sendiri.  

Tetapi sekali lagi, saya bukanlah ahli tafsir. Perlu belajar lebih jauh pada para ahlinya. Dalam kebengongan saya malam ini, saya merasa sudah sepatutnya harus mulai kembali menyimak ayat-ayat dalam kitab suci yang saya yakini ini. Karena, persis pernyataan Jagger maupun Gilmor, waktu akan terus berjalan tanpa menunggu siapapun juga. Waktu tak mengenal sanak-saudara ataupun keturunan. Ia tak menunggu siapapun karena waktu milik Allah SWT. Sehingga, persis janji Allah SWT “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasai kematian,” (Ali-Imran: 185).

Bukan soal matinya, tetapi kapan waktunya itu akan tiba? 
(Ampera 2017) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s