Ketika Tangan Bicara

foto: @sirizka 1/8sec f/5.6 ISO800

Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan pertemuan itu, rutin saja. Sejumlah orang berkumpul dan ngobrol tentang sesuatu hal yang sudah ditentukan. Kali ini, temanya tentang hubungan ‘Hari Pengadilan Akhir’. Majelis dimulai, pembicara memaparkan materinya sementara yang lain khusyuk menyimak. Sesekali terdengar orang menguap, maklum majelis ini dimulai saat matahari belum naik betul.
 
Kelar materi disampaikan, lazimnya majelis, tanya jawab memasuki sesi berikut. Kebanyakan hanya mengangguk-angguk, entah merasa mengantuk atau memang paham betul isi materi tersebut. Semenit-dua, tak ada yang yang bertanya. Saya pun mulai mengeluarkan kamera. Sejurus kemudian, saya melihat tangan seorang tua bersongkok (peci) hitam dengan rambut putih menyembul di sekeliling peci yang duduk tepat di depan saya. Pikir saya, keriput tangannya yang menyangga tubuh bapak bersongkok ini, menarik untuk dijadikan obyek.
 
Selesai memotret, tak disangka sang pemilik tangan berdiri dan menghampiri mikropon di depannya. “Apa sih maksud ayat ke-65 surah Yassin? ” tanyanya kepada pemateri.
 
Seperti menyentak, pertanyaan itu kemudian membawa ingatan saya pada apa yang dituliskan Alberthiene Endah, dalam biografi Chrisye–Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309). Dalam buku itu, Krismansyah Rahadi -nama asli Chrisye, selalu tercekat saat menyanyikan lagi “Ketika Tangan dan Kaki Bicara” yang liriknya ditulis penyair Taufiq Ismail. Sang penyair, mengaku terinspirasi dari Surah Yassin ayat 65 itu. Di mana pada hari perhitungan kelak, tak bisa lagi manusia berbohong karena mulutnya terkunci. Kaki dan tanganlah yang kemudian menjadi saksi apa yang sudah dilakukan manusia itu.
 
Menjadi saksi? Begitulah kemudian Ustadz pemberi materi menjelaskan lebih lanjut. Katanya, bolehlah manusia di dunia ini mengaku tidak berbuat jahil dengan menilap triliunan rupiah uang urusan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik. Bisa juga pejabat berkelit tak menandatangani dokumen kongkalingkong dengan pengusaha besar untuk menggusur rakyat kecil. Atau bolehlah ia mengaku kepada manusia lain di dunia ini seorang yang alim dan santun, meski bisa jadi semua itu hanyalah topeng belaka. Pada ‘Hari Pengadilan Akhir’ nanti semua akan terkuak.
 
Demi mendengar itu, mulailah saya berselancar di dunia maya untuk memperjelas apa yang sudah ditulis Taufiq Ismail untuk lirik itu. 
“Ketika Tangan dan Kaki Berkata”
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye
 
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita//
 
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya//
 
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba//
 
Rabbana…
Tangan kami…
Kaki kami…
Mulut kami…
Mata hati kami…//
 
Luruskanlah…
Kukuhkanlah…
Di jalan cahaya….
sempurna//
 
Lepas membaca itu, saya pun bertanya….bagaimana dengan saya?
(Ampera, 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s