Bangkit Kembali

Engkoh menyiapkan kopi yang akan digilingnya. Foto: @sirizka 1/20 sec f/5.6 ISO1600

 
Saya tak sempat lama berbincang dengannya. Tak juga kenal lebih jauh siapa nama Engkoh (kakek-Tionghoa) yang saya abadikan ini. Jumat (10/3), selepas shalat jumat di Masjid Al-Latief, Pasaraya, Blok M, saat melewati deretan pertokoan di depan Blok M Square, tepatnya sederet toko arloji Seiko, mata saya tertumbuk pada papan nama toko itu: Toko Kopi AKA. Tak seperti lazimnya toko, sesungguhnya apa yang disebut toko oleh si Engkoh ini, hanyalah deretan toples kaca berisi aneka biji kopi pilihan. Namun, justru deretan toples penuh kopi itulah yang menarik saya untuk berhenti sejenak menghampirinya.
 
“Mau kopi apa?,” tanya si Engkoh.
 
Lalu saya sebutkan apa yang saya inginkan. Tak jelas, apakah benar isinya adalah kopi itu sesuai dengan isinya, atau tidak. Paling tidak, saya menakarnya dari harga yang terpampang: untuk Arabica Luwak, dibanderol Rp140.000 per kilogram. Harga yang jauh lebih murah ketimbang kopi luwak yang dijual di supermarket papan atas dengan banderol 4-5 kali lipat dari harga itu.
 
Bukan soal kopinya yang menjadi perhatian saya, tetapi sosok si Engkoh itulah yang kemudian seperti membawa saya ke era masa silam. Blok M, tahun 1980-an adalah area pasar modern terbaik di seantero Jakarta. Aldiron Plaza, yang diresmikan oleh Almarhum Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta di kala itu, pada tahun 1970-an, merupakan pusat perbelanjaan yang bisa menyaingi Sarinah di jalan Thamrin.
 
Tepat di seberangnya kemudian tahun 1990 an dibangunlah pasar Blok M, tempat si Engkoh itu berjualan kopi. Kala itu, seringkali saya berjumpa dengannya lantaran hampir setiap minggu saya ke pasar ini sekadar menemani ibu saya berbelanja. Selain kopi ini, terkadang saya dan ibu mampir ke toko kopi Tjap Timbangan yang menjual kopi langsung giling dari biji yang sudah disangrai.
 
Maka, selain sosoknya yang kembali membawa ingatan saya ke amsa lalu itu, aroma kopi yang menebar saat digiling juga seperti memanggil kenangan masa silam. Berbekal penggilingan kopi dengan corong besar di atasnya, si Engkoh pemilik Toko Kopi AA kemudian menawarkan tingkat gilingan kopi yang dipesan.
 
“Mau giling kasar apa halus? ” tanyanya lagi.
 
“Kasar aja koh,” jawab saya.
 
“Kasar kayak gula pasir ya,” tuturnya lagi.
 
Kemudian secara cepat ia membuka toples dan segera menakar biji kopi untuk kemudian digiling. Setelahnya, hasil gilingan itu kemudian ditakar ulang di timbangan ‘kodok’ untuk kemudian dibungkus dengan kertas sampul cokelat berlabel AKA.
 
Saat menggiling inilah ia sempat bercerita kalau ia adalah orang yang sama yang pernah saya temui di tahun 1990. Meski saya haqul yakin, ia tak mengenal saya, tetapi ia mengakui sebagai salahsatu pedagang kopi di pasar Blok M lama.
 
“Tapi pasarnya kan kebakaran, ludes semua barang dagangan saya, enggak ada yang bisa diselametin. asuransi juga kagak mau (ganti),” tuturnya.
 
“Lah terus gimana Koh?” tanya saya lagi.
 
“Yah mulai lagi dari nol. Mulai belanja sedikit-sedikit kopinya sama mesin gilingnya. Namanya juga resiko,” paparnya.
 
Ucapannya itu terasa tidak asing bagi saya. Ketika berbincang dengan TP. Rachmat, salahsatu pendiri PT Astra International, Tbk dan kemudian mendirikan konglomerasi grup Triputra, ia berkata: “Kalau mau sukses itu harus berani dan kuat. Kalau kamu jatuh 10 kali, maka bangunlah 11 kali,” ungkapnya ketika saya jumpai di tahun 2014 di ruang kerjanya yang asri di Kuningan, Jakarta Selatan.
 
Persis perkataan itu, si Engkoh Toko Kopi AA juga menjalankannya…
 
(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s