Ideologi Sang Bupati

  

Dia satu dari 10 Bupati yang dipilih Tempo Media Group atas prestasinya memajukan daerah yang dipimpinnya. dr. Hasto Wardoyo, S.PoG (K), begitu nama sang Bupati Kulon Progo, Yogyakarta. Inilah kali kedua ia memimpin Kulon Progo, setelah pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang diadakan pada 15 Februari 2017 lalu, ia menang mutlak dengan perolehan sekitar 80% suara di atas lawannya. Apa yang membuatnya terpiliha kembali?

Saya rasa, bukan sekadar ia adalah spesialis kandungan yang lama berkiprah di Universitas Gadjah Mada almamaternya dan sempat menjadi Kepala Instansi Kesehatan Reproduksi & Bayi Tabung Rumah Sakit Sardjito itu. Dan daya pun yakin, bukan pula lantaran ia memperoleh sejumlah penghargaan yang diterimanya di masa silam. Sekadar informasi, Hasto, menurut biografi yang terpampang di situs resmi Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, pernah dinobatkan sebagai Dokter teladan tahun 1992 di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Ia juga menerima Satya Lencana Bidang Keluarga Berencana tahun 2010 dan seabrek penghargaan lain yang berkaitan dengan kesehatan, lingkungan maupun ekonomi. Kalau bukan itu, lalu apa?

“Kulon Progo itu daerah miskin, makanya yang kita bangun itu ideologi. Apa ideologinya? Gotong- Royong,” ungkapnya saat diminta berbagi kiat di acara ‘Malam Apresiasi Penghargaan Kepala Daerah Pilihan Tempo’ , Jumat (3/3) di Jakarta. 

Ideologi Gotong Royong, begitu Hasto menyebutnya, merupakan rangkuman dari Pancasila. Ia menceritakan, sifat gotong royong itulah yang kemudian ditumbuhkan dalam benak seluruh masyarakat Kulon Progo. Misalnya saja, kini pemkab punya program bertajuk bedah rumah. Saban ahad, ia bersama sejumlah perangkat desa dan masyarakat, melakukan renovasi rumah-rumah warga yang tidak layak pakai. 

“Dananya tidak diambil dari APBD (anggaran pendapatan belanja daerah), tetapi dari hasil gotong royong itu. Saya minta, bagi masyarakat yang mampu membayar zakat atau sedekah dikumpulkan. Kalau tidak 2,5% dari penghasilan, ya semampunya. Kalau tidak mampu, ya gantian dia yang berhak menerima sedekah itu. Nah, inisiatif itu ternyata diapresiasi semua pihak dan sekarang paling tidak setiap minggu kita bisa renovasi sampai 3 rumah, masing-masing Rp10 juta,” paparnya.

Hasto bilang, dana-dana itu selain dihimpun dari masyarakat, juga dikumpulkannya dari sumbangan para pengusaha-pengusaha yang ingin menyalurkan bantuannya. Kemudian pemkab Kulon Progo membantu menyalurkan ke masyarakat secara langsung dengan melibatkan semua unsur masyarakat termasuk para penyumbang itu, sehingga prosesnya transparan. 

Langkah lain yang juga menyertakan semangat gotong royong, dia tunjukkan dengan program pembangunan toko-toko swalayan mini yang biasanya dikuasai toko berjejaringan. Toko itu kemudian dibeli oleh koperasi dan dinamai dengan Tomira (Toko Milik Rakyat). Selain itu, ia juga mengembangkan potensi batik khas Kulon Progo. 

“Ada sekitar 80.000 siswa di Kulon Progo. Biar batiknya punya pasar, kita wajibkan siswa pakai batik Kulon Progo. Hasilnya juga bisa dinikmati sendiri. Kami juga meluncurkan air minum dalam kemasan yang dinamai AirKu singkatan air Kulon Progo,” tambahnya bersemangat. 

Semangat untuk memajukan daerah kelahirannya itu – Hasto dilahirkan pada 30 Juli 1964 di Kulon Progo- disebarkan dengan semangat gotong sampai ke hal-hal yang terkecil. Dokter spesialis kandungan yang menekuni system stem cell untuk bayi tabung ini, bercerita. Suatu kali ada warga yang ingin makan ayam yang banyak dijual restoran waralaba. Mendengar itu, ia pun menganjurkan daripada beli di restoran, lebih baik membeli ayam tetangga untuk kemudian dimasak dan dinikmati. 

“Dengan cara itu, bisa sekaligus membantu tetangga kita yang membutuhkan duit. Intinya kita bisa kok kalau gotong royong,” ucapnya lagi. 

Meski Dia kini lebih disibukkan dengan kegiatan protokoler sebagai pejabat pemerintah, tetapi kodratnya sebagai dokter tak ditinggalkan sama sekali. Ia mengaku, dalam dua hari setiap minggunya, masih membuka praktik untuk membantu para ibu hamil. Alasannya, profesi itu ia sudah tekuni jauh hari sebelum menjabat sebagai pimpinan daerah. 

“Tetapi praktiknya tidak di Kulon Progo. Soalnya saya khawatir, kalau praktik di Kulon Progo disangka tebar pesona. Kemaren kan baru satu periode, tapi kalau sekarang ya enggak apa-apa toh sudah dua priode kan? hehehe,” tutur Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 1990-1992 ini lagi. 

Soal berpromosi tampaknya memang bukan untuk menonjolkan diri. Selama berbicara di ajang itu, kerap kali ia menawarkan potensi daerahnya ke kepala daerah lain. Salahsatu yang sudah berhasil dilobi adalah Ridwan Kamil, Walikota Bandung. 

“Saya bilang ke Pak Ridwan, Kulon Progo itu punya batu gamping yang bagus buat taman dan pedestrian. Nah, Alhamdulillah, kata Pak Ridwan, sudah disetujui dan dimasukkan dalam APBD Bandung untuk (pembelian-red) ini. Terima kasih ya pak,” tuturnya sambil memandang Ridwan Kamil yang duduk tepat di depannya. Dan Ridwan pun tersenyum-senyum mendengar ‘todongan’ itu. 

Atas semua jerih payah pemangku jabatan di Kulon Progo yang dipimpin oleh Hasto Wardoyo itu, kini masyarakat Kulon Progo semakin makmur. Menurut data Biro Pusat Statistik daerah, angka kemiskinan Kulon Progo menurun 1 persen setiap tahunnya. Tahun 2011 angkanya masih 24,8 persen dan kemudian menjadi 20, 25 persen tahun 2015. 

Maka, pantaslah kiranya kalau PT Tempo Inti Media, Tbk menobatkannya sebagai salah satu Bupati yang trengginas dalam memajukan daerahnya. Dengan sejumlah inovasi yang berlandaskan ideologi gotong royong itu, Hasto terbukti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. 

Indonesia butuh orang seperti dia…

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s