Cahaya Dari Rana

Rana menebarkan cahaya bagi semua. @foto: istimewa

Rana Nashiti Dhiyata itu seperti pelita. Keberadaannya selalu menebarkan cahaya kebaikan bagi sekelilingnya. Perempuan kelahiran Jakarta ini, November 2017 nanti, akan genap berusia 20 tahun. Ibarat bebatuan, Rana itu tak ubahnya berlian: bernilai tinggi lantaran bisa memantulkan cahaya dengan sempurna. Cahaya yang bisa menggetarkan siapa saja yang bersentuhan dengannya.

Saban melihat foto-fotonya yang diunggah Iis Soelaiman, sang ibunda Rana, di media sosial, pancaran cahaya dari keceriaannya selalu menarik perhatian saya. Seperti halnya ketika Bu Hajjah Iis -begitu saya menyapa Iis Soelaiman-mengirimkan foto yang kemudian saya putuskan untuk memakainya pada artikel ini. Bagi saya, tatapan mata ke atas dengan senyum merekah di wajah Rana, seperti hendak mengabarkan kepada saya, kalau “Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sholeh/sholehah.”

Rana memang istimewa. Iis menceritakan, ketika Rana menginjak usia 7 bulan, ia terserang virus yang menyebabkan fungsi otaknya terganggu. Singkat cerita, setelah modar-mandir ke rumah sakit, tim dokter yang menangani Rana menvonis ia mengidap Cerebral Plasy (CP).  

“Pada saat itu, belum banyak kasus seperti ini, makanya sempat ditangani beberapa dokter sebagai studi kasus, karena jarang terjadi pada anak seperti yang dialami Rana,” sebut Iis.

Alih-alih menjadi beban, Iis yang kemudian memutuskan cuti sebagai karyawan di Majalah Hai untuk konsentrasi mendampingi Rana, malah dikemudian hari dipercaya untuk membuat sebuah tabloid khusus dunia parenting.

“Ini seperti jalan pembuka bagi saya untuk membagikan kondisi ini bagi siapa saja yang memiliki situasi sama,” ungkap Iis lagi.

Allah SWT sekali lagi menunjukkan kuasaNya. Kondisi Rana justru membuat Iis menjadi semakin terpicu untuk melakukan edukasi pada siapa saja yang mempunyai kasus serupa. Ia bersama beberapa orang tua yang anaknya punya kondisi sama, membentuk sebuah perkumpulan untuk kemudian membantu orang tua lain dalam mencari informasi untuk menghadapi kondisi seperti yang dialami para anggota grup ini.

“Awalnya hanya bikin grup di media sosial, tetapi lambat laun semakin banyak anggotanya, dan sekarang sudah lebih dari 1.000 member,” ucapnya seraya menyebut, ia memulai itu tahun 2002 namun baru dibentuk menjadi yayasan pada tahun 2012 lalu.

 

CP memang tak sepopuler penyakit lainnya. Namun, hasil studi yang di lakukan P. Siebel (1984) diperkirakan setiap 1.000 kelahiran hidup, tiap tiga anak terkena kondisi ini. Bisa dipahami bila informasi mengenai CP tak mudah untuk didapatkan. Oleh sebab itu, niat Iis untuk terus menyebarkan informasi ini semakin menggebu.

“Bermacam-macam kegiatannya. Biasanya kita juga memberikan dukungan pada orang tua yang mendapati anaknya menderita CP. Banyak hal yang belum diketahui, misalnya apa yang harus agar anak CP tidak terinfeksi radang paru-paru karena kurang gerak. Serta informasi-informasi lain. Kami bikin juga beberapa kali pertemuan secara langsung dan juga melibatkan dokter-dokter syaraf yang diperlukan,” ujar Iis lagi.

Perlahan tapi pasti, cahaya yang dipancarkan dari Rana terus membesar. Hingga di penghujung 2016 lalu, pancaran sinarnya mulai menyentuh sejumlah kalangan termasuk para mantan jurnalis yang juga sahabat Iis. Adalah Emma Aliudin, Chandra Widanarko, Briliantini dan Wedha yang memutuskan untuk serius membantu menyebarkan informasi mengenai CP. Di bawah naungan Yayasan Cahaya yang dibangun Iis dan kawan-kawannya itu, mereka memulai dengan aksi pengumpulan dana mengikuti bazaar di sebuah acara di Jakarta.

“Kita sama-sama membantu kampanye ini biar orang semakin aware terhadap CP,” ujar Emma kepada saya di awal 2017 lalu.

Waktu terus bergulir, kemudian muncullah sebuah ide untuk kembali mengumpulkan anak-anak CP dalam perhelatan gathering. “Bagi anak-anak yang mengidap CP, piknik itu sesuatu yang sangat mewah dan menyenangkan. Maka, kita berinisiatif untuk mengadakan acara gathering di Kebun Raya Bogor,” kata Iis lagi.

Tak disangka target 150 anak, ternyata peminatnya membludak. Gathering itu pun menghadirkan sejumlah relawan yang antara lain penyanyi Reda Gaudiamo dan pendongeng Kak Ario, yang memberikan hiburan di hadapan para anak CP. Selain itu, diadakan pula aneka permainan yng selama ini sulit didapatkan para penyandang CP. Lebih menarik lagi, untuk gelaran ini tak sedikit para donatur yang menyisihkan rejekinya agar kegiatan terlaksana.

Inilah kuasa Ilahi yang selalu memberikan hikmah di setiap langkah manusia yang bertakwa. Tak mengherankan bila kemudian bagi Iis, Rana masuk dalam relung hati terdalam di benaknya.

“Rana is The best thing in my life. Cahaya hati dan Cahaya kehidupan bagi saya,” pungkas Iis.

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s