Mana Kopi Terenak?

Auliyah (31) menjajakan kopi di hutan pinus kaki Gunugn Salak. Foto; @sirizka, 1/50sec f/3.5 ISO3200

Akhir Januari lalu, pada suatu kedai kopi bermerek di Jakarta Selatan, tepat di sebelah meja saya, berumpul tiga pemuda berdandan masa kini: celana jeans dengan atasan kaos dan berkasut kets. Tak ada yang terlalu istimewa dari ketiganya. Sembari menenteng tablet dan telepon pintar, ketiganya asyik berdiskusi. Apa yang dibahasnya? Sehubungan jarak antara meja mereka dengan saya sekitar 2 meter, maka terdengarlah percakapan itu.

“Kalau gue rasa, Ethiopia lebih enak,” ujar pemuda berkaos putih garis-garis. “Rasanya lebih fruitty, ada rasa buah-buahan tropis. Kalau yang ini agak ada floral taste-nya,” ujar pemuda itu lagi. Sementara dua pemuda lain hanya mengangguk-angguk seolah paham apa yang dibicarakan kawannya itu.

Memang ketiganya sedang membicarakan perihal rasa kopi. Saya tak tahu persis, apa pekerjaan mereka, tetapi rasanya mereka bukan pengusaha kopi ataupun pemilik kedai kopi. Dari tumpukan buku yang dibawa, terlihat sebuah paper layaknya tugas kuliah dengan gambar simbol salah satu universitas di Jakarta Barat.

Tapi saya kagum bukan kepalang. Pasalnya, sembari mengopi, pemuda berkaos garis itu bisa mengindentifikasi rasa kopi yang dipesannya. “Kalau ngopi itu lebih enak single origin gini, jadi kita tahu rasa asli kopi,” jelas pemuda berkaos garis meneruskan. “Kalau sudah dicampur kayak latte atau moccachino, kita enggak dapat rasa original,” cetusnya lagi.

Mendapat penjelasan itu, kedua rekannya hanya mengangguk-angguk. Entah mereka paham atau sekadar solidaritas, saya tak menanyakan. Yang jelas, dari mulut keduanya juga meluncur kata, “iya ya, lebih enak.” Apakah itu artinya benar-benar nikmat, atau sekadar menjaga pertemanan agar tidak rusak, hanya Tuhan yang tahu.

Saya sendiri yang gemar mengopi sejak kecil -lantaran ayah saya juga pengopi- jelas menjadi minder berada di dekat meja itu. Lebih dari 30 tahun saya kerap menenggak kopi, tapi tak paham aneka istilah yang meluncur dari mulutnya. Belum lagi, sesekali terdengar, si pemuda berkaos garis menjelaskan aneka proses pencucian biji kopi. Mulai dari fully washed hingga fermented with cherry skin. Katanya lagi, pola pencucian dan pemrosesan ini juga mempengaruhi rasa kopi serta tingkat acidity dari kopi itu sendiri.

Akan halnya setelah pemrosesan, kata si pemuda berkaos garis meneruskan, faktor penyangraian green beans alias biji kopi, juga mempengaruhi rasa. “Makanya, kalau enggak tepat waktu sangrainya rasa kopi bisa beda. Mempengaruhi body kopi itu,” katanya lagi. Apakah benar atau tidak, saya kurang paham.

Memang sejak booming kopi beberapa tahun terakhir ini, kedai-kedai kopi semakin menjamur. Tak hanya tempat untuk menyeruput, tetapi juga mulai bermunculan rumah kopi yang menyediakan aneka kopi dari berbagai belahan dunia, termasuk penyangraian dan juga kursus peracikan. Alhasil, kini kebanyakan orang perkotaan, seolah-olah, kalau tidak mengopi dalam sehari, kita seperti orang kampung yang berdiri di tengah warga perlente ibukota. Makanya, dengan membayar Rp35.000 untuk secangkir kopi itu, maka terbebaslah kita dari gelar kampungan.

Lain di kota, lain pula di desa. Bila para kaum urban seperti ketiga pemuda itu punya cara menikmati kopi dengan mendiskusikan dan mengupas asal-usul biji hingga cara pengolahannya, situasi itu tidak terjadi di perkampungan Cidahu yang letaknya sekitar 70 kilometer dari Jakarta.

Adalah ibu Auliyah (31 tahun), penjaja aneka kopi kemasan yang menceritakan, bagaimana ia harus menyiapkan stok kopi lebih banyak agar para pendaki amatir Gunung Salak bisa menikmati minuman hangat beraroma kopi. Ia mengaku kedainya yang terletak di dekat air terjun di kaki Gunung Salak ini, ramai dikunjungi para pelancong yang hendak bermain ke area itu. Saban Sabtu-Minggu, bahkan ia menambah aneka jajanan yang biasanya diperlukan para pengunjung. Mulai menjual bala-bala (bakwan), tempe goreng, hingga aneka minuman hangat: kopi-kopi susu- teh manis dan juga aneka minuman ringan.

Bagi Auliyah, yang menikah diusia 14 tahun, para pelancong itu kerap kali memesan kopi seharga Rp3.000/gelas, selepas mendaki Gunung Salak sembari menyantap kudapan. Katanya, udara dingin seperti di Gunung Salak ini jenis minuman kopi seringkali dipesan para pendaki amatir itu. Apakah para pendaki penikmat kopi itu menanyakan jenis kopi yang diminumnya?

Perkara ini saya haqul yakin baik Auliyah maupun para pendaki itu tak pernah mempermasalahkan apa jenis dan asal kopi yang diminumnya. Bagi mereka, jauh dari tempat tinggal dan berada di tengah hutan semacam ini, mendapat minuman hangat beraroma kopi sungguhlah nikmat. Tak peduli, apakah hasil dari kopi kemasan atau kopi yang serius semacam apa yang dibicarakan para pemuda di awal tulisan ini.

Makanya, selepas saya mendengar percapakan para pemuda di kedai papan atas di Jakarta, mulai gundahlah hati ini, versi manakah kopi yang nikmat itu? Atas pertanyaan ini, teringatlah akan tulisan teman saya Ullil, pemilik usaha kopi berlabel Jaringan Wakop Nusantara di laman Facebook Jeffrey Satrya, owner Kopikohlie. “Semua bener (nikmat), yang salah itu kalo ndak ngopi hehehe…” tulis Ullil.

Nah…itu lebih penting!

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s