Sachet Barista

Sukur sang ahli peracik kopi sachet . Foto: @sirizka 1/6 sec f/3.5 ISO25600

Mendengar nama-nama ini, saya pun mengernyitkan dahi. Semisal Yoshua Tanu, Ryan Wibawa ataupun Ovie Kurniawan. Bagi saya yang suka ngopi di pagi hari, ketiga nama itu sama sekali asing di telinga. Padahal, kala saya berseluncur di dunia maya, ketiganya bukanlah orang sembarang. Inilah para barista Indonesia yang di kenal dunia. 

Sebut saja Yoshua Tanu, yang berada di peringkat 15 dalam daftar World Barista Championship. Sementara Ryan Wibawa meriah peringkat 23 World Brewers Champhionsip. Giliran Ovie Kurniawan di peringkat 35 World Latte Art Championship. Ketiga diakui dunia sebagai pengolah minuman berbasis kopi yang dianggap punya kenikmatan tinggi versi para juri di sana. 

Nah, perihal kenikmatan inilah yang tampaknya coba distandardisasi oleh para tengkulak kopi di seluruh dunia. Sehingga, menjadi seorang barista itu paling tidak punya sejumlah syarat wajib yang harus dipenuhi. Perkara syarat ini, ir. Edy Panggabean, dalam bukunya The Secret of Barista (2012) menjabarkan seorang barista tidak hanya harus mengenal aneka peralatan kopi, tetapi juga teknik penyangrai-an (memasak biji kopi) hingga cara mencampurkan kopi (brewing). Tak ketinggalan, seorang barista juga harus dituntut mampu mengenal aneka jenis kopi dan karakter kopi tersebut. 

Misal, kopi yang ditanam di Sumatera Utara daerah Lintong (kerap disebut kopi arabika Lintong), itu punya karakter yang gamey sedikit berasa ada kejunya. Lain hal dengan arabika Gayo hasil perkebunan di Aceh. Saat dicicipi mengeluarkan rasa manis.

Perkara citarasa ini juga dijabarkan secara apik oleh Jeffrey Satria dalam status di akun Facebook-nya pada awal Februai 2017 lalu. Pemilik rumah sangrai Kohlie itu menceritakan perburuannya di kedai-kedai kopi di Eropa. Rata-rata penikmat kopi di Jerman, tulis Jeffrey, lebih gemar kopi dengan karakter pahit, berbodi (terasa tebal/kental di mulut) dan menimbulkan sensasi cokelat. 

Cita rasa itubBerbeda dengan karakter kopi yang disukai oleh kebanyakan penikmat kopi di Indonesia. Masih mengutip dari tulisan Jeffrey, mantan jurnalis yang memperdalam keahlian menyangrai kopi seperti halnya sang ayah itu melihat, “…beberapa anak tengil kopi gelombang ke-3 Jakarta yang hanya doyan espresso asam berkarakter buah-buahan.” Di akhir tulisan ia menyentil, lalu apa ‘kiblat’ penikmat kopi di Indonesia?

Perkara kiblat, teringatlah saya pada obrolan beberapa tahun silam yang justru didapat dari ayah Jeffrey itu sendiri. Di rumahnya yang disulap menjadi rumah sangrai di daerah Duri Kepa, Jakarta Barat, kami bertiga sempat membicarakan perkara kesukaan para pengopi di Indonesia. 

“Indonesia itu secara umum lebih gemar dengan rasa kopi robusta, bukan arabica,” sebut ayah Jeffrey kepada saya. “Oleh sebab itu, perusahaan kopi yang memproduksi kopi bubuk robusta, dari tahun ke tahun terus bertambah dan tetap eksis,” tambahnya.

Rasanya, apa yang diucapkannya tidaklah meleset. Kebanyakan pengopi di Indonesia tak peduli dengan apa jenis kopi yang diminumnya. Itu pula yang membuat Sukur Hidayatullah bisa mendadak menjadi “barista” kondang di kalangan pengendara ojek online. Walaupun ia jauh dari syarat yang ditentukan oleh Edy Panggabean sebagai seorang penyaji kopi papan atas, toh lelaki beranak dua kelahiran tahun 1983 ini, menurut saya pantas menyandang gelar barista. Pasalnya, barista yang dikutip dari bahasa Italia itu punya arti sebagai pramusaji alias pelayan penyedia minuman kopi, sudah dilakoni sejak tahun 2013 lalu.

Memang, jika merujuk dari syarat danpengertian itu, Sukur jauh melebihi syarat yang ditentukan. Namun, ia bukan saja mengenal aneka kopi yang disajikan, tetapi juga mengenal alat-alat yang digunakan, sebagaimana disyaratkan oleh asosiasi barista.Dari kopi siap saji yang dijajakannya, ia paham karakter dari setiap sachet itu.

“Kalau mau kopi yang pahit tapi ada manis-manisnya, seduh kopi ini (menunjukkan kopi sachet yang sudah dicampur gula), tapi enggak usah di aduk,” ujarnya seraya menyeduh kopi dari tempat air panas yang dibawa di motornya. 

“Kalau yang mau rasa susu, bisa pakai yang bungkusan ini,” ujarnya lagi sambil menunjukan kopi keluaran pabrik yang dicampur dengan krimer. “Tapi harus panas airnya, biar enggak menggumpal,” tuturnya lagi.

Tak hanya mengenal aneka kopi dan peralatannya, Sukur juga pandai melayani tamu. Ia yang biasa mangkal di depan RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan pukul 19,00-24.00 ini selalu dikerubungi para pengendara ojek online. “Kalau enggak ada si abang ini (Sukur), kagak enak bang. Masak nungguin penumpang sambil bengong, kan enak sambil ngopi sama ngerokok,” ujar salah satu pengojek online.

“Apalagi sekarang kan sering bener hujan, rasanya ada yang kurang aja kalau kagak ngopi. Suasananya enak buat ngopi bang,” tambahnya lagi.

Kalau sudah begini, tak perlulah mengejar gelar sebagai barista tingkat dunia, bagi mereka, kopi racikan Sukur, sudah menebar kenikmatan hingga menyusup ke tulang-tulang. Sehingga rasanya tak sungkan gelar barista saya sematkan di pundak Sukur. 

Sukur, sang peracik kopi sachet alias Sachet Barista!

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s