Ini Buku Mahal

Hajjah M. Panji Astuti saat peluncuran bukunya di Jakarta, Januari 2017. Foto diambil dari Facebook Utiek

Wahahaha…onok sik lalii (wah ada yang lupa),” tulis Wak Haji Sigit Triwahyu sembari memposting pesan dalam instagram miliknya di grup WhattsApp, 22 Januari 2017 lalu. 

Iyaaaa, buluu, ih teganya mosok lali,” timpal Hajjah Utiek kemudian.

Potongan percakapan itu terlontar beberapa jam setelah Hajjah Utiek pemilik nama lengkap Marfuah Panji Astuti, melakukan selebrasi atas karya intelektual ketiganya itu: peluncuran buku yang ditulisnya dari hasil perjalanan bersama sang suami, Herlambang. Buku yang berisi tentang menelusuri jejak peradaban islam: “Journey to Andalusia”. Ini adalah buku pertama dari trilogi “Jelajah Tiga Daulah” yang akan dituliskan berikutnya.

Lantaran tak bisa menghadiri momen istimewa itu, tergelitiklah saya untuk mendapat buku itu di toko buku terdekat. Mencarinya tak begitu mudah, bisa jadi lantaran buku baru diluncurkan di daerah Jakarta Barat sehingga toko buku besar di Jakarta Selatan tak memajangnya di barisan buku baru. Sayapun harus bertanya ke bagian pencarian buku untuk kemudian diambilkan entah di rak bagian mana.

Alangkah kagetnya ketika sampai di kasir, buku setebal 188 halaman dengan ‘bonus’ dua lembar kolom ‘Catatan’ di halaman 189-190, harus saya tebus dengan harga Rp 115.000. Belakangan ketika mencari di toko online, banderolnya Rp92.000. Untuk buku berukuran kecil itu, sungguh terasa mahal. Bandingkan dengan buku Biografi Muhammad SAW karya Martin Lings yang dua kali lebih tebal, dihargai Rp 92.000 di toko online. 

“Buku yang mahal,” bathin saya di depan kasir. Berhubung buku ini ditulis kawan karib semenjak menjadi pewarta di Gramedia Majalah bersama H. Sigit Triwahyu, rasa penasaran lebih mendorong saya untuk segera mendapatkan buku ini.Mmaka tanpa berpikir panjang, segera buku itu saya tebus. Pikir saya: seperti apa catatan perjalanan karib saya itu dituturkan?

Diawali dengan sampul mukanya. Desain muka buku itu terbilang menarik: bergaya grafis, dengan sosok perempuan bertubuh ramping menenteng kamera. Jika ini representasi dari si penulis yang saya kenal, jelas tampilan itu sedikit dikurang-kurangi. Pasalnya, Hj. Utiek yang saya kenal lebih ‘berisi’ ketimbang gambaran itu. 

“Ahh…tapi itu bukan soal,” cetus saya dalam hati.

Singkat cerita, penasaran dengan buku tipis berharga tinggi ini, saya pun mulai membacanya. Dibuka dengan Prolog mengapa buku ini ditulis. Isinya, persis seperti cerita Hj. Utiek ketika kami bertiga dengan H. Wahyu (panggilan H. Sigit Triwahyu), tulisan dalam buku ini tak sekadar hanya catatan perjalanan belaka. “Ini sekaligus untuk mensyiarkan bagaimana peradaban islam mempengaruhi dunia,” ujar Hj. Utiek kala itu.

Benar saja, dalam lembaran-lembaran buku itu, kemudian terbuka bagaimana islam pengaruhnya terhadap dunia. Banyak sejarah kejayaan islam dibelokkan oleh bangsa Eropa, sehingga seolah-olah islam tak punya peran penting dalam kehidupan bangsa di dunia. Buku pertama dari Trilogi “Jelajah Tiga Daulah” ini menceritakan bagaimana peradaban masa Daulah Umayyah (Damaskus 661-750 masehi, Andalusia 711-1492 masehi) justru banyak dibelokkan seolah-olah tak punya kontribusi dalam membangun peradaban dunia. 

Hal ini terlukiskan dalam buku tersebut. Ambil contoh,kKetika sepasang suami-istri itu tiba di Malaga, Spanyol dan mendengarkan penjelasan pemandu lokal -Antonia- yang menceritakan bahwa Abdurahman I menggeser arah kiblat masjid lantaran sakit hati dengan menyerongkan arah kiblat masjid itu agar tidak sama dengan masjid yang dibuat Daulah Abbasiyah di Baghdad, Hj. Utiek langsung membantahnya. Ia memprotes karena cerita sesungguhnya tidaklah seperti itu, tetapi Abdurahhman I membangun masjid dengan bangunan menyerong lantaran ada gereja di depan bagunan itu. Tujuannya membangun serong itu agar tidak menggusur gereja di depan bangunan itu, tetapi arah kiblat di dalamnya tetap menuju Mekkah. 

“Kalau tentang arah kiblat Masjid Cordoba, ini bukan sekadar tentang sejarah Daulah Umayyah, tetapi ini masalah prinsip. Kami tidak mungkin shalat tidak menghadap Ka’bah. Itu prinsip, tegas Hj. Utiek. (Hal. 73).

Itu baru satu cerita menarik yang ada dalam buku ‘mahal’ ini. Lain cerita ada perihal Universitas Al-Qarawiyyin, universitas tertua di dunia yang didirikan oleh seorang perempuan bernama Fatimah Al Fikhri tahun 859 masehi, 100 tahun sebelum Universitas Al Azhar di Kairo didirikan dan 3 abad sebelum Universitas Oxford di Inggris berdiri. (hal 40).

Dituliskan dengan gaya bercerita layaknya sebuah catatan perjalanan, buku ini memang menarik untuk terus dibaca dan diresapi. Bagi kaum muslimin dan muslimah yang membaca buku ini, rasanya bisa membuka mata dan hati bagaimana kebesaran islam mengubah peradaban dunia yang kemudian dihapuskan secara perlahan-lahan oleh orang-orang non muslim yang tak ingin kejayaannya tenggelam oleh kebesaran islam.

Contoh lainnya digambarkan dengan apik dalam buku ini. Ketika Thariq ibn Ziyad, yang namanya selalu dikaitkan dengan Jabal At-thariq atau dikenal dengan Gibraltar. Cerita yang berkembang sangat populer adalah ketika ia membawa pasukan untuk menegakkan kalimat Allah dengan mendatangi Spanyol, syahdan Thariq ketika mendarat membakar kapalnya agar pasukannya tidak punya pilihan selain berperang. Padahal cerita itu hanyalah karangan kaum eropa yang merasa malu pasukannya sebanyak 100.000 dikalahkan pasukan Thariq yang hanya 12.000. (hal 58).

Singkat cerita, buku ini sungguh membuat saya menjadi mengerti, bagaimana islam sebagai agama rahmatan lil alamin, memberikan pengaruh positif yang bertolak belakang dengan propaganda kaum barat. Buku ini ringan namun padat berisi. Sang penulis, sebelum melakukan perjalanan ini, sudah membekali diri dengan bermacam referensi mengenai kebesaran Daulah-Daulah besar itu. Antara lain dari buku “Sejarah Umat Islam” karya Prof. DR. Buya Hamka yang terbalnya mencapai 961 halaman. Juga buku “Bangkit dan Runtuhnya Andalusia” karya DR. Raghib As-Sirjani yang tebalnya 879 halaman. Hingga ketika Hj. Utiek menyaksikan tarian Flamenco, bisa menghubungkan dengan cerita bagaimana Ziryab- seniman multitalenta- membawa pola-pola budaya yang membawa kehancuran Andalusia. (hal 157).

Akhir kata, buku ini memang ‘mahal’ dalam artian kiasan. Saya tak hendak memprotes banderol yang diterakan pada label harga toko buku terkemuka itu. Tetapi saya ingin mengatakan, inilah buku yang ‘mahal’ bila siapapun pemiliknya tak membaca dengan tuntas dan meresapi setiap keterangan yang dituliskannya. Karena terlalu ‘mahal’ harganya untuk tidak mengetahui peradaban islam yang ternyata sangat mempengaruhi peradaban dunia hingga kini dan coba dihapuskan seolah-olah tak punya kontribusi positif.

Semoga sejarah sesungguhnya bisa tampil sebagaimana mestinya…

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s