Jadi Tuan di Negeri Sendiri

Pasien sedang membayar di kasir apotek. Foto: @sirizka 1/50 sec f/4.0 ISO3200

Pada suatu siang di awal Januari 2017. Di ruang penantian obat di salahsatu rumah sakit di Jakarta Selatan, tak sengaja saya mendengar dua orang bercakap-cakap serius perihal dunia perbudakan yang menjadi topik utama di Majalah Tempo edisi 9-15 Januari 2017. Majalah berita mingguan itu memang membuat liputan investigasi yang disajikan dengan sampul muka bertuliskan “Budak Indonesia di Kapal Taiwan”.  

Saya sendiri sempat mengernyitkan dahi membaca judul sampul berita itu. Setelah membaca lebih detail laporan yang dibuat bersama koran Taiwan, Tempo menurunkan cerita perihal bagaimana nelayan Indonesia menjadi budak di kapal Taiwan. Heran saya, di zaman serbacepat, zaman di mana jatuhnya jarum di negeri Cina, bisa langsung terdengar di Amerika Serikat dalam rentang waktu hitungan detik, soal perbudakan yang menistakan pekerja oleh tuannya, ternyata masih saja terus berulang.

“Heran saya, apa iya sudah sedemikian langkanya ikan di Indonesia sampai-sampai para nelayan itu pergi mencari ikan di Taiwan sana?” tanya lelaki pertama yang bertubuh subur kepada lelaki kedua yang duduk tak jauh darinya. 

“Ya enggaklah, Indonesia itu negara dengan lautan yang lebih banyak dari daratannya. Masak iya enggak ada ikannya. Jangan sembarangan ambil kesimpulan,” jawab lelaki kedua itu.

“Terus kenapa mereka memilih kerja di kapal Taiwan?” tanya lelaki pertama lagi.

“Karena jadi nelayan di Indonesia itu susah. Bahan bakar mahal, belum lagi harus bersaing dengan kapal-kapal besar untuk menangkap ikan. Hasil tangkapannya bisa-bisa hanya cukup untuk makan sendiri. Itupun kalau dapat. Celaknya dapat ikan enggak, malah utang semakin bertumpuk,” kata lelaki kedua. 

“Jangan asal bicara, mana buktinya?” ujar lelaki pertama. 

“Coba kamu ke Muara Angke, di Jakarta Utara. Atau kalau mau jauh sedikit, silakan pergi ke pesisir utara Pulau Jawa,” ujar lelaki kedua. “Malahan, kabarnya para nelayan itu harus bersaing dengan kapal asing,” tambahnya lagi.

“Kapal asing?”

“Iya kapal asing.”

“Tapi kata pemerintah, kapal asing kan sudah dibatasi,” kata lelaki pertama.

“Mungkin saja, tapi siapa sih yang bisa mengontrol di seluruh lautan Indonesia?” tutur lelaki kedua.

“Kan ada TNI AL dan Polisi Air dan Udara?”

“Ahh…mana cukup,” kata lelaki kedua.

“Kalau banyak kapal asing yang ambil ikan di sini, terus siapa pekerjanya, orang Indonesia juga?” tanya lelaki pertama.

“Ya siapa lagi. Kalau bawa nelayan dari negeri mereka kan ongkosnya lebih mahal,” ujar lelaki kedua sok menganalisa.

“Waahh…jadi budak di negeri sendiri dong?” cetus lelaki pertama.

“Soal itu, mana tahu saya. Yang jelas, biasanya kapten kapal adalah pemilik kapal. Atau bisa juga ada lagi cukong besar di belakang itu. Sementara kebanyakan awaknya, justru para pekerja asal Indonesia yang siap kapan saja diperintah. Untuk sekadar menarik jala, atau bahkan membetulkan aneka peralatan kapal yang rusak. Persis tulisan dalam artikel Tempo itu,” analisa lelaki kedua lagi. 

“Iya, makanya jadi budak dong,” lelaki pertama seperti ingin mempertegas pendapatnya. 

“Bisa jadi. Lagipula, kalaupun Anda asli orang Indonesia dan Anda adalah pemilik kapal, rasanya Anda pun tak akan dipanggil dengan sebutan ‘tuan’ bukan? Paling banter ‘Bapak’. Bukan begitu?” ungkap lelaki kedua. 

“Benar juga Anda,” jawab lelaki pertama. 

“Satu-satunya yang saya tahu, sebutan ‘tuan’ hanya diperoleh kita saat berkunjung ke dokter dan diberi resep obat. Di resep, nama Anda akan ditambahi gelar ‘tuan’. Nah, ketika petugas kasir memanggil Anda, disebutlah gelar ‘tuan’ yang diikuti nama Anda. Coba saja dengar apa yang dibacakan kasir di loket apotek itu,” ujar lelaki kedua.

Lepas lelaki kedua itu bicara, dari pengeras suara terdengar suara pegawai apotek memanggil nama saya.

“Tuan Rizka Sasongko Aji, ke kasir 2,” sebut pegawai itu mantap. 

Ahhh…benar juga lelaki kedua itu. Walau saya bukan pemilik kapal, toh saya bisa menjadi “Tuan” di negeri sendiri. 

(Ampera, 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s