Saat Castro Memasuki Usia 17

Ia menjajakan kue Putu keliling kampung. Foto @sirizka , 1/4 sec f/3.5 ISO3200

Apa yang Anda lakukan kala memasuki usia 17 tahun? Ada yang berpesta pora lantaran dianggap sudah tak lagi kanak-kanak, tetapi tak sedikit yang hanya biasa-biasa saja. Boleh jadi, para penganut paham biasa-biasa saja, mengikuti apa yang dicanangkan badan kesehatan dunia. WHO, badan itu, mengategorikan remaja pada rentang 11-20 tahun. Meski bagi penduduk Indonesia, usia 17 tahun sudah boleh memiliki, kartu identitas penduduk. Pun demikian dengan surat izin mengemudi (SIM). 

Sedikit bertentangan bila merujuk UU Perkawinan No.1/1974, pasal 47, merujuk bahwa anak itu di bawah 18 tahun. Lanjut pada UU No. 13/2003 yang mengatur ketenaga kerjaan, utamanya pasal 1 angka 23, menyebutkan, anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun. 

 Saya yakin, Fidel Alejandro Castro Ruz atau yang lebih dikenal sebagai Fidel Castro (baca: Kastro),  penguasa Kuba (1958-2008) tak pernah mendengar perihal aturan itu. Yang jelas, saat ia menggulingkan Flugencio Bautista 1958, Castro berusia 32 tahun (lahir 1926 di Biran, Kuba). 

Walau dia seorang beraliran kiri, lantaran kepincut ajaran Marx, tapi dia terlahir dari keluarga juragan gula. Sebagai anak ke-3 dari 6 bersaudara, ayahnya yang bernama Angel -berasal dari Spanyol- berkongsi dengan pemilik United Fruit Company dari Amerika Serikat, ‘raja’ perkebunan pada masa itu. Latar belakang sebagai anak tajir ini membuatnya bergelimang harta. Pada usia 17 tahun, dia bersekolah di Jesuit Boarding School. Dari beberapa literatur menunjukkan, Castro kerap bermain basket yang merupakan olahraga orang kaya di masa itu.

Namun, setelah berkuliah, ia pun berubah haluan menjadi kaum revolusioner, sehingga berhasil menggulingkan Bautisa dan kemudian berkuasa penuh atas Kuba. Sampai wafatnya tahun 2016 (saat usia 90 tahun) dunia mengenal Castro sebagai pembela kaum tertindas yang dilancarkan paham kapitalis. Ia mengubah nasibnya sebagai anak keturunan berpunya, menjadi seperti rakyat jelata untuk memperjuangkan ideologinya. Meski, ada juga yang memberitakan sepanjang hidupnya Castro bergelimang harta. Soal itu, saya tak ingin membahas lebih panjang. 

Akan halnya Castro (baca Castro) yang saya ajak bicara dua hari setelah tahun baru 2017, juga sama-sama berjuang untuk mengubah nasibnya. Ia bukan revolusioner bukan pula pejuang anti kapitalis. Ia berasal dari Brebes, Jawa Tengah untuk kemudian hijrah ke Jakarta dengan harapan bisa mengubah nasibnya. Terlahir sebagai anak petani, Castro (kelahiran 1977) kini menjadi penjual kue putu keliling dengan pikulan. 

“Sebelumnya saya kerja serabutan yang penting bisa menyambung hidup,” tuturnya tanpa memperlihatkan mimik menyesali nasibnya itu.

Keahlian yang diperolehnya itu ternyata menjadi jalan hidup Castro hingga kini. Sudah lebih dari 20 tahun ia menekuni pekerjaan ini. Area kelilingnya meliputi dareah Cilandak, hingga Ragunan, Jakarta Selatan. Bersama teman-temannya, ia mengontrak salah satu rumah di dekat pasar Inpres Cipete. Memasuki usia 39 tahun, ayah dua anak ini masih setia dengan profesinya itu. Saban pagi, disiapkannya adonan tepung beras yang dipadu dengan daun pandan. Kemudian ia memarut gula kelapa, untuk kemudian dijadikan isi kue putu. 

“Sehari habis 5 liter beras. Biasanya sih habis dalam semalam dan saya bisa dapat duit sekitar Rp100.000,” tuturnya.

Penghasilan yang diperoelehnya itu kemudian dikirimkan ke Brebes untuk membiayai kedua anak dan istrinya di sana. Ia terbilang beruntung, selain menjajakan Putu, sesungguhnya ia masih mempunyai sepetak sawah di sana. 

“Setelah panen, bisa disimpan cukup untuk makan 3-4 bulan. Tinggal mencari lauknya. Makanya saya bekerja di Jakarta,” jawabnya sembari tersenyum.

Perihal keahliannya membuat putu itu ia peroleh dari kakaknya yang sudah lebih menekuni pembuatan kue sodok ini. “Saya belajar buat kue Putu kalau enggak salah waktu umur 17 tahun,” tutupnya seraya pamit hendak kembali menjajakan kue itu keliling kampung. 

(Ampera 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s