Keluarga Sejahtera

Apang, ayah tiga anak asal Cidahu, Bogor. Foto: @sirizka 1/60 sec F/3.5 ISO1600

Siapa keluarga sejahtera itu? Bila merujuk pada Pasal 1 ayat 11, UU No.10 tahun 1992 mengenai perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, arti dari kalimat keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota, antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan. 

Oleh sebab itu, sebagai penyelenggara negara yang terikat oleh UUD 1945, Pemerintah merasa perlu untuk mengatur mengenai jumlah kelahiran, kualitas keluarga dan lain sebagainya. Aturan-aturan itulah yang kemudian menelurkan program pengaturan penduduk dari sisi kelahiran (kuantitas) dan kesehatan serta pendidikan (kualitas). Maka muncullah pada masa Orde Baru, jargon “keluarga kecil bahagia: Dua anak cukup, laki perempuan sama saja”. Jargon yang dikemas apik dan kemudian disebarkan melalui media massa terkontrol di era Orde Baru berjuluk ‘Keluarga Berencana’ alias KB itu, memang menganjurkan setiap keluarga memiliki 2 anak saja.  

Meski pada era Orde Baru, terjadi kontradiksi mengingat pimpinan tertinggi negeri justru memiliki 6 orang anak. Secara kuantitas jelas melebihi anjuran pemerintah itu sendiri, tetapi nyatanya, perkara kesejahteraan masih terjamin hingga tujuh turunan. Makanya, saya menduga, bukan perkara kuantitas yang menjadi soal, tetapi ihwal definisi kesejahteraan itu yang menjadi pokok masalah. Tapi itu tentu dugaan saya yang tak berdasar, mengingat pemerintah yang mengeluarkan undang-undang itu tentu jauh lebih pintar ketimbang saya dalam mengartikan seperti apa keluarga sejahtera itu.

Makanya, saya tak bermaksud berburuk sangka dengan pemerintah. Selain itu dilarang oleh Islam -agama yang saya yakini- su’udzon (prasangka buruk) juga bikin capek hati: selalu ingin melihat dan mencari keburukan orang. Nah, oleh karena itulah, saya pun berprasangka baik saja, bahwa pemerintah membatasi kepemilikan anak lebih dari 2 orang, bukan hendak menghentikan jalur keturunan seseorang, melainkan agar anak tidak terlantar lantaran tak bisa diurus dengan baik oleh suatu keluarga di Indonesia. 

Ikhwal apa niat pemerintah pada era Orde Baru itu saya tak ingin mencari tahu lebih lanjut. Yang jelas, Apang -tokoh kita kali ini- memang punya niat ‘melanggar’ UU No.10/1992 itu. Ia yang berusia 51 tahun ini, kini mempunyai 3 orang anak: dua putri dan satu putra. Ketiga anaknya terbilang sudah dewasa. Anak lelaki yang merupakan anak tertua, sudah bekerja, sementara anak kedua menetap di salahsatu pesantren di Jawa Barat. Sedangkan putri terakhirnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Baginya, tiga anak karunia Ilahi itu dirasa belum mencukupi. Ia yang terlahir dari ayah-ibu asli penduduk Cidahu, Bogor merupakan anak kedua dari 7 bersaudara. “Adik saya, anaknya juga banyak, makanya saya pengen nambah lagi. Saya ke doktor (dokter-riz) pereksain istri saya, tapi kata doktor, udah enggak bisa lagi (punya anak). Padahal mah saya masih kepengen nambah lagi,” tuturnya dengan logat sunda yang kental saat berbincang santai dengannya di malam yang dingin di kaki Gunung Salak, Bogor, akhir Desember lalu. 

Lelaki yang berprofesi sebagai tukang bangunan ini tampaknya tak mahfum perihal aturan-aturan yang dikeluarkan Pemerintah pusat. Apalagi sepengetahuan saya, UU. No10/1992 itu belum dicabut ataupun direvisi perihal berapa orang anak yang dianjurkan Pemerintah. Sepengetahuan saya, urusan dua anak menjadi anjuran ‘keras’ untuk ditaati. 

Namun saya haqqul yaqin, Apang tak hendak melanggar apapun aturan pemerintah. Keyakinan ini sekaligus juga kembali menekankan, saya tak ingin berburuk sangka dengan apa yang dilakukan Apang maupun pemerintah. Dugaan kuat saya, Apang bisa jadi terinspirasi dari pernyataan kebanyakan orang bahwa “banyak anak itu banyak rezeki”.  

Jika benar dugaan saya itu, bagi saya Apang termasuk muslim yang taat. Pasalnya, ia punya keinginan persis yang diwartakan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari. Dalam kitab itu Bukhari menuliskan ucapan Rasullullah SAW kala mendoakan Anas Bin Malik yang menyinggung perihal anak. Berikut kutipannya:

“Ya Allah, banyakanlah hartanya dan (banyakanlah) anaknya dan berkahilah apa yang Engkau telah berikan kepadanya,” [Hadist shahih riwayat Bukhari (7/152, 154, 161, 162 dan Muslim 2/128)]

Sebagai tanda lain, dugaan saya kepada Apang mengenai ketaatannya sebagai muslim, manakala ia tak khawatir dengan perkara rezeki bila menambah anak. Demi mendengar jawaban itu, teringatlah saya pernyataan Prof. Dr. Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal dalam salahsatu tausiyah subuh di Masjid Baitul Makmur Ampera. Sang imam mengutip dari Al-Quran Surat Hud ayat 6: 

۞ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Artinya: Dan hendaklah mereka tahu bahwa kekuasaan, nikmat-nikmat dan ilmu Allah itu mencakup segala sesuatu. Tak satu binatang pun yang melata di bumi ini kecuali Allah–dengan karunia-Nya–telah menjamin rezeki yang layak dan sesuai dengan habitat atau miliunya. Allah juga mengetahui di mana binatang itu menetap dan ke mana ia akan ditempatkan setelah kematiannya. Semua itu tercatat di sisi Allah dalam sebuah kitab yang menjelaskan hal ihwal makhluk-makhluk-Nya”.

Apalagi, di akhir pembicaraan, Apang dengan enteng menjabarkan perihal ketidaktakutannya perkara rezeki itu. “Rezeki mah Alloh yang atur, yang penting saya mah enggak diem ajah, kerjain apa yang halal,” pungkasnya dengan mantap.

Mendengar itu, bertanyalah saya dalam hati: Apakah keluarga Apang masuk dalam definisi keluarga sejahtera?

(Cidahu, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s