‘Si Penyapu’ Gunung Salak

Maman relawan Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Foto: @sirizka 1/40 F/3.5 ISO3200

Masih terlintas dalam ingatan, ketika Alm. Dody Aviantara, jurnalis Majalah Angkasa terbitan Gramedia Majalah, menjabarkan aneka jenis pesawat tempur yang dimiliki armada Indonesia dengan fasih. Mulai Tiger F5, hingga F16 milik TNI AU. Rekan peserta pelatihan jurnalistik dasar ketika sama-sama menyandang reporter mula di Gramedia Majalah sekitar tahun 2000 ini memang tak salah bila dijuluki sebagai ‘kamus berjalannya’ dunia aviasi di majalah itu. Ia hapal dengan detail bagaimana kemampuan teknis pesawat-pesawat itu.

Sayang, Avi begitu saya memanggilnya, bersama Alm. Didik Yusuf, fotografer Majalah Angkasa, termasuk dua dari 44 korban kecelakaan di Gunung Salak, 9 Mei 2012 lalu. Jenazahnya, kemudian baru dimakamkan pada tanggal 23 Mei 2012 di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Semua yang mengenalnya berduka, tak terkecuali anak dan istri kedua almarhum.

Ingatan itu kembali muncul manakala Senin 26 Desember 2016 lalu saya bertemu dengan Maman (50 tahun) di kaki Gunung Salak. Ayah dua anak ini dengan bersemangat menceritakan, bagaimana ia yang tergabung dalam relawan di Taman Nasional Gunung Salak-Halimun, melakukan evakuasi jenazah para korban joyflight Sukhoi Superjet100. 

“Jaraknya dari sini (pos Cidahu) sekitar 8 kilometer, jadi saya bersama-sama teman lain menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Lokasi jatuhnya pesawat itu kan ada di tebing, jadi enggak mudah dijangkau,” tutur Maman.

Maman mengaku, keterlibatannya itu bangkit atas kesadarannya sebgai warga setempat. Ia yang lahir dan dibesarkan di kaki Gunung Salak, merasa punya tanggungjawab untuk menjaga kelestarian hutan di gunung itu. Atas lakunya sebagai relawan, ia mengaku tak mendapat bayaran. 

“Saya diperbolehkan buka warung di sini. Karena itu juga saya bantu-bantu untuk melakukan evakuasi ataupun nyari pendaki yang hilang,” paparnya.

Maman menceritakan, ia sudah berkali-kali melakukan evakuasi para pendaki terdaftar maupun liar. Saban ada laporan ada pendaki yang tidak kembali dalam waktu yang ditentukan, Maman dan sejumlah relawan lain bergerak untuk mencari dan mengevakuasi para korban. 

Ia menyebut,selain ada sejumlah pendaki yang terluka, ia juga pernah mengevakuasi jenazah seorang perempuan di puncak Gunung Salak. Soal ini, saya tak berusaha menggali lebih jauh, jenazah siapa dan apa yang menyebabkan kematiannya. Bukan lantaran tak saya anggap penting, teapi cerita penemuan mayat semacam itu, sungguh tak membantu saya dan anak tertua saya untuk terus menapakai jalur-jalur di gunung itu.

Tetapi, manakala ia menceritakan perihal menemukan seonggok makan bercungkup di Puncak Salak I, barulah saya mulai penasaran. Pasalnya, beberpa kali bertengger di sana, rasanya belum ada makam seperti itu. 

“Ada yang bilang itu masih keturunan Prabu Siliwangi. Ada juga yang bilang itu dari Syeh. Makanya ada yang bertapa di sana sampai dua mingguan,” ujarnya. 

Para pelancong inilah yang kemudian meramaikan lalulintas di jalur-jalur pendakian Gunugn wisata itu. Dari sejumlah pengalamannya menjadi relawan, ia pernah juga menjumpai sepasang suamin-istri lanjut usia yang mengaku mendapat bisikan untuk melakukan ziarah ke makanm itu. Atas permintaan itulah ia menganarkan sepasang kakek-nenek itu untuk mencapai Puncak Salak I dan II.

Memang, dalam urusan mendaki gunung dengan ketinggian 2.211 mdpl ini, bukan perkara sulit buat Maman. Ia yang kesehariannya mengelola kedai aneka makanan dan minuman itu sudah hapal sejumlah jalur umum maupun jalur ‘tikus’ yang kerap kali dipakai para pendaki liar untuk masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Salak-Halimun. 

“Biasanya yang begini (pendaki liar) yang susah dideteksi. Kalau ada yang cedera baru deh ketahuan mereka naik. Kalau sudah begitu, kami relawan ya siap berangkat. Pokoknya kalau ada yang celaka, biasanya kami relawan dikerahkan. Soalnya yang jaga resmi dari Perhutnai kan cuma 2 orang. Itupun mereka keliling terus,” tuturnya.

Makanya, ketika ia mendapat kabar adanya pesawat jatuh di Gunung Salak, ia bersama relawan lain bergegas menyiapkan segala keperluan untuk melakukan evakuasi. Dari pengakuannya, saat evakuasi Sukhoi Superjet 100, menguras energi yang tidak sedikit. 

“Saya ikut mengantar para korban sampai ke Halim (Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta). Setelah evakuasi resmi dinyatakan ditutup, saya dan relawan lain masih melakukan penyisiran untuk ‘menyapu’ kalau-kalau masih ada yang tersisa,” paparnya lagi.

Bagi Maman, bukan rupiah yang ia harapkan. “Saya mah senang bisa membantu orang lain. Apalagi kalau menyangkut nyawa kayak di gunung ini,” tutupnya seraya menyodorkan semangkuk mie instan rebus lengkap dengan telor di atasnya.

(Cidahu, 2016)

Advertisements

2 thoughts on “‘Si Penyapu’ Gunung Salak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s