Nomor 2 Kalah Suara

Suasana penghitungan suara disaksikan calon nomor dua (kanan). Foto: @sirizka 1/15 sec f/2.4 ISO 800 (iPhone4S)

Saat tim sepakbola Indonesia berlaga, 17 Desember 2016 untuk memperebutkan piala AFF di Thailand, pertarungan tak kalah seru terjadi di lingkungan Rukun Tetangga (RT) 002, Rukun Warga (RW) 009, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu. Dua kandidat calon Ketua RT 002, malam itu tengah bertarung memaparkan visi dan misi untuk menggaet para pemilih. Petahana Sri tampil lebih dulu. Sebagai calon dengan nomor urut satu, ia mendapat giliran pertama untuk memaparkan visinya.

“Saya enggak mau janji-janji, takut ditagih. Makanya saya mengalir aja seperti air. Tapi kalau dipercaya jadi Ketua RT ada tiga: Pertama, Bagi yang punya kos-kosan, saya harap kerjasamanya untuk mendata yang ngontrak. Sebabnya sering pada engak lapor, tau-tau minta surat domisili. Kedua saya pengen bikin arisan bapak-bapak, biar saling kenal. Masak cuma ibu-ibunya aja yang kenal. Ketiga: saya mau betulin tuh gorong-gorong yang deket masjid, itu kan mampet terus. Segitu aje visi saya,” ujarnya dengan suara dan tubuh bergetar dan mimik serius.

Sebelumnya, dalam laporan pertanggungjawaban, Petahana menyampaikan saat ini ia telah berhasil membuat lampu jalan jadi terang. ia hanya menyebutkan saat ini ada inventaris alat kebersihan: 2 pacul sama 2 gunting rumput. Laporan keuangan hanya disebutkan terlampir tanpa menyebutkan berapa sisa kas yang ada.

Lepas mendengar visi calon petahana, para pemilih yang berada di luar ruangan, terdengar kasak-kusuk. Selentingan terucap, “Lah, laporan keuangannya terlampir, terlampir di mana? kagak disebutin..hahaha,” tutur seorang warga yang dibalas mesem-mesem rekan di sebelahnya.

Lanjut kini giliran Andri alias Otoy memaparkan visinya. Calon nomor dua ini tak mau membuang waktu.

“Saya enggak mau muluk-muluk, kalau Ibu Sri mau arisan bapak-bapak, saya juga mau ngelibatin anak muda. Udah lama kagak ada karang taruna, dulu kita anak mudanya kompak, sekarang kagak. Itu yang penting,” katanya dengan mimik serius. “Kalau sekarang kan ada kegiatan macem-macem anak mudanya enggak dilibatin. Itu aja dari saya,” tambahnya yang disambut tepuk tangan riuh.

Setelah reda tepukan, ketua RW sebagai pemandu acara segera menyambar microphone. Ia pun melanjutkan acara pemilihan dengan mengumumkan setiap kepala keluarga hanya punya satu hak suara.

“Sesuai peraturan Gubernur No.171 tahun 2016, pemilihan ketua RT dilakukan secara demokratis dan langsung oleh warga. Makanya, sekarang kita adakan pemilihan langung dengan menggunakan kertas. Setiap kepala keluarga hanya boleh satu suara ya,” ujarnya lantang.

Tibalah saatnya acara pemilihan. Satu persatu nama pemilih dipanggil dan memberikan suaranya. Lima belas menit berselang, seluruh suara sudah masuk dalam toples. Panitia pun lantas membacakan. Singkat cerita, setelah perhitungan, Andri sebagai calon nomor urut dua kalah 7 suara.

“Ibu Sri dapat 26 suara dan Andri 19 suara. Dengan demikian, pemenangnya adalah Ibu Sri. Mari kita dukung hasil pemilihan yang demokratis ini,” tutur ketua RW.

“Tunggu, demokratis apaan ini!! Undangan disebar kemana aja, katanya tadi yang diundang 83 tapi yang datang 46 doang. Apa itu demokratis? Ini enggak bener, undangan buat yang itu-itu aja!” sembur Haji Udin, salah satu warga. “Gua ini udah 40 tahun di sini, pemilihan kayak gini gua udah apal,” tambahnya lagi.

Dalam catatan pertanggungjawaban sebelumnya, mengenai jumlah warga memang disebutkan. RT 002/09 ada 105 kepala keluarga dengan 290 warga yang terdiri dari 144 laki-laki dan 146 perempuan. Menurut Rosyid alias Ocid, panitia pemilihan, undangan disebar sebanyak 83 . Namun, pemilih yang hadir sejumlah 46 orang.

Keresahan pemrotes itu bukan tanpa sebab. Sebelumnya, tanpa jelas bagaimana mekanisme pemilihan calon, tiba-tiba diumumkan ada dua calon ketua RT: Ibu Sri, Petahana yang menjadi nomor urut satu. Lalu Andri alias Otoy, merupakan calon nomor urut dua. Atas penetapan itu -meski tak pernah dikabarkan, kapan waktu pendaftarannya- pendukung nomor urut 2 yakin, bakal menang.

“Nomor urut 2 kan bagus yak..bisa menang ini hahaha,” ujar salah satu pendukung.

Kembali pada protes yang diajukan, acara pemilihan sempat terhenti. Riuh rendah suara bisik-bisik terdengar. Perdebatan antara pemrotes dengan pantia terus berlangsung. Hingga akhirnya berhenti lantaran pemrotes meninggalkan gelanggang. “Kita lanjutin, dengan demikian calon nomor 1 sah jadi ketua RT 002 RW 009 ya,” ujar pak RW sekaligus menutup pemilihan.

Dengan berakhirnya acara pemilihan malam itu, terpilih sudah ketua RT baru berwajah lama. Calon petahana nomor urut satu, menduduki posisi puncak. Sementara Calon ketua RT dengan nomor urut dua, kembali menjadi warga biasa. Para pendukungnya pun tak banyak bersuara meski mereka meyakini sebelumnya nomor urut dua merupakan nomor keberuntungan, toh nyatanya nomor urut dua harus mengakui keunggulan nomor urut satu.

Sebagai warga RT 002/09 yang baik, saya pun menerima hasil keputusan ini.

(Ampera 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s