Si Penghuni Shaf Depan

foto: @sirizka 1/15 sec, F/2.4 ISO640 (iPhone4S)

Selepas isya, rasa itu kembali muncul. Sebelum seluruhnya hilang dalam ingatan, saya ambil iPad mini dan mulai menuliskan menengai apa yang menyebabkan rasa itu kembali bergejolak. Antara iri, malu, sedih dan juga kesal berkecamuk dalam benak ini. Bukan lantaran situasi saat ini yang dimana-mana selalu terbakar ujaran kebencian hingga cibiran di media konvensional, hingga media sosial. Semua sibuk berkomentar, semua sibuk berpendapat; seolah-olah orang lain tak belajar seperti halnya si penyebar hinaan ataupun celaan. 

Bukan pula gara-gara semakin sempitnya pikiran sesama rekan satu keyakinan yang saling menghujat dengan membela ataupun penentang si penista. Tetapi, rasa iri, malu, sedih dan juga kesal itu timbul lantaran apa yang diperbuat Anto dan Dodi saban saya bertemu keduanya di Masjid Baitul Makmur, Ampera, Jakarta. Ibarat pertandingan sepakbola, keduanya sudah menceploskan lebih dari 20 gol ke gawang saya, sementara saya yang sudah yakin punya kiper dan penyerang tangguh, justru melongo saha. 

Terlahir sebagai tunanetra, dua Kakak-Adik -Anto dan Dodi- selalu saja datang lebih awal ketimbang jamaah lain, saat memasuki waktu-waktu shalat wajib di masjid. Padahal, Duo Nirmata ini tinggal berjarak sekitar 300 meter dari Masjid. Jalan yang ditempuh pun menanjak. Bertempat tinggal di komplek Arsip Nasional Republik Indonesia di Jalan Ampera 1, Jakarta Selatan, Anto -Berbekal tongkat khusus tunanetra- menuntun sang adik untuk pergi-pulang rumah-masjid. Mereka hadir sebelum azan dikumandangkan Mang Abdul, merbot (penjaga masjid) Baitul Makmur. 

“Sebisa mungkin shalat lima waktu di masjid. Makanya saya selalu ajak adik saya ini, setiap mau masuk waktu shalat,” sebut Anto yang berdarah campuran Jawa Tengah dari garis ibu dan Madura dari garis ayahnya.

Demi mendengar penjelasan itu, macam tertamparlah muka ini. Dia yang memiliki kekurangan fisik – keduanya terlahir tanpa bola mata- sepertinya lebih memahami sekaligus menghayati serta mengamalkan apa yang dikatakan Rasullullah SAW, 1.400 tahun lalu dalam menunaikan ibadah shalat wajib. 

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim: 

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar azan shalat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!”

Lepas membaca hadist ini, semakin ‘teballah’ aneka rasa itu berkecamuk hingga menyesakkan dada. “Bagaimana mungkin saya yang waras lahir bathin dengan dua mata lengkap -meski kini sudah mulai plus 1- tak bisa seperti apa yang dilakukan keduanya? Apapula yang menyebabkan saya tak bisa segigih mereka manakala mendengar seruan yang Maha Kuasa untuk ‘menghadap’ pada waktu yang sudah ditentukan? Bagaimana pula urusan dunia ini sepertinya lebih penting hingga urusan akhirat seperti terabaikan?

Sambil mengetik, rasa itu terus berkecamuk. Dari perangkat ini, lamat-lamat terdengar alunan lagu berjudul “Ketika Tangan dan Kaki Bicara” yang disuarakan Alm. Chrisye dan syair dituliskan Taufiq Ismail, inspirasi dari Surah Yasiin dalam Al-Quran.

Ketika kaki tangan bicara//Akan datang hari// Mulut dikunci// Kata tak ada lagi//

“Akan tiba masa// Tak ada suara// Dari mulut kita// Berkata tangan kita//Tentang apa yang dilakukannya// Berkata kaki kita//Kemana saja dia melangkahnya……………

Dan rasa itu tak jua hilang…

(Ampera, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s