Tjikini Di Masa Kini

foto: @sirizka 1/20 sec f/3.5 ISO3200

Sesaat setelah Anton Ego menyuap Ratatouille ke dalam mulutnya, sorot kamera langsung mengarah ke kedua matanya. Kritikus restoran Perancis itu sembari mencecap racikan masakan buah karya Remy (‘juru masak’ restoran milik Auguste Gusteau), saking takjubnya, sampai menjatuhkan pena yang sedang dipegang di tangannya. Lalu, perlahan sorot kamera flashback ke masa kecil Ego. Dengan mata berbinar-binar, seolah rasa makanan khas daerah Nice itu membawa ke rasa masakan yang sama hasil racikan ibunya selepas ia bermain sepeda.

“Inilah masakan yang memiliki perspektif,” begitu dialog Anton Ego dalam film ‘Ratatouille’ produksi Pixar yang dirilis pertama kali pada Juni 2007 di Amerika Serikat.Kalau saja Anton Ego -tokoh rekaan dalam film itu- itu sungguh nyata dan tinggal di Jawa pada masa kecilnya, boleh jadi dia juga akan tercengang dengan menampilkan sorot mata berbinar saat mencicipi sayur lodeh kreasi Kedai Tjikini. Inilah yang membawa saya kemudian seperti mengenang kembali masakan ibu di masa kecil dulu. Teringatlah, selepas mengikuti Perjusami (Perkemahan Jumat Sabtu Minggu) yang diadakan semasa ikut Pramuka di Sekolah Menengah Pertama, di rumah tersedia sayur lodeh berikut lauk pauk berupa tempe dan ayam goreng beserta sambal. Rasa itu kembali muncul manakala mencicipi sajian sayur lodeh komplet -yang isinya persis sama- milik kedai Tjikini. 

Paduan sayuran segar antara lain labu siam, daun melinjo, kacang panjang serta aneka bumbu dapur seperti ketumbar, bawang putih dan lengkuas yang direbus bersama santan encer memberi ‘perspektif’ seperti halnya apa yang diucapkan Anton Ego itu. Sajian-sajian semacam inilah yang kemudian menjadi ciri khas Kedai Tjikini. 

Adalah Dharmawan Handono Warih, yang hampir saban hari kini menjadi komandan di Kedai Tjikini yang didirikannya bersama kedua rekannya itu. Persis namanya, kedai atau lebih tepatnya rumah makan ini memang terletak di Jalan Cikini Raya No 17, Menteng, Jakarta Pusat. Letaknya yang berjarak kurang lebih 50 meter dari Taman Ismail Marzuki, seperti mencoba membangkitkan ingatan masa silam kaum urban Jakarta mengenai kebesaran daerah itu. 

Tak cuma aneka menu masa lampau yang ditampilkan, DHW begitu biasa saya menyapanya, juga mendekorasi ruangan ala zaman Soekarno berjaya. Mulai bangku-bangku hingga dekorasi lampu-lampu. Di ruang belakang, menempel di tembok sepatbor becak berlukiskan pemandangan sebagaimana halnya becak-becak di tanah Jawa. 

“Gua baru dapat timbangan beras,” ujarnya kepada saya pada 7 Agustus 2016 lalu saat saya berkunjung ke kedainya itu. 

Restoran bersemboyan ‘Sedap Segala Rasa’ itu juga menyajikan aneka minuman pembangkit masa lalu. Ada tersedia Sarsaparila Cap Badak produksi PT Pabrik Es Siantar. Selain itu ada juga es cincau hijau, aneka kopi -kini mulai dilabeli Tjikini-. 

Tak heran, banyak pelanggannya datang dari kaum ternama. Demi menjaga merek sebagai restoran ‘masa silam’ kerap kali lokasi ini dijadikan semacam meeting point para pekerja seni maupun politisi. Baru-baru ini, bekerjasama dengan penerbit Komunitas Bambu, mereka meluncurkan buku resep masakan khas Indonesia buah ide dari Ir. Soekarno -Presiden Pertama RI- dengan judul ‘Mustika Rasa’. 

Lantas, siapakah sesungguhnya DHW itu? Bagi saya, dialah salahsatu mentor dalam menggeluti dunia jurnalistik. Tahun 2000, manakala saya sebagai reporter junior, sang kolektor furnitur dan aneka perabot lawas itu, mengajarkan bagaimana menetapkan tujuan penulisan hingga menuangkannya dalam sebuah artikel. 

Yap..selain pehobi masak, DHW juga seorang jurnalis. Ia pernah menjadi jurnalis majalah remaja Hai. Karier jurnalistiknya kemudian menuju posisi terakhir Pemimpin Redaksi Majalah Martha Stewart Living, majalah lisensi asal Amerika Serikat yang kemudian berhenti terbit di Indonesia. 

Seperti halnya memimpin majalah, kini ia harus menjaga ‘orkestra’ Kedai Tjikini agar segala rasa yang disajikan sedap dinikmati para konsumennya. Soal yang satu ini, layaknya pemimpin redaksi, segala masakan yang akan tersaji harus melewati pengawasannya. 

Persis pengawas pada umumnya: selain ketelitian, pengawas dituntut mengerti segala hal berkaitan produk yang diawasinya. Oleh karena itu, DHW tak pernah berhenti membuat Kedai Tjikini menjadi pilihan para konsumen yang ingin merasakan sensasi masa silam.  

Lingkungan yang terletak antara Menteng dengan Salemba itu memang masih menyisakan sejumlah bangunan masa silam. Menurut Scott Merrillees, penulis buku ‘Greeting from Jakarta’ yang mengisahkan perihal sejarah Jakarta di lihat dari kartu pos yang terbit di masa tahun 1930-1980-an, Cikini dari tahun 1920 sampai sekarang masih banyak yang tidak berubah. Mulai adanya kolam renang, hingga peninggalan rumah sakit PGI di Jalan Raden Saleh. 

Tampaknya tagline ‘Sedap Segala Rasa’ tak hanya sebatas pada menu makanannya saja. Kedai Tjikini, seperti membangun ‘rasa’ yang membuat kita kembali ke masa silam. 

(Ampera, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s