Pedang Pura

Foto: @sirizka 1.3 sec f/3.5 ISO100

Wajahnya terlihat sumringah ketika menceritakan peristiwa 47 tahun silam itu. Tepat hari ini, 27 November, prosesi istimewa bersama Letnan Dua (Mar) Achmadi Suprijanto dihelat di Surabaya, Jawa Timur

“Setelah akad nikah, terus upacara Pedang Pura,” kata Ibu saya berkisah.

Ia melanjutkan, Pedang Pura dihelat selepas akad nikah secara agama. Kala itu, para Perwira pertama yang hadir seluruhnya berpakaian lengkap: mengenakan seragam putih dengan tempelan pangkat di pundak; pet putih berlambangkan TNI-AL; pedang berukir lambang TNI-AL komplet dengan semboyan berbahasa sansekerta “Jalesveva Jayamahe” yang artinya “Di laut kita Jaya”.

Layaknya upacara militer, Upacara Pedang Pura ini dipimpin oleh salah satu rekan sebagai komandan upacara. Sayang, rangkaian acara secara detail, baik ibuku maupun almarhum ayahku tak pernah menceritakannya. Namun, baru hari ini, Ibu saya itu menceritakan secuplik kisahnya. 

“Ibu sama bapak berjalan beriringan, di kiri-kanan ada teman-teman bapak yang mengangkat pedang, saling beradu membentuk seperti atap gapura. Setelah itu, melingkar seperti membuat rumah dengan atap pedang,” kenang Ibu lagi. 

Teringatlah sejenak cerita Almarhum ayah saya suatu ketika. Prosesi Pedang Pura ini memang dilakukan sebagai bentuk penghormatan sesama rekan Perwira kepada pengantin. Kata Almarhum, hanya Perwira yang menikah kali pertama yang berhak untuk mendapatkan upacara ini. Hanya Perwira? Ya, hanya Perwira yang berhak memakai Pedang Pura. Sedangkan Bintara/Tamtama -pangkat di bawah Letna seperti Sersan hingga Prajurit- tetap diberikan prosesi melepas masa lajangnya dengan sebutan Upacara Pagar Kehormatan.

Adapun dalam pelaksanaan upacara tersebut, Almarhum meneruskan, terdapat beberapa formasi yang dibentuk dari Tim Pedang Pura atau Pagar Kehormatan, yaitu: Gapura Pedang , formasi yang berbentuk lorong pedang dilaksanakan disaat kedua mempelai akan melewati formasi tersebut, dengan maksud merupakan lambang penghormatan kepada kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga.

Kemudian dilanjutkan dengan Gapura Kehormatan yaitu melakukan penghormatan militer ketika kedua mempelai berjalan menuju formasi itu. Hal ini melambangkan kehormatan bagi kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga. Terakhir, Payung Pura yang disebut oleh ibuku tadi -kedua mempelai berdiri di tengah lingkaran Perwira lain yang mengacungkan pedang ke atas membentuk payung layaknya rumah. 

“Bapak melapor ke inspektur upacara dulu, setelah itu baru masuk dalam lingkaran” cetus Almarhum lagi. 

Inilah lambang penghormatan kepada kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga sekaligus melaksanakan Ikrar Wirasatya oleh kedua mempelai. Ikrar Wirasatya, semacam janji setia dari kedua mempelai sekaligus bentuk janji Perwira yang menikah untuk bertanggungjawab dalam berumah tangga. 

Ikrar ini juga dilakukan sang istri sebagai bentuk janji setia sebagai istri prajurit dan ibu rumah tangga dalam mendukung sang suami untuk mengabdi kepada kesatuannya: TNI Angkatan Laut. Lepas itu, inspektur upacara kemudian memberikan seragam Jalasenastri kepada sang istri sebagai tanda bahwa sang istri sah menjadi anggota Jalasenastri. 

Sayangnya, lagi-lagi Almarhum pun tak memberikan gambaran secara menyeluruh.  Ibu saya pun menambahkan. 

“Pokoknya lewat-lewat pedang itu deh. Di Pucang (daerah di Kota Surabaya) waktu itu belum ada upacara seperti itu,” tutur Ibu saya lagi.

Alhasil, kisah Pedang Pura pun tak bisa saya tuntaskan dalam penulisan ini. Meski kemudian saya menemukan bahwa secara detail sesungguhnya sudah diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan Kasal (Juklak) Nomor Juklak/13/III/2005 tanggal 24 Maret 2005 yang dikeluarkan Kepala Staf Angkatan Laut. 

Nah, perihal mengapa juklak itu baru dimunculkan tahun 2005, saya tak berusaha untuk mencari jawabannya. Toh buat saya, prosesi Pedang Pura sedetail apapun, tak ada pengaruhnya dalam kehidupan ini. Saya pun tak bakal juga menggunakan prosesi semacam itu. Pertama, saya sudah menikah tahun 2000 lalu, dan kedua, saya adalah warga sipil yang tak berhak diarak di bawah pedang militer. 

Lagipula, saya meyakini, urusan nikah itu lebih penting menyatukan perbedaan lelaki dan perempuan agar bisa langgeng, bukan begitu? 

(Ampera, 2016) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s