Aki Si Perajin Tahu

foto: @sirizka1/60 sec, f/5.6 ISO1600

Sepanjang ngobrol dengan Aki -begitu ia minta disapa- tak sedikitpun terlihat bermuram durja. Sesekali, dengan bahasa campur antara Sunda dan Jawa, lelaki berusia 61 tahun ini menebar celetukan-celetukan jenaka layaknya komedian yang tampil diajang-ajang festival lawak. 

“Kamu kerjanya apa sih kok bawa-bawa kamera?” tanyanya kepada saya.

“Saya mau buat tulisan aja Pak, jadi motret,” kata saya.

“Wah sama dong, saya waktu muda dulu juga suka nulis,” ujarnya sembari meneruskan kerjanya meniriskan saripati kedelai yang disaring untuk dijadikan tahu. 

Demi mendapat jawaban itu, saya terperanjat sejenak. Secara tampilan, ayah dari tiga anak ini tidak menyakinkan. Apalagi, ia mengaku pendidikan terakhir yang dicecapnya hanyalah Sekolah Rakyat (setara Sekolah Dasar). Agar rasa penasaran saya lekas terjawab, kembalilah bertanya perihal pernyataan itu. 

“Nulis apaan pak?”

“Banyak, mas biasanya soal makanan,” jawabnya sambil meneruskan pekerjaan.

“Makanan?”

“Iya, makanan sama minuman,” tambahnya.

“Resepnya?”

“Enggak, saya nulis makanan sama minuman di buku utang warung. Makannya pakai apa, minumnya apa…utangnya bulan ini berapa..hahaha…saya tulis sendiri,” celotehnya

“Hahahaha….kirain, bikin tulisan panjang pak,” balas saya.

Maka soal tulis-menulis itu tak saya lanjutkan. Setengah keki dan geli mendengar jawaban dia, semakin menarik berbincang dengan Aki. 

“Maaf mas, saya suka bercanda. Kalau kerja begini enggak bercanda bisa stres nanti,” ungkapnya.

Kali ini dengan mimik serius, Aki menceritakan dirinya sudah menekuni pembuatan tahu sejak 30 tahun lalu. Seperti para ahli otodidak lainnya, keahlian membuat tahu ini didapat dari temannya. 

“Kan enggak ada sekolah jurusan buat tahu mas, ya belajar dari teman aja,” kekehnya.

Kelahiran Cilacap, Jawa Tengah itu menceritakan, seluruh proses pembuatan tahu hingga siap jual biasanya memakan waktu 2-3 jam. Walau demikian, saban hari, ia mengawali pembuatan tahu itu sekitar pukul 07.00. Menggiling kedelai sebanyak satu kaleng ukuran 20 liter yang dibelinya dari bos pemilik pabrik tahu. Tepung kedelai itu kemudian direbus dengan menggunakan uap air sekitar 30 menit. Selepas itu, air tahu di saring untuk memisahkan ampas dengan saripatinya.

“Ampasnya sudah ada yang ambil, buat makanan sapi. Sapi kalau makan ini cepat gemuk dan susunya banyak. Untung istri saya enggak suka makan ampas tahu ya…hahaha,” Canda Aki.

Setelah ditiriskan, kemudian sari tahu diaduk dengan menggunakan tepung kapur (enjet dalam bahasa jawa) agar menggumpal. Gumpalan itu kemudian dituangkan dalam cetakan kayu, untuk kemudian dipotong-potong. Proses itu masih berlanjut dengan menggodok tahu selama kurang lebih 30 menit agar tahu matang. Pada proses ini, dipisahkan tahu yang diberi garam dan kunyit untuk tahu kuning, atau tahu tetap tawar. 

“Satu kaleng kedelai, jadi empat kaleng tahu. Kalau prosesnya biasanya sih cuma 2-3 jam, tapi karena tungkunya gantian (ada sekitar 7 perajin tahu di tempat itu), ya bisa 4 jam deh baru bisa saya jual,” katanya lagi.

Lantas berapa uang yang bisa disisihkan dari jualan tahu? 

“Itu rahasia perusahaan, kalau tahu untungnya berapa, nanti orang-orang pada pengen jualan tahu, kan saya repot hahahahaha………”

“Maaf ya mas, becanda…tapi saya mah bersyukur aja dapetnya berapa. Yang penting halal dan hati tenang.”

Hati tenang memang mahal…

(Ampera 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s