Siapa Pahlawan Anda?

 

Foto: @sirizka 1/40 sec f/3.5 ISO3200

Dandananya hampir selalu sama. Lelaki berkumis itu, kerap menggunakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sedikit hingga ke pergelangan tangannya. Dari kelima jari di tangan kirinya, kuku di ibu jari terlihat lebih panjang dan terawat. Tepat di pergelangan tangan, antara gulungan baju dengan telapak tangan, tersemat gelang dari akar bahar berpadu dengan arloji Seiko. Sementara di jari manis tangan kanan, terbelit cincin bertahtakan batu akik berkelir cokelat.

Andai ia masih mengajar hingga kini, mungkin dandanan dengan celana potongan cutbray (bagian bawah membesar) dan sepatu pantofel kulit berhak tinggi semata kaki, terlihat nyentrik. Beruntung, gaya berpakaian seperti itu dijalaninya 33 tahun lalu.

Lepas dari semua atribut yang dikenakan dan dandanan, buat saya pribadi, Pak Ratno -begitu nama guru saya ini- memberi jasa besar dalam memperkenalkan dunia baca-tulis. Andai ia dan para guru lain tak tekun mengajarkan semua mata pelajaran yang diampunya, boleh jadi banyak murid Sekolah Dasar Negeri 07 Pagi, tak bisa naik ke jenjang lebih tinggi.

Saya juga ingat, kalau berbicara, ia mengeluarkan suara yang lantang, sedikit cempreng dengan nada yang diatur naik turun. “Hari ini pelajaran mencongak! Coba tuliskan 2+2= berapa?” tanyanya pada seluruh siswa.

Sedetik lepas suara itu terhenti, kami para murid, bergegas menuliskan hasil penjumlahan itu di buku tulis bermerek “AA” yang disampul kertas cokelat. Sudah barang tentu, sebagai murid sekolah dasar kelas satu, pertanyaan itu terasa susah dijawab. Jangankan berhitung, menulis saja masih belepotan.

Dari teriakan-teriakan Pak Ratno di muka kelas dan atas perintah-perintahnya itulah, kemudian saya terlecut untuk terus belajar menulis dan berhitung hingga akhirnya bisa memahami apa itu dunia baca tulis.

Lantas, patutkah atas kegigihan dan jasanya itu ia dianugerahi gelar ‘Pahlawan’? Soal ini, pemerintah sudah menetapkan, guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Artinya, mereka adalah orang-orang yang juga memberikan jasa besar dalam membangun masyarakat melalui pendidikan.

Jika ada “pahlawan tanpa tanda jasa” berarti adapula “pahlawan pakai tanda jasa”. Soal ini, tampaknya pemerintah mendefinisikan untuk pahlawan yang merebut kemerdekaan melalui perjuangan fisik, sehingga lebih berkesan heroik dan patut diberi tanda jasa di dadanya. Bahkan, sampai jasadnya diberikan perlakukan khusus, sehingga namanya bukan kuburan atau kober -dalam bahasa Betawi- seperti kebanyakan tempat peristirahatan akhir lain, tetapi disebut sebagai Taman Makam agar tak terkesan angker.

Saya yakin, pemerintah tak hendak membeda-bedakan jasa antara “Pahlawan bertanda jasa” dengan “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Keduanya, diyakini memberikan kontribusi membangun negeri. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Departemen Pendidikan, memberikan aneka tunjangan agar kesejahteraan guru meningkat. Harapannya, guru semakin fokus untuk mengajar ketimbang mengobyek urusan lain.

Soal tunjangan ini, menurut survei yang dilakukan Jobplanet (April 2016) terhadap 3.473 responden guru taman kanak-kanak hingga Dosen, punya nilai rendah ketimbang budaya perusahaan (sekolahan). Artinya tidak menjadi hal utama yang menjadi pertimbangan bagi profesi ini.

Namun bukan berarti tidak penting. Hasil riset itu juga memperlihatkan, gaji rata-rata dosen di Indonesia adalah Rp 3.326.700 per bulan. Untuk guru TK sebesar Rp 2.292.200 per bulan, guru SD hingga SMA sebesar Rp 2.530.350 per bulan, guru privat Rp 2.188.500 per bulan, dan guru kursus bahasa asing sebesar Rp 2.656.300 per bulan.

Berapa guru honorer atau guru tidak tetap? Dari info yang saya peroleh, survei itu tidak menjelaskan secara detail berapa rata-rata gaji honorer yang jumlahnya di Indonesia per April 2016 yang tercatat sebesar 812.604 -seperti dituliskan di laman Koran Pikiran-Rakyat (http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2016/02/12/360659/jumlah-guru-honorer-meledak-hingga-850-persen).

Namun, sekali lagi, bagi tenaga pendidik, tunjangan maupun uang itu bukan masuk prioritas utama. Seperti diceritakan Ibu Ai, guru di SDN Cinagara 3, Cisalopa, Bogor, Jawa Barat. Buat guru honorer yang sudah berkecimpung sepanjang lebih dari 10 tahun di SDN itu, memberikan pelajaran bagi murid-muridnya merupakan kewajiban utama yang dipikirkannya. Sebagai warga asli kampung situ, ia berharap bisa membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk kampung melalui pendidikan. Oleh karena itulah ia memutuskan untuk menetap di desa tempat kelahirannya.

“Saya juga lulusan dari SDN Cinagara 3. Ketika ada lowongan untuk mengajar di sini, yang saya mau meski jadi guru honorer,” katanya.

Baik Ratno maupun Ai, merupakan gambaran umum dari realitas yang terjadi di Indonesia. Menurut saya, mereka merupakan ‘Pahlawan’ dalam memperjuangkan kehidupan bangsa. Perihal tunjangan atau gajinya bagi para guru tetap maupun honorer berapa besar, saya tak berkompeten untuk ikut campur. Sebagai pembayar pajak, urusan ini sebaiknya saya serahkan saja kepada pemerintah yang sudah mendapat gaji dari para pembayar pajak. Yang jelas, buat saya, mereka inilah para pahlawan seperti halnya definisi yang disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran!

(Ampera 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s