Betawi Tanah Akulturasi

repro. 1/80 sec f/2.2 ISO 3200

Assalamualaikum! Kenalin nih aye bawaannye bang Aji asal Pondok Labu mau sowan ke Pondok Gede!” kata centeng berselendang sarung.

Waalaikum sallam! Ada ape jauh-jauh dari Pondok Labu ke Pondok Gede. Nih, kenalin aye nyang jagain Mpok Humeira, dari Kebayoran,” tutur tukang pukul yang jadi tuan rumah. 

Secuplik adegan “Ngerubuhin Palang Pintu” tepat 16 tahun lalu itu, biasa terjadi saat upacara pernikahaan adat Betawi. Tentu saja prosesi tidak berhenti dengan saling menyahut, lepas beradu pantun, kedua jawara itu saling ‘maen pukulan‘ hingga akhirnya, rombongan penganten lelaki bisa ‘meminang’ sang dara pujaan hati. 

Lepas upacara itu, dilanjut tarian Sirih Kuning yang ditampilkan. Prosesi berlanjut dengan pembacaan doa dan kemudian seperti layaknya acara pernikahaan, giliran para tetamu memberi selamat atas bersatunya dua sejoli ini. Selama prosesi yang memakan waktu hampir dua jam itu, serombongan pemain Gambus (grup musik berirama padang pasir) mendendangkan lelaguan berbahasa arab. 

Bukan cuma upacara pernikahannya saja yang bercampur baur, tetapi juga cara berpakaian yang dikenakan para pengantin memperlihatkan silang budaya itu. Untuk jenis ini, pengantin pria memakai pakaian “Dandanan Care Haji” yang dipengaruhi pakaian bangwasan Timur Tengah. Sementara sang pengantin wanita, berjubahkan pengantin China dengan hiasan burung Hong di atas mahkotanya, berikut dengan ‘tirai’ yang menutup wajah sang pengantin.

Upacara diisi dengan campuran aneka budaya, pun demikian dengan cara berpakaian. Lantas bagaimana dengan pengantinnya? Inipun tak ketinggalan, keduanya merupakan campuran dari berbagai suku di Indonesia. Sang pengantin pria kelahiran Jakarta, merupakan keturunan dari “Timur Tengah” (Ibunya asli Magetan, Jawa Timur, sementara Ayahnya berasal dari Jawa Tengah tepatnya Purwokerto). Sedangkan pengantin perempuan, dilahirkan di Jakarta dari orang tua blasteran Betawi (sang Ayah) dengan Cirebon, Jawa Barat dari garis ibu. 

Tak salah lagi, inilah Betawi! Tanah segala akulturasi. Rangkaian upacara pernikahaan itu bisa menjadi contoh nyata, bagaimana kebudayaan Betawi merupakan campuran dari bermacam budaya di tanah air bahkan dari belahan dunia lain. Ini sekaligus membuktikan masyarakat Betawi tidak alergi terhadap perubahan ataupun masukan yang dirasa membawa kebaikan. Selama itu tak menyalahi aturan agama Islam yang dijunjung tinggi masyarakat Betawi, selama itupula segala macam budaya dapat diterima. 

Contoh lain, tengoklah dunia kesusasteraan di Ibu Kota ini. Kenal dengan S.M Ardan yang bernama asli Sahmardan penulis cepen “Terang Bulan Terang Dikali” (Gunung Agung, 1955)? Tulisannya begitu terasa Betawi, padahal ia sendiri kelahiran Medan, Sumatera Utara tahun 1932. Tokoh lainnya, Firmansyah (atau biasa disebut Firman saja) Muntaco yang asli anak Cideng, Jakarta. Ada juga penulis yang lahir di Jakarta tetapi keturunan bangsa lain (Arab) seperti Muhammad Bin Salim Balfas yang didapuk sebagai salahsatu sastrawan Angkatan 45 penulis cerpen “Anak Revolusi“. Balfas merupakan kelahiran tahun 1921 dan wafat pada tahun 1975. 

Jauh hari sebelum mereka yang disebutkan itu, dalam buku “Kembang Goyang: Orang-Orang Betawi Menulis Kampungnya  (1900-2000)” terbitan Padasan, 2011, terekam sketsa-sketsa Betawi yang ditulis oleh peranakan China seperti Oom Piet di Surat Kabar Taman Sari di awal tahun 1900-an. Ada pula Tio Ie Soei kelahiran Jakarta tahun 1890 dari ayah asli Tiongkok dan ibu China peranakan. Ia sempat bekerja di Harian Sinar Betawi dan menulis buku “Pieter Elberveld: Satoe kedjadian jang betoel di Betawi (1924). 

Belum lagi dari sisi kulinernya. Ada ketupat sayur yang saya perkirakan merupakan akulturasi dari makanan melayu. Adapula Nasi Uduk, dengan rasa hampir mirip nasi lemak di Malaysia atau di beberapa daerah bahkan ada yang mirip dengan nasi kebuli – masakan khas Timur Tengah. 

Sejumlah informasi singkat tersebut, sekali lagi, membuktikan bahwa Betawi tidaklah alergi terhadap perubahan. Bahkan, saat warga kampung lain berebut kursi untuk memimpin kampung sini, kebanyakan warga ‘asli’ seperti tak mempersoalkan selama itu tak mengganggu persoalan yang prinsipil semacam aturan agama Islam.  

Kesadaran perihal ‘Betawi Tanah Akulturasi’ ini, semakin menumpuk dalam benak saya pribadi sejak menikahi perempuan yang ayahnya asli Betawi. Atas pernikahan ini, saya meyakini, Betawi merupakan gambaran bagaimana sesungguhnya Indonesia mini: terdiri dari berbagai suku bangsa terikat dalam satu persamaan. Inilah daerah Bhineka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi satu. 

Semoga saja sampai akhir hayat, tanah Betawi terus terjaga, seperti halnya harapan saya terhadap pernikahaan beda budaya yang di tanggal 5 November 2016 ini sudah 16 tahun saya jalani bersama perempuan pujaan hati. Insya Allah…….

(Ampera 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s