Masuk Angin

Foto: @sirizka 1/15 sec f/3,5 ISO3200

Apa bahasa inggrisnya masuk angin? Merujuk dari laman google translate, bisa diartikan sebagai colds atau catching colds. Sebelumnya saya lebih sering mendengar orang menyatakan dengan enter the wind. Tentu saja ini terjemahan sesukanya bukan? Berhubung bahasa merupakan produk budaya, jadi maklum saja bila orang menyebutnya demikian.Semakin berkembangnya kebudayaan, kata para pakar, semakin berkembang pula bahasa yang digunakan. Dulu tak ada istilah gawai, kini kata itu mulai dipopulerkan untuk mengartikan smart phone. Sebelum alm. Rosihan Anwar menemukan kata “Anda” untuk kata ganti orang kedua, para penulis masih sering memakai ‘kamu’. Pun demikian ketika Zorica Dubovska, menemukan kata “Swasembada” untuk menjelaskan “usaha mencukupi kebutuhan sendiri”. Atas temuan kata ‘swasembada’ itu , ilmuwan asal Ceko ini diganjar Bintang Jasa Pratama dari Presiden Republik Indonesia. 

Bahasa terus berkembang, pun demikian dengan ilmu pengetahuan karena manusia selalu berpikir dan berkesadaran. Kata Aristoteles, filsuf Yunani, manusia model begini tergolong pada animal rationale -mahkluk berkesadaran. Alhasil, bahasa pun pada gilirannya mengikuti perkembangan ilmu pengetahun. Itu pula tampaknya perihal penyebutan ‘masuk angin’ tak lagi diterjemahkan secara harafiah. 

Akan halnya ‘masuk angin’, apakah itu? Tak tahulah saya definisi masuk angin secara medis. Yang jelas, ketika perut terasa kembung, badan pegal-pegal terkadang dibarengi dengan rasa mual dan diiringi sedikit demam, tak salah lagi ini bisa dikategorikan ‘masuk angin’. Obatnya? Mau cara modern, silakan minum obat yang banyak diiklankan. Kalau mau cara lain, menurut takaran nenek moyang bangsa kita, serangkaian tanaman bisa jadi solusi mengusir derita itu. Mulai minum godokan rimpang jahe hingga herbal modern yang tinggal minum. Cara lain? Tak asing dan tak bukan, kerokan ataupun dengan bekam.

Perihal metode bekam, diyakini bisa segera mengusir angin-angin jahat dalam tubuh yang menjadi penyebab utama. Saya tak tahu pasti, sejak kapan metode ini digunakan, yang jelas hijamah (sebutan bekam oleh bangsa Arab) di dalam Islam dianjurkan. Bahkan metode yang orang Sumbawa dan sekitarnya sebut dengan batangkik ini, dinyatakan dalam hadis (perkataan atau perbuatan Nabi Muhammad SAW) yang menjadi salah satu rujukan umat muslim. 

Lantas, seperti apa bekam itu? Cara bekam bisa dibilang tak rumit: pada titik tertentu di tubuh, disedot dengan menggunakan alat semacam gelas, untuk kemudian beberapa lama didiamkan sehingga darah terkumpul di lokasi tersebut. Ada bekam basah adapula bekam kering. Untuk yang basah, setelah darah terkumpul kemudian diberi sayatan tipis, sehingga ketika disedot berikutnya bisa mengeluarkan darah ‘kotor’. Nah, darah inilah yang diyakini bisa mengganggu kesehatan. Sementara cara kering, tanpa sayatan yang hanya menyedot ‘angin jahat; dalam darah tersebut. Walau terlihat sederhana, untuk melakukan bekam membutuhkan keahlian khusus sehingga tak boleh sembarang orang melakukan cara tersebut sekenanya. 

Pun demikian dengan alat yang digunakan. Ada yang memakai gelas bening, ada pula yang menggunakan tanduk kerbau ataupun tanduk sapi. Konon penggunaan tanduk kerbau kali pertama dilakukan oleh herbalis asal China bernama Ge Hong yang hidup di abad ke-4 masehi. Ia menyebut metode ini dengan nama jiaofa. Soal ketepatan informasi ini, selayaknya perlu dipelajari lebih jauh.

Jika benar Ge Hong sudah memulai cara bekam dengan tanduk kerbau pada masa itu, alangkah menariknya ketika saya kembali menemukan cara sama di suatu gelaran wayang kulit Agustus 2016 lalu di wilayah Selatan Jakarta. Adalah Warso -sebut saja begitu- yang menjelaskan cara kerjanya. Berbekal lebih dari 15 tanduk kerbau yang dibawa saban ada keramaian, ia selalu bersiap untuk ‘menyembuhkan segala macam penyakit dengan ‘menyedot’ sumber penyakit. ‘Pasien’ diminta membuka seluruh baju, kemudian tanduk kerbau yang sudah digosok sedemikian rupa sehingga rapi, dipanaskan dengan korek api gas, sesaat kemudian ditempelkan ke tubuh sang penderita sakit. 

Kemudian, persis seperti metode bekam pada umumnya, si penderita dibiarkan sejenak dengan tanduk menempel di sekujur tubuh. Adakah hal ini bisa menyembuhkan penyakit sang pasien?

Soal ini Warso meyakinkan saya akan segala keajaiban bekam yang dijajakannya. Ia menyatakan, segala jenis penyakit akan menyingkir atas usahanya itu. Katanya,” bekam ini banyak manfaatnya buat tubuh. Sakit apa saja bisa hilang,” tuturnya.

Demi mendengar penjelasannya itu, saya justru lebih tertarik dengan metode dan alat-alat yang digunakan Warso untuk menugusir penyakit itu. Tampaknya, tak semua di dunia ini berubah mengikuti perkembangan zaman dan gejolak budaya. Jadi kalau ada yang menyebut: “sesuatu yang abadi adalah perubahan itu sendiri” rasanya tesis itu perlu diuji. 

Bukankah cara Warso persis sama dengan cara Ge Hong yang hidup di abad ke-4? 

(Ampera 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s