Ini Dia Pemuda Betawi

foto: @sirizka 1/30 sec f/3.5 ISO3200

Siapa kenal Muhammad Rochjani Su’ud? Selain Muhammad Husni Thamrin, nama itu alpa dari ingatan saya. Meski keduanya adalah orang Betawi tulen, tapi Rochjani Su’ud, tak pernah tenar sebagaimana Thamrin. Maklum saja, Su’ud tak punya jabatan mentereng seperti halnya tokoh yang lain. Walaupun kala Kongres Pemuda kedua tahun 1928 yang melahirkan Soempah Pemoeda, ia masuk dalam salah satu panitia Kongres Pemuda II itu.

Su’ud adalah anak Betawi yang lahir tahun 1906. Bersama Abdul Chalik, Su’ud mendirikan Pemoeda Betawi sebagai organisasi pergerakan di tahun 1927. Abdul Chalik kemudian didaulat sebagai ketua sementara Su’ud menjabat sebagai sekretaris. Namun, Su’ud kemudian ditunjuk sebagai wakil Pemoeda Betawi dalam kongres pemuda tersebut. Sayang, peraih gelar Meester in de Rechten (Mr) sarjana hukum lulusan tahun 1927 dari Rechtshogeschool Batavia ini, kemudian seperti lenyap ditelan bumi. Setidaknya, saya sendiri tak bisa mendapatkan cerita lebih lanjut perihal Su’ud.

Su’ud dan Thamrin sesungguhnya hanya segelintir dari ratusan atau bahkan ribuan pemuda Betawi yang punya jasa buat negeri ini. Atas dasar penilaian saya yang sudah tentu saja perlu dikaji lebih jauh, lantaran saya bukan sarjana sejarah, ataupun ahli perihal cerita masa silam. Nah, berhubung saya begitu kepincut tulisan-tulisan Alm. Mahbub Djunaidi, yang jurnalis sekaligus sastrawan dan juga politikus kelahiran Jakarta, bolehlah saya menobatkannya sebagai orang yang punya jasa besar pula terhadap bangsa ini. 

Mahbub, sejak muda sudah ikut memperjuangkan kepentingan bangsa melalui kiprahnya di dunia organisasi kepemudaan. Beranjak usia, ia menjadi jurnalis lalu melanjutkan dalam kancah politik. Sampai akhir hayatnya, ia masih setia menyuarakan keresahan masyarakat melalui tulisan-tulisannya. 

Akan halnya menyuarakan keresahan masyarakat itu juga dilakukan pemuda Betawi era digital masa kini. Tersebutlah satu nama yang kini memilih musik rap sebagai sarana perjuangannya. 

“Panggil saye Kojek Rap Betawi Bang,” ungkapnya kepada saya saat berjumpa dengannya di Pustaka Betawi, milik Rachmad Entjad Sadeli, Selasa (25/10) . September 2016 lalu, Kojek baru merilis video klip baru menyusul video sebelumnya. Klip terbaru ini muncul di saluran youtube berjudul “Andai Gue Gubernur” ( https://m.youtube.com/watch?v=qkb4L_ktLlw ). Isinya perihal bagaimana orang Betawi kini semakin terpinggirkan. 

Perjumpaan dengan Kojek memang difasilitasi sang empunya perpustakaan Betawi itu. Awalnya, Rachmad Entjad Sadeli pendiri Pustaka Betawi mengabarkan ia punya satu buku berjudul “Humor Jurnalistik” kumpulan tulisan Mahbub yang sudah lama saya cari. Demi mendengar itu, maka meluncurlah saya ke tempatnya. 

“Ente dateng aje, ini ada bukunye di sini,” ujar Rachmad, yang juga rekan lama saya sejak menjadi jurnalis. “Nanti malem, ada Kojek Rap Betawi, juga mau dateng,” tambahnya lagi. 

Tak menunda waktu, sayapun bergegas ke Pustaka Betawi di Cilandak Marinir, Jakarta Selatan. Benar saja, di tempat yang dipenuhi literatur perihal Betawi ini, Kojek ditemani rekannya sudah asyik berbincang dengan sang empunya rumah. Demi menjaga sopan santun layaknya tamu, basa-basi obrolan segera meluncur. Mulai perkenalan diri, hingga berbincang perihal pekerjaan. 

Hei!! Tapi ini tanah Betawi!! Basa-basi tak perlu panjang lebar. Ceplas-ceplos celetukan, diiringi seruput kopi segera mendera. Obrolan terus meluncur berkaitan dengan segala hal keprihatinan kaum muda Betawi.

Kaum muda Betawi? Yap..Tokoh kita kali ini, Kojek Rap Betawi yang punya nama asli Muhammad Amrullah, salah satu sosok pemuda asli Jakarta. Lahir di Sunter, Jakarta Utara 29 tahun lalu, berbincang dengan Kojek -sapaan akrabnya- langsung terasa hangat. Tak terasa ada jarak mesti secara harafiah memang tak berjarak karena Pustaka Betawi hanya berkuran 2 meter x 3 meter. 

Kojek boleh dibilang Betawi tulen. Walau sang bunda sedikitnya berdarah Sumedang, toh babeh Kojek orisinal orang Sunter. Lahir dari keluarga pendidik, ayahnya yang guru dan ibunya juga berprofesi sama, Kojek kecil kerap kali dinasehati agar mengikuti jejak kedua orang tuanya. 

“Mpok saya juga jadi guru, tapi saya memilih untuk jadi rapper Betawi,” tuturnya dengan logat Jakarta yang kental. 

Ia mengaku, dunia hiphop yang ditekuni ini sempat mendapat pertanyaan besar sang babeh. Pasalnya, hiphop terasa kental dengan dunia barat yang jauh dari peradaban Betawi. Maklum, tanah Jakarta yang mayoritas beragama muslim, lebih akrab dengan musik gambus yang beraroma Timur Tengah. Tetapi, pemilik album hiphop berjudul “Betawi Punya Rapper” yang dirilis tahun 2012 ini tak gentar. Sifat Betawi tulen yang bisa mengadaptasi situasi, tampaknya melekat dalam diri Kojek. Alhasil, rap yang dinyanyikan itu justru dibuat dalam bahasa Betawi. 

“Sebenernye, rap itu deket sama budaya Betawi. Lihat aje tuh enyak-enyak Betawi kalo nyap-nyap, ngomongnya udah kayak orang nge-rap kan?”

Apa boleh buat, semangat membaja yang dimiliki Kojek ditambah daya adaptasi terhadap situasi, membulatkan tekadnya untuk tetap berada di jalur musik ini untuk mengangkat Betawi. Meski demikian, apa yang dicita-citakan sang ayah agar dirinya menjadi pendidik, masih terus melekat dalam alam bawah sadarnya. Walau dalam bentuk berbeda (ia tak menjadi guru sebagaimana guru pada umumnya) Kojek justru memilih untuk membuat sekolah gratis di tempatnya dia tinggal. Di Cileungsi, yang bukan Jakarta, lelaki yang juga penyiar radio Ben’s dengan program Kojek Show itu mencari donasi untuk seluruh kegiatan belajar mengajar di sana: mulai menyediakan guru hingga prasarana. 

“Kerjasama dengan salah satu bank swasta nasional. Juga beberapa kali konser yang biayanya dikasih salah satu produsen minuman ringan. Untungnya semua buat biayain sekolah. Saye enggak ambil sepeser pun,” serunya.

Atas jerih payahnya ini, ia mengaku tak memperoleh pendapatan berupa harta berlimpah. Tetapi, “Hati ini jadi tenang bang…” sergahnya.

Ini dia sosok Pemuda Betawi masa kini!

(Wijaya, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s