Sedekah Mardani

Foto: @sirizka 1/160 sec f/9.0 ISO100

Apa bunyi pasal Undang Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1, 2 , dan 3? Sejak sekolah dasar hingga selesai penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila alias P4 pola 45 jam, saya tak pernah hapal, apa isinya. Maka, saya bukalah buku saku UUD45. Pasal 34 ayat 1 berbunyi: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Begitu membaca ayat pertama, tergelitik dalam hati saya, siapa si fakir dan siapa pula si miskin?

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan fakir sebagai orang yang sangat berkekurangan atau orang yang miskinnya sangat keterlaluan. Perihal miskin diartikan sebagai orang yang tidak berharta, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Singkat cerita, bila merujuk dari definisi itu orang fakir sudah pasti miskin tapi orang miskin belum tentu fakir. 

Terlepas dari definisi mana yang lebih menunjukkan orang melarat, dalam berbagai ceramah agama yang saya dapatkan, kedua makhluk Tuhan ini perlu diberikan bantuan bahkan santunan. Oleh karena itu, pada ayat kedua pasal 34 UUD45 disebutkan: Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Disambung dengan ayat ketiga yang berbunyi: Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. 

Pun demikian dengan anjuran para pemuka agama yang kerap kali menghimbau para umatnya untuk memberikan santunan kepada fakir-miskin dan anak terlantar. Bagi yang berkecukupan, hendaknya menyisihkan sedikit hartanya untuk para pemegang gelar fakir dan atau miskin itu. 

Ikhwal berkecukupan apakah artinya memiliki harta berlebih? Sekali lagi, ini perkara definisi yang perdebatannya bisa panjang tanpa ujung pangkal. Tetapi bagi Mardani, soal berkecukupan tak perlu definisi yang rumit.

“Asal bisa buat makan saya terus nyisain dibawa pulang ke Bogor buat nenek (sebutan buat istrinya) sama nyisain buat sedekah, itu sudah cukup,” tutur lelaki 74 tahun yang saya temui Ahad (16/10) lalu. 

Sedekah? Persis! ucapannya tidak keliru. Saban mendapatkan hasil penjualan aneka perabot rumah tangga yang dipikulnya berkeliling Lebak Bulus hingga Blok A (saya perkirakan lebih dari 20 kilometer) ia sisihkan Rp2.000 -Rp 5.000, untuk kemudian diakhir tahun ia ‘belanjakan’ untuk melakukan pengajian di rumahnya di Bogor. 

“Saya undang tetangga terus ngaji kalo deket lebaran,” ungkapnya. 

Tokoh kita ini memang tak berbicara dan berpikir dengan njelimet. Sebagai pedagang perabot rumah tangga yang bermodalkan pikulan, warga Pabuaran, Bogor itu mengaku tak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Lantaran itupula ia mengaku awal mula berdagang tahun pada tahun 1960, ia ikut dengan orang lain tanpa berbekal ilmu dagang sekolahan. Kemudian, setelah mendapatkan modal sendiri, mulanya berdagang kukusan yang dibelinya di Pasar Tanah Abang, lalu dijajakan keliling dengan pikulan. Kemudian sedikit demi sedikit ia sisihkan untuk mendapat modal hingga bisa terus berdagang.

Dalam menjajakan dagangannya, ia selalu berkeliling dari satu kampung ke kampung lain. Ia menceritakan, daerah Lebak Bulus hingga Mayestik, Jakarta, masih berupa kebun karet. Sementara di daerah Cilandak tempat saya bertemu dengannya, “Masih berupa rawa-rawa sebagian besar,” paparnya. 

Saking seringnya ia berkeliling di daerah ini, sejumlah tokoh lokal banyak ia kenal. Sayangnya, tak semua tokoh masyarakat kawasan Cilandak hingga jalan Antasari yang ia ingat namanya. “Pokoknya saya kenal pak Haji sini sampe ke jalan Haji Nawi sana. Saya kenalnya pak haji aja kalo manggil…hehehehe….”

Walau ia berdagang sampai memiliki empat cucu dan mengenal sejumlah haji, toh kehidupannya sendiri masih jauh dari apa yang pemerintah tetapkan sebagai orang berkecukupan. Ambil contoh patokan upah minimun regional Jakarta yang berada di atas Rp 3 juta per bulan. Mardani mengaku, tak setiap hari dagangannya dibeli orang. Harap maklum, tak setiap hari pula orang butuh gayung ataupun sapu ijuk yang menjadi jualannya. Alhasil, seringkali ia hanya mendapat uang tak lebih dari Rp20.000. “Kalau segitu, ya paling buat makan saya aja,” ujarnya lagi. 

Bila merujuk dari definisi perihal fakir miskin, tampaknya Mardani masuk dalam kategori miskin: ia bekerja tapi tak bisa mencukupi kebutuhannya. Jika sepakat dengan definisi itu, selayaknya Mardani mendapat perlindungan negara karena konstitusi mensyaratkan demikian. Persis seperti apa yang tertuang dalam UUD45 pasal 34 ayat 1,2 dan 3. 

Lebih penting lagi, sebagai warga negara yang termasuk dalam golongan miskin, Mardani lebih pantas mendapat sedekah ataupun bantuan dari orang lain ketimbang ia menyedekahkan hartanya untuk orang lain. Atas pemikiran itu, seolah Mardani paham dengan jalan pikiran saya, di akhir perbincangan ia berucap. “Sedikit-sedikit (sedekah) enggak apa asal berkah. Kita hidup kan juga mikir buat nanti (akhirat). Iya kan pak?”

Dan saya tertegun…!

(Ampera 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s