Betawi Adalah….

Foto: @sirizka

Persis manusia lain pada umumnya, orang Betawi itu punya satu kepala, dua kaki dan dua tangan. Bernapas menghirup oksigen dan juga perlu air minum: air bening, lain waktu teh, seringkali menyeruput kopi. Tak ada yang aneh-aneh dari orang Betawi. Meski banyak pula yang menyebut orang Betawi juragan tanah, tapi tak sedikit pula orang Betawi yang digusur para pendatang daerah lain hingga ke pinggiran daerah tempat lahirnya. Bahkan, sejak Indonesia merdeka tahun 1945, rasanya tak sekalipun orang yang memimpin daerah tempat tinggalnya berasal dari Jakarta secara utuh. Kalaupun ada, bukan Betawi ‘murni’ yang memimpin. Saya sendiri tak pernah mendengar masyarakat Betawi cerewet atas kepemimpinan orang daerah lain di kampungnya sendiri. Pun demikian ketika banyak orang berebut kursi jabatan tertinggi di daerah ini, kebanyakan mereka bukan asli Betawi tetapi sibuk menggalang massa seolah-olah merekalah yang paling berhak untuk memimpin Betawi. 

Tetapi, sebenarnya, siapa sih orang Betawi itu? Apakah sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, berhak menyandang diri sebagai orang Betawi? Kalau tidak, lantas apa syaratnya bisa disebut sebagai warga Betawi asli?

Baru-baru ini, terbacalah status yang diunggah rekan saya di media sosial miliknya. Ia mengutip dari laman ‘sunting bebas’ alias wikipedia yang mendefinisikan perihal masyarakat Betawi. Mudah ditebak, lantaran laman itu mudah disunting -baik dikoreksi dengan menambahkan atau mengurangi- validitasnya dipertanyakan rekan-rekan lain. Bantahan bermacam-macam. Ada yang merujuk dari zaman dahulu sesungguhnya beberapa penemuan-penemuan arkeologis di bantaran sungai-sungai yang berada di Jakarta sudah mengindikasikan masyarakat Betawi tidak ujug-ujug jatuh dari langit. 

Ada pula yang menyebutkan, Betawi itu lahir dari keturunan raja-raja di pulau Jawa, khususnya dari kerajaan yang hidup di Jawa Barat. Lebih mendalam lagi apa yang disajikan pada makalah yang disajikan pada lokakarya di Universitas Jakarta tanggal 19 September 1988, seperti dikutip jurnalis kawakan Alm. Mahbub Djunaidi dalam tulisan Asal-Usul yang dibukukan (Penerbit Harian Kompas, 1996). Mahbub menuliskan, makalah itu memberikan perspektif baru perihal asal-usul siapa orang Betawi itu. Dalam penjelasannya, sejarahnya berawal dari tahun 130 Masehi, manakala Raja Dewawarman memerintah kerajaan Salakanagara, kemudian setelah itu muncul kerajaan Tarumanegara, lantas Sunda Sembawa, kemudian Kendan lalu Sunda Galuh. Berlanjut ke Sunda Pakuan, Pajajaran, lalu Sunda Banten, Indraprahasta, lalu Saunggaluh, Sunda Galunggung, Sriwijaya, Bahulapura, Talaga, Katingga, Majapahit, Pasai, Malaka dan Sunda Kelapa. 

Sementara perihal nama Betawi itu sendiri, adapula yang menyebut asal kata dari Batavia, Betai ataupun dari Betara Dewi, gelar raja Saka Uko Fatwati atau raja Sunda Kelapa IV. Ada juga yang menyebut dari asal kata Fatawi atau Fatawa. Soal macam-macam sebutan ini saya pun awam adanya. Saya bukan ahli sejarah, bukan pula antropologis yang mesti mencari sumber sejarah negeri sendiri justru mendapatkan dari luar negeri. Saya hanyalah orang awam sebagaimana kebanyakan orang lain yang hidup di Jakarta.

Oleh sebab itu, pengetahuan dan pemahaman saya terhadap Betawi, bolehlah dimaklumi lantaran jauh dari literatur-literatur yang seharusnya menjadi rujukan dan kemudian diperdebatkan. Satu-satunya sumber yang terus menerus saya pahami dan ketahui adalah persinggungan saya dengan masyarakat yang menyebut dirinya Betawi Asli. 

Seperti halnya persinggungan saya dengan Ncang Mameh ini. Kakak dari ayah mertua saya ini terlahir dari keluarga yang sudah turun temurun berada di tanah Betawi. Ia sendiri, menurut pengakuannya, terlahir di tahun 1930 di Senayan, Jakarta Pusat. Kemudian besar dan menikah seta tinggal di seputaran jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. 

Seperti lazimnya orang Betawi kebanyakan, ia memiliki sejumlah kontrakan. Menariknya, puluhan tahun tinggal di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan, para pendatang yang mengontrak di rumah, seringkali dipersilakan untuk makan sepuasnya di rumah induk yang ditempatinya. Tak perlu ongkos tambahan, karena buat Ncang Mameh, “Kalau ada (makanan), makan aje, tapi seadanya ,” paparnya suatu kali.

Pernah suatu ketika, dari cerita yang saya dengar, ia dengan entengnya mengajak orang yang baru saja bertamu untuk pertama kali, dipanggilnya masuk ke dapur untuk mengambil makan. Bisa jadi, lantaran itupula ia tak pernah terlihat berkeluh kesah perihal apa yang dimilikinya. Seolah hidup di dunia tak peduli dengan harta. Kalau versi para ahli agama islam, boleh jadi ia termasuk orang yang zuhud atawa tak membesarkan arti dunia.

Menurut taksiran saya, perilaku tak neko-neko itu bisa terlihat dari selera makannya. Ia tak suka makan makanan yang dimasak dengan aneka bumbu: hanya sayur bayam bening dengan tempe goreng. Terkadang hanya sayur bening berisi kentang. Ikan, daging ataupun ayam, hampir tak disentuhnya. “Amis baunye, kagak doyan,” tuturnya. 

Soal makan memang ia tak berlebih. Tapi jangan tanya soal ibadah yang tekun dilakonin. Layaknya muslimah yang taat beribadah, Ramadhan 1437 hijriyah lalu, ia tak menyia-nyiakan kesempatan mengeruk pahala sebenar-besarnya. “Puase saye enggak ada yang batal,” ungkap perempuan berusia 86 tahun ini sembari tersenyum menampakkan deretan gigi yang masih komplet. 

Nah ini dia Betawi sesungguhnya!

(Ampera, 17 Oktober 2016)

Advertisements

2 thoughts on “Betawi Adalah….

  1. Bravo Rizka!! Aku baru tahu asal muasal orang Betawi ni. Thanks ya Rizka memberi inspirasi untuk menulis juga….
    Salam
    Irma Yanny

    1. Bu Irma
      Terima kasih atas atensinya ya. Soal asal muasal Betawi, masih perlu diskusi lebih lanjut. Ini saya dapat hanya secuil cerita dari sejumlah perdebatan mengenai muasal Betawi. Kalau ada informasi lain, itu lebih baik…

      Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s