Jaga Agar Tak Putus Sekolah

 

Salah satu siswa SDN Cinagara 3. Foto: @sirizka, 1/13sec, f/3.5 ISO 3200
 
Saban saya mampir ke toko serbaada di seberang jalan Ampera, Cilandak, Jakarta Selatan, ada saja iming-iming aneka bonus. Ada kalanya terpampang promosi : beli 2 kaleng minum ringan, bonus 1 kaleng dengan rasa sama. Lain waktu, belanja kudapan bungkus, beli 1 gratis 1. Senangkah hati ini? Bisa iya, bisa pula tidak, apa sebab?

Bonus yang ditawarkan memang menggiurkan. Kalau harga minuman ringan kaleng biasa dijual satuan seharga Rp10.000, lantaran promosi dengan iming-iming bonus itu, dengan duit Rp20.000 saya bisa dapat tiga kaleng. Artinya, per kaleng minuman soda itu hanya dihargai tak lebih dari Rp7000. Kalau melihat harga itu, bergembiralah saya bisa berhemat Rp3000 per kaleng. Tetapi, apa iya saya butuh 3 kaleng ukuran 330 ml untuk sekadar melepas dahaga? Rasanya tidak perlu sampai segitu banyak. Selain menambah beban tas belanjaan, kalau perut saya terus digempur soda sebanyak 1.000 ml dalam sekejap, bisa-bisa kembung bukan kepalang. Oleh karena itu, bagi saya, bonus itu bisa menguntungkan, bisa pula menjerumuskan.   

Meski tak sama persis, perihal bonus ini juga sempat ramai dibicarakan media massa nasional di tanah air beberapa waktu lalu. Kali ini bukanlah bonus membeli barang, tetapi pemerintah terus melontarkan bahwa Indonesia bisa menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang sejajar dengan negara maju karena pada tahun 2035 nanti jumlah angkatan kerja (usia 15 tahun – 64 tahun) lebih tinggi ketimbang jumlah penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan 64 tahun ke atas). Inilah yang kemudian para pakar ekonomi menyebutnya sebagai bonus demografi. 

Namun, persis aneka barang tadi, untuk mendapatkan bonusnya, ada syarat yang harus dipenuhi: beli barangnya dan tebus di kasir setempat. Pun demikian dengan bonus demografi seperti yang dicetuskan sejumlah kaum cerdik cendekia di negeri ini. Jika Indonesia ingin menikmati bonus tersebut, syarat yang harus dipenuhi: siapkan penduduk usia yang belum produktif (14 tahun ke bawah) dengan tiga komponen. Pertama; tingkat harapan hidup tinggi. Artinya sejak usia dini badan harus sehat. Urusan kedua adalah kehidupan yang layak. Indikatornya masyarakat mampu membelanjakan duitnya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Nah, yang terakhir adalah akses terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dilihat dari seberapa tinggi tingkat melek huruf dan berapa lama rata-rata anak itu bersekolah.

Ihwal yang terakhir ini, tersentaklah saya atas indikator yang dipakai. Walau pemerintah memiliki berupa-rupa program pengentasan buta huruf bahkan hingga kewajiban bersekolah bagi anak sampai usia 14 tahun, toh harian Kompas, Jumat (7/10) di halaman pertama menyajikan laporan berjudul: “Tingginya angka putus sekolah masalah serius.”

Muchlis Rantoni Luddin, Pembantu Rektor Universitas Jakarta Bidang Akademik, yang dikutip dalam artikel itu, menjelaskan, angka putus sekolah saat ini, bisa menggerus makna bonus demografi. Dalam artikel itu juga mengungkapkan, data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada periode 2015/2016, ada 1,014 juta anak putus sekolah yang tidak melanjutkan dari SD ke jenjang SMP. 

Alhasil, bila merujuk pada tingginya angka itu, bisa jadi pada tahun 2020-2035 nanti, bonus demografi yang digadang-gadang bisa menguntungkan Indonesia justru sebaliknya. Tanpa mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, usia produktif 14 tahun -64 tahun hanya akan menjadi buruh di negeri sendiri. Sementara ‘tuannya’ berasal dari negara lain yang sudah bebas melenggang masuk akibat perjanjian perdagangan bebas yang sudah diberlakukan. 

Apa iya, nantinya ‘beli’ tenaga kerja Indonesia persis beli barang promosi di toko serbaada: cukup bayar satu, gratis satu. Itu ter…la…luu! 

(Ampera 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s