Setelah e-dagang, Menanti e-pawang

 

foto: @sirizka 1/125 sec f/3.5 ISO 100

 Pawang juga sebangsa pekerjaan. Untuk orang yang bisa menjinakkan ular, ia dijuluki Pawang Ular. Pun demikian dengan orang yang bisa menyuruh singa ataupun harimau melompat-lompat menerobos lingkaran, ia juga disebut pawang. Tepatnya pawang harimau ataupun pawang macan. Akan halnya orang yang sanggup mengusir ataupun menahan hujan, ia digelari sebagai Pawang hujan. 

Untuk jenis pekerjaan terakhir ini, sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk menggunakan jasanya. Maklum, saat hajatan turun hujan, bukanlah sesuatu yang diharapkan. Oleh karenanya, keahlian pawang diperlukan untuk kemudian ‘mengusir’ ataupun ‘menahan’ turunnya hujan. 

Namun, biasanya, orang yang bekerja sebagai pawang, juga punya keahlian metafisika lain: entah dia bisa meramal nasib orang lain -dan mungkin saja nasib dirinya sendiri- hingga urusan lain yang kebanyakan orang awam tak bisa mengatasinya: medis bukan, non medis susah membuktikan. 

Meski pawang juga dianggap pekerjaan, tapi jangan coba-coba cari orang di seantero negeri ini yang mencantumkannya dalam KTP ataupun SIM. Paling banter, jenis pekerjaan ini dituliskan sebagai wiraswasta. 

 Hal sama persis dialami salahsatu pemilik pekerjaan ini yang saya temui di sela ajang Car Free Day, Ahad (1/10). Usianya belum masuk 40 tahun, tapi “saya kelihatan lebih tua kan?” ujar lelaki yang memiliki akun Facebook bernama Mbah Suro. Soal panggilan ‘Mbah’ -yang identik dengan orang tua- itu sendiri ia dapatkan dari rekan-rekan yang meminta nasihatnya. “Kalau sama yang sering konsultasi melalui Facebook bisa mencapai ribuan. Ada yang di Indonesia, ada juga yang di luar negeri,” tutur Mbah Suro perihal berapa banyak orang yang kerap berkonsultasi dengan dirinya. 

Pria yang mencantumkan namanya di kartu nama dengan sebutan Mbah Yudhy Jupiter Mph. Gmh, ini mengaku memiliki pengetahuan spiritual sejak masih kecil. Ilmu kejawen yang dimilikinya merupakan hasil turunan dari sang kakek yang diceritakan olehnya sebagai kejawen tulen. 

“Saya tidak ingat persisnya kapan bisa melakoni seperti ini. Tetapi, seingat saya, waktu itu pernah menyembuhkan orang kesurupan di kereta. Sejak itu saya baru menyadari, saya memiliki ilmu seperti kakek saya,” tutur kelahiran Pacitan, Jawa Timur ini.

Ayah dua anak yang tinggal di Sunter, Jakarta Utara itu, mengaku memiliki kelebihan dalam hal magis ketimbang orang lain sebayanya. Belakangan, Mbah Suro yang mengelola Padepokan Inti Sedjati ini kerap dimintai tolong beberapa pihak penyelenggara event untuk ‘membersihkan’ dari gangguan-gangguan yang tak kasat mata. 

Menariknya, untuk aksi pawang hujan -ritual untuk menggeser waktu hujan- ia sudah menggunakan fasilitas kekinian. Bila dahulu, biasanya sang Pawang setelah ijab-kabul perihal hajatan yang akan dilakukan, akan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mengunjungi lokasi dan juga hadir lebih awal ke ke tempat hajatan untuk ‘mengkondisikan’ suasana agar hajatan tak terganggu hujan. 

“Jadi dulu harus sehari penuh dan sekarang kita pun tidak perlu selalu berada di lokasi terus-terusan seperti zaman dulu. Kini Bisa dipantau melalui Google Map misalnya,” ungkapnya lagi.

Mbah Suro menceritakan, sebelum menggeser hujan, ia akan mengecek dulu ramalan cuaca yang dikeluarkan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau menggunakan fasilitas weather caster yang ada di perangkat lunaknya. Tujuannya, “untuk mencocokkan apakah waktu hujan dari BMKG itu sama dengan waktu penyelenggaraan event. Kalau sama, ya waktu itu saja yang saya geser hujannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, pengenyam pendidikan ekonomi dari salah satu universitas swasta di Jakarta ini menjelaskan. Misalnya, penyelenggaraan event antara pukul 09.00 -12.00. Jika di BMKG menyatakan di waktu itu akan turun hujan, maka hujan tersebut digeser ke waktu setelah itu. 

Walau demikian, Mbah Suro masih menyakini, urusan spritual bukanlah perkara yang kasat mata. Oleh karena itu, ia pun masih melakukan ritual-ritual sebagaimana yang diajarkan para tetua terdahulu. Di padepokannya kerap kali diajarkan untuk bermeditasi hingga hal-hal spritual lain. Hanya saja, di tempatnya itu juga diajarkan bagaimana seluruh proses yang tiadak kasat mata itu bisa masuk dalam logika manusia. 

Tampaklah kini, tak cuma urusan surat menyurat saja yang sudah berubah memanfaatkan era digital. Bukan juga cuma melulu dunia perdagangan atau e-commerce yang kini gencar dijadikan unggulan hingga menggaet China, bisa jadi, urusan pawang semacam ini juga nantinya akan bisa ‘dikirim’ melalui surat elektronik. 

Mimpi?

(Ciganjur, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s