Satu Banyumas, Dua Sunaryo

Foto: @sirizka 1/320 sec, f/3.5 ISO100

Dari beberapa nama Sunaryo yang saya kenal, dua berasal dari daerah karisedenan (batas wilayah administratif) Banyumas, Jawa Tengah. Nasib keduanya bak langit dan bumi: satu perupa kelas dunia, satu lagi pedagang kelas kaki lima. Tapi dari keduanya, saya menemukan satu kesamaan: gigih untuk menghasilkan hal yang sempurna.

Ihwal Sunaryo yang posisinya di “langit”, kala saya wawancarai sekitar tahun 2000, sungguh membuat tertegun dan penuh takjub. Pasalnya, Sunaryo sang pemilik galeri sekaligus cafe ‘Selasar Sunaryo Art Space’ di Bandung itu, mengubah bebatuan menjadi karya seni yang dianggap para punggawa seni kelas dunia, punya nilai tinggi. Meski dalam karya seni semacam itu, saya pun sungguh tak mengerti bagaimana menilai batu kali dibelah-belah kemudian disatukan dengan logam semacam kuningan serta disusun sedemikian rupa sehingga bisa nampak berbeda dari bentuk asalnya. 

Atas karya-karyanya itulah, pria kelahiran Banyumas, 15 Mei 1943 itu kemudian diganjar berbagai macam penghargaan. Maklum, untuk membuat sebuah batu bernilai tinggi semacam itu, terkadang ia harus merenung dan melakukan perjalanan jauh mencari bahan-bahan yang diperlukan. Bahkan, kini ia membangun Wot Batu atau lebih mudahnya disebut sebagai ‘taman bebatuan’ yang dikembangkan dari bermacam karya-karyanya. 

Bagi lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (1962-1969) dan Studi Patung Marmer di Marble Technology, Carrara, Italia ini, benda-benda mati semacam bebatuan ataupun patung-patung, bukanlah benda mati yang tak mempunyai jiwa. Ambil contoh perihal ‘memanusiakan’ benda mati semacam mobil yang bagi kebanyakan orang, dianggap sebagai alat transportasi biasa. Saat saya berkunjung ke Selasar Sunaryo yang terletak di jalan Sersan Bajuri, Bandung, awal tahun 2000, ia memperlihatkan dua Volkswagen simpanannya: VW Kodok keluaran tahun 1950 dengan lampu sein semaphore yang sudah selesai di restorasi dan sebuah Karmann Ghia yang belum selesai digarap. Apa yang dilihat Sunaryo pada kedua mobil ini?

“Bagi saya, VW Kodok dan Karmann Ghia adalah sebuah karya seni yang belum jadi. Makanya ini bisa membuat inspirasi terus untuk berkarya,” jelasnya kala itu. 

Tak heran, dalam merestorasi VW Kodok itu ia membutuhkan bertahun-tahun hanya untuk berburu onderdil ataupun aksesori orisinal milik kedua mobil simpanannya itu. Tak segan ia merogoh kocek dalam agar ‘karya seni’ ini bisa tampil sempurna. 

Akan halnya Sunaryo versi ‘bumi’ yang saya temui di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Ahad (25/9) lalu, punya kesamaan dengan Sunaryo versi ‘langit’ yang saya ceritakan sebelumnya. Kakek satu cucu ini selalu memeriksa setiap tempe yang akan dibuatnya menjadi mendoan. Saban hendak mencelupkan tempe mentah ke dalam adonan tepung, ia mencium tempe memastikan kondisi tempe masih baik. 

“Kalau sudah semangit -tempe berbau-, saya enggak goreng. Kasihan pelanggan saya,” tutur Sunaryo sembari menyingkirkan tempe tersebut. “Tempe semangit gini sebenarnya enak buat lodeh,” tambahnya. 

Dalam obrolan singkat dengannya, saya menangkap, setiap mendoan yang dibuatnya, haruslah tampil prima di mata konsumen. Hal ini terlihat dari ceritanya mengenai pemilihan bahan tempe yang dipesannya khusus ke perajin tempe di daerah Bendungan Hilir. 

“Harus tempe seperti ini (tempe tipis yang dibungkus daun pisang). Kalau sudah habis, ya sudah saya enggak mau pakai tempe biasa yang diiris-iris tipis. Rasanya beda,” jelasnya ayah tiga anak ini yang mengaku saban hari bisa menghabiskan 40 lembar tempe mendoan. 

Ihwal kesempurnaan akan hasil karya inilah yang membuat antara Sunaryo seniman tingkat dunia dan Sunaryo gorengan punya kemiripan. Selain tentu saja keduanya berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. 

(Ampera, 2016) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s