Uang Tamu Dini Hari

 

Foto: @sirizka 1/40 sec f/3.5 ISO 3200
 Siapa menanti tamu pada dini hari? Dalam keyakinan yang saya anut, ketika Ramadhan tiba, bangun malam hari kemudian menanti ‘tamu’ yang bernama Lailatul Qadar, sungguh dinanti dan diharapkan kita bisa berjumpa dengan malam ‘yang lebih baik dari seribu bulan’ ini. Ganjaran pahalanya sangatlah luar biasa, sehingga tak cuma saya sendiri yang menanti, tetapi hampir seluruh umat muslim di Indonesia -bahkan dunia- mempersiapkan diri dengan segenap kemampuan agar ‘berjumpa’ Lailatul Qadar’ di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Begitu berharganya malam itu, sehingga malam di luar Ramadhan, tak banyak umat muslim yang menanti hingga dini hari. Pun demikian, ada juga yang rajin bangun malam untuk bertahajud ataupun mencari nafkah. Khusus pencari nafkah, Budi bisa menjadi contoh. Hampir saban malam, lelaki asal Purworejo, Jawa Tengah itu selalu menanti tamu-tamu untuk mampir di gerobak nasi goreng miliknya di Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Bersama sang isteri ia yakin, setiap tamu yang hadir dikedainya, selalu membawa uang tunai untuk diberikan sebagai ganjaran atas jasanya meracik dan memasak makanan pesanan para tamu. Simbiosis mutualisme: keduabelah pihak saling diuntungkan. Budi mendapat uang, sang tamu mendapat masakan yang dipesan. 

“Rejeki halal mas, karena saya enggak mau anak istri makan rejeki yang enggak halal. Biar sedikit asal halal dan berkah,” sebut Budi yang diamini sang isteri. 

Maklum, Budi yang mempersunting isterinya asal Tegal, Jawa Tengah itu dikarunia tiga anak. Si Sulung kini menginjak usia remaja, dan Budi ingin, ketiga anaknya bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik dan mendapat pekerjaan formal tak seperti dirinya. 

“Semoga bisa lebih baik dari saya,” cetusnya lagi sambil terus menyiapkan nasi goreng pesanan para tamu.

Bagi Budi, tamu-tamu itu menjadi ‘jalur’ untuk mendapatkan rejeki dari sang Pencipta. Belanja bahan siang hari, kemudian menyiapkanya sore hari, untuk selanjutnya ia jajakan pada malam hingga dini hari. Duetnya bersama isteri mencari nafkah hingga dini hari, tak menyurutkan niatnya untuk mencari rejeki halal demi keluarga yang dibangunnya. 

Beruntung Budi bukan bukanlah pejabat negara. Andai ia menduduki posisi penting di negeri ini, perihal tamu yang diterimanya itu bisa jadi perkara. Pasalnya, sang tamu sudah tentu membawa uang tunai untuk menebus jasa Budi karena sudah memberikan ‘kemudahan’ untuk menyantap makanan kala tengah malam. 

Saya yakin, tamu Budi tak seperti tamu yang hadir ke rumah salahsatu pejabat negara yang kini tengah menghebohkan negeri. Paling tidak, dalam kantong tamu-tamu Budi si penjaja nasi goreng, hanya tersimpan duit tunai Rp200.000, jauh lebih kecil dari uang tunai yang diantarkan oleh tamu pejabat negara itu yang besarnya mencapai Rp100.000.000. 

(Ampera, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s