Matematika Allah

 

foto: @sirizka 1/13 sec f/3.5 ISO 3200

 

Andai Thomas Robert Malthus masih hidup, niscaya ia akan tercengang dan berpikir ulang akan teorinya yang tersohor itu saat berjumpa Mang Abdul, merbot (penjaga) masjid Baitul Makmur, Ampera. Pasalnya, kehidupan Mang Abdul yang sudah dilakoni saat ini, jelas bertentangan dengan teori yang dicetuskan demografer dan ahli ekonomi asal Inggris itu. Ahli yang hidup tahun 1766-1834 ini menyatakan: pertumbuhan penduduk mengikuti deret hitung sementara pertumbuhan bahan makanan mengikuti deret ukur. Singkatnya, pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pertumbuhan bahan makanan sehingga pada suatu titik, manusia akan kekurangan bahan pangan.

Toh nyatanya, Mang Abdul yang memiliki 7 anak itu tak kurang-kurangnya terus bersyukur lantaran selama hidup berumah tangga lebih dari 25 tahun dengan sang istri, ia bisa mencukupi kebutuhan pangan, sandang dan papan sang keluarga.

“Ini namanya matematika Allah,” kata Mang Abdul dengan logat Sumedang yang kental.

Ia sendiri mengaku heran bila diajak berhitung dengan penghasilannya sebagai penjaga masjid yang hanya Rp1.500.000 per bulan bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya itu. Bukan cuma sekadar memberikan makanan sebagai kewajiban utama. Tetapi ia pun bisa memberikan rumah dan pendidikan bagi istri dan ketujuh anaknya.

“Anak saya yang terbesar usianya sudah 25 tahun. Dia sudah lulus kuliah dari salah satu universitas di Jawa Barat dan sekarang bekerja di sana juga. Dia belum lama ini menikah,” jelas Abdul.

Anak keduanya, lebih memilih menjadi peternak sapi. Demi keinginannya itu, Abdul rela mengirimkan anaknya ke salahsatu lembaga pelatihan ternak di Jawa Tengah.

“Sekarang saya modalin sapi buat ternak sendiri di kampung,” tuturnya lagi.

Anak ketiga hingga kelimanya, mengenyam pendidikan di pesantren di Sumedang: pagi sekolah berbasis islam, sorenya madrasah diniyah (khusus agama). Untuk ketiga anaknya di pesantren ini, saban bulan Abdul harus membayar uang sekolah Rp 2.500.000. Itu belum biaya bulanan kedua anaknya yang tinggal bersama sang istri di rumah.

“Makanya, saya bilang ini matematika Allah. Kalau dari gaji saya sebagai merbot aja udah enggak cukup kan?”

Makanya, demi mencapai semua itu, Abdul di sela-sela waktu istirahat selepas shalat dhuhur hingga menjelang ashar, ia mengajar mengaji di beberapa tempat. Atas jasanya memberikan ilmunya itu, ia tak mematok angka pasti.

“Terserah yang mau kasih, mau berapa aja saya terima. Ada yang kasih Rp 100.000 ada juga yang Rp500.000 atau ada juga yang enggak bayar, saya terima. Namanya rezeki, ya harus disyukuri dengan ikhlas aja,” sergahnya lagi.

Ikhlas dan mensyukuri nikmat itupula yang pada kelanjutannya justru mendapat ganjaran dari sang Maha Pencipta. Saat Ramadhan tahun 2010, meski tak pernah ia bermimpi untuk mencapai Tanah Suci Mekkah, toh seorang pengacara dermawan, memberangkatkan ia untuk beribadah selama 1 bulan penuh di Mekkah dan Madinah. Tak tanggung-tanggung, ia berangkat dengan fasilitas kelas atas: menginap di hotel Hilton tepat di halaman Masjidil Haram. Selain itu, ia pun masih dibekali dengan uang saku yang berlebih.

“Keluarga saya di Sumedang juga dikasih uang untuk biaya hidup karena selama 1 bulan di Mekkah kan saya enggak bisa kirim uang ke kampung,” jelas lelaki yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar berbinar-binar.

Atas semua yang diperoleh itulah ia semakin yakin tak ada rumus matematika atau teori ekonomi di dunia ini yang bisa menetapkan arah hidupnya seperti yang diterimanya. Jangan-jangan arwah Thomas Robert Malthus masih terus memutar otaknya di liang lahat, demi mencari teori apa yang cocok buat Mang Abdul. (Ampera, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s