Tujuh Hari Berbagi

foto: @sirizka 1/6 sec f/1.8 ISO640

“Sudahkah kita berbagi dengan memberi kepada orang lain hari ini?” Tiba-tiba pertanyaan itu terus berdengung di telinga saya selepas berbincang dengan Steve Sudjatmiko, Chief Financial Officer PT Sababay Industry dalam perhelatan yang mengangungkan dunia digital beberapa waktu lalu. Ia tak hendak menasehati, tetapi cerita perihal program yang dikembangkan kepada istri petani anggur di Bali yang sedang dijalankan, membuat pertanyaan itu muncul terus-menerus dalam telinga saya. 

Steve, lelaki asal Ambengan, Jawa Timur itu, menceritakan. Sababay, produsen wine dari Bali itu kini mengembangkan sistem pertanian plasma untuk mendapat pasokan bahan baku secara terus-menerus. Tetapi bukan itu yang hendak saya ceritakan. Perihal bagaimana Sababay mengelola bisnisnya hingga bisa menyabet gelar juara ketiga pada kontes wine di Italia, sudah dibahas habis di majalah Tempo edisi 3 September 2016. Yang membuat saya terus didera raungan pertanyaan seputar berbagi dan memberi itu adalah program berjuluk “Comet”. 

“Itu adalah singkatan dari compassion bracelet. Kami memberikan bahan baku untuk buat gelang. kemudian gelang itu dibuat oleh ibu-ibu petani anggur. Setiap orang boleh mengambil satu, gratis! Tetapi ada syaratnya,” ujar Steve yang sempat bekerja di Accenture, konsultan manajemen ini. 

“Apa itu?” tanya saya.

“Mudah saja. Setelah ambil gelang, kemudian kamu harus memberi kepada orang lain apa saja yang kamu mau berikan. Bisa baju, atau sekadar duit receh, atau apapun bentuknya. Tetapi harus dilakukan selama 7 hari berturut-turut. Kalau sehari tidak berbagi, program itu harus diulang lagi.”

“Tujuh hari?”

“Iya, tujuh hari.”

“Siapa yang mengawasi Pak?” saya lanjut bertanya.

“Tidak ada, ya diri sendiri saja,” ujar Steve. “Dengan berbagi dan memberi kita akan bahagia, itu yang mau kita bangkitkan dari program ini,” tambahnya bersemnagat. 

Deggg…Mengertilah saya mengapa dalam Alquran -kitab suci yang saya yakini- hampir setiap ayat di dalamnya, menyandingkan urusan shalat dengan sedekah: satu urusan hubungan dengan Tuhan, sementara sedekah lebih berurusan dengan manusia. Semacam petunjuk agar menjaga keseimbangan hidup manusia di dunia. Mengingat Tuhan kewajiban, tetapi berhubungan baik dengan manusia, jangan dilupakan.

Kalimat terakhir dari Steve itu kemudian membawa ingatan saya pada tulisan-tulisan di buku “Ikhlas Tanpa Batas” (zaman, 2010). Untuk berbagi dengan orang lain, ada syarat mutlak yang harus dipunyai setiap orang: ikhlas. Nah, urusan inilah yang tampaknya tak mudah buat saya lakukan. Pasalnya, apa iya kita rela membagi rejeki yang kita dapat susah payah dengan orang lain? Kok ya enak banget, kita yang kerja dia dapat bagian? Kita berkeringat mencari rejeki, mengapa harus berbagi dengan orang yang tidak kita kenal?

Untuk menjawabnya tak mudah, apalagi untuk mengikhlaskannya. Maka dari itu, ketika Steve melontarkan pertanyaan perihal berbagi dengan sesama, pernyataan itu persis berondongan pukulan Muhammad Ali kala menghentikan Sony Liston di ronde ke-7 tahun 1964. Ali menang dengan ‘memberi’ banyak pukulan ke wajah Sony Liston, petinju yang saat itu ditakuti karena sebelumnya selalu mengandaskan lawan-lawannya di ronde pertama. Sementara Ali (saat itu masih bernama Casius Clay) bukanlah petinju yang diperhitungkan. Tetapi, sekali lagi, karena Ali banyak ‘memberi’ daripada ‘menerima’ pukulan, ia berhasil mengalahkan Sang juara dunia di atas ring tinju. 

Andai saya seperti Ali……

(Pejaten, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s