Rejeki Berbagi

 

Foto: @sirizka, 1/60 sec f/4.0
 
Ketiklah kata “Wiwit” di laman pencarian Google. Saat saya melakukan hal itu tanggal 25/8/2016 lalu, dalam 0.34 detik, muncullah 1.550.000 hasil dari pencarian itu. Pada halaman satu, terbentang laman-laman lengkap dengan foto masing-masing orang di situ. Andai jumlah itu mewakili setiap individu di dunia, artinya ada sekitar 1.550.000 orang bernama Wiwit. Nah, saya beruntung berjumpa dengan salahsatu pemilik nama asli Wiwit ini pada Rabu, (24/8/2016). 

Perawakannya sedang. Ia mengaku berayahkan asal Wates, Jawa Tengah dan ibu asal Pemalang, Jawa Tengah. Anak tertua dari tiga bersaudara, Wiwit R, begitu nama yang tertera di dashboard angkutan umum yang saya tumpangi, merupakan kelahiran Jakarta 40 tahun silam. Lelaki berjenggot tipis ini terlahir di Cengkareng, Jakarta Barat dan menghabiskan masa mudanya di sana hingga bangku sekolah menengah atas. Itulah pendidikan formal yang terakhir disinggahinya.

Lepas dari soal pendidikan, ayah dua anak ini menyimpan ‘harta’ terpendam yang patut diperbincangkan. Ia bukanlah selebritas papan atas yang plesiran menghabiskan dana besar mendapat liputan khusus. Ia juga bukan politisi Senayan yang duduk diam terkadang tertidur meraih gaji besar. Ia juga bukan semacam politisi partai yang hari ini bilang setuju, lain waktu ada kesempatan yang lebih menguntungkan, berbelok arah mengatakan ‘tidak’, selama itu bisa menyelamatkan batang hidungnya.

Ia pun bukan calon pejabat publik yang bisa meloncat ke sana-kemari untuk sekadar menduduki jabatan tertinggi di daerah. Meski sudah ‘menipu’ dengan menyatakan bisa berdiri sendiri toh pada kenyataanya malah berbalik arah minta dukungan berbagai pihak yang sebelumnya dikecam habis-habisan. 

Tokoh kita kali ini, hanyalah orang biasa yang mendapatkan pemasukan harian sebesar Rp50.000-Rp100.000 tergantung bagaimana situasi penumpang yang menggunakan jasanya. Mulai bekerja pukul 03.05 dinihari, untuk kemudian menyusuri jalan-jalan Ibu Kota yang macetnya bukan kepalang untuk mencari penumpang yang masih ingin memakai jasanya untuk kemudian kembali pukul 21.00.

Walau demikian, berbincang dengannya selama kurang lebih 45 menit dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat menuju Cilandak, Jakarta Selatan, mengertilah saya mengapa ia selalu mengucapkan nada-nada optimis setiap mendiskusikan kondisi saat ini. “Alhamdulillah, saya sekarang sudah punya rumah sendiri. Itu hasil saya kerja sebagai sopir taksi,” ujarnya bangga. 

Tak hanya itu, anak tertuanya yang kini duduk di SMA selalu mendapat ranking lima besar. Sebagai ganjarannya, sang buah hati ini diberi beasiswa dari perusahaan tempat Wiwit bekerja. “Lumayan, sebulan Rp600.000,” tambahnya lagi. 

Untuk menopang hidupnya sehari-hari, selain mengandalkan hasil menyopir, Wiwit juga sedikit mengandalkan dua petak kontrakan hasil waris dari mertuanya. 

“Tapi kontrakan jelek Mas, jadi harganya enggak mahal, hanya Rp750.000 per bulan. Ada yang saranin direnovasi biar bisa naikin harga, tapi saya enggak mau. Khawatir yang sekarang ngontrak nanti enggak bisa ngontrak lagi. Kasihan mereka mau tinggal di mana?” jelasnya.

Demi mendengar penjelasan itu, saya sedikit kaget. Pasalnya, tak seperti kebanyakan pebisnis, berinvestasi demi mendapatkan untung yang lebih besar. Ia malah berpikir sebaliknya. 

“Yang ngontrak itu satu kamar isinya tukang odong-odong delapan orang, kamar satunya tukang siomay dan cilok. Enggak tega saya mas, kalau harganya naik, mereka mau dapat tempat di mana lagi? Nanti malah enggak bisa cari rejeki, kan kasihan,” ungkapnya.

Andai 1.550.000 Wiwit melakukan hal serupa….

(Ampera, 25/8/2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s