Tawa Sarmani

foto: @sirizka

Saban hari, ia berbelanja di pasar Cikopomayak, Jasinga, Bogor. Tetapi, tak seperti biasanya, hari ini Sarmani, si pedagang buah, membeli lebih banyak macam. Ada sawo 3 kilogram; jeruk 2 kilogram; mangga indramayu 4 kilogram, salak 2 kilogram dan apel malang 2 kilogram. Ia berharap, keriaan di lapangan kecamatan Cikopomayak untuk memperingati 71 tahun Indonesia merdeka, bisa meludeskan seluruh dagangannya itu. Selepas berbelanja, seluruh dagangannya diatur rapi di dalam dua keranjang anyaman bambu yang dilengkapi sebatang pikulan. Kakek buyut bercicit 8 ini kemudian memikulnya untuk kemudian dijual secara eceran.

“Apelnya seribu sebuah; sawo dua ribu; jeruk ada yang seribu ada yang cenggo (seribu limaratus); kalau salak dua ribu dapat tiga buah. Kalau mau mangga indramayu, lima ribu sebuah,” ujarnya dengan logat sunda yang kental menjelaskan banderol setiap dagangannya.

Siang itu ia mengaku sudah mangkal di pojok lapangan yang berjarak sekitar 100 meter dari panggung hiburan. Menurut cerita warga setempat, keriaan tahun ini terlihat lebih ramai ketimbang tahun sebelumnya. Selain aneka lomba, perayaan kemerdekaan kali in juga dimeriahkan penampilan sejumlah artis lokal yang menghibur penonton. Apalagi, panitia menyediakan hampir 50 doorprize.

Bagi Sarmani, keriaan semacam itu berarti berkah. Bertumpuknya manusia dalam satu tempat, membuka peluang larisnya dagangan. Terbukti hampir satu jam saya berbincang dengan lelaki berusia 81 tahun ini. Di sela obrolan, ibu-ibu dan anak-anak sesekali mampir untuk mencomot dua-tiga buah yang dijajakan Sarmani. “Sawo banyak yang beli,” katanya lagi.

Berdagang buah sejak tahun 1990-an, Sarmani sebelumnya adalah pedagang es serut. Lantaran banyak pesaing, ia kemudian banting stir menjajakan buah. Tahun 1965-1970, ia menceritakan, sempat menjadi buruh di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tak betah di kota besar, Sarmani memilih pulang kampung untuk kemudian berdagang segala macam penganan. 

Walaupun ia termasuk penduduk asli, tapi tak ada tanah ataupun kebun untuk bertani. “Saya mah tinggal di sini, tapi lebih senang berdagang aja,” ungkap Sarmani lagi sembari mulai menyalakan rokok. Hasil dagang buahnya itu kemudian dipakai untuk membeli beras. “Lumayan, untungnya cukup buat beli beras seliter-dua liter dah,” bebernya seraya menyebut lauk pauk menemani nasi bagi keluarganya adalah ikan asin. “Yang murah dan bisa kebeli,” kekehnya.

Untuk makan, ia sendiri lebih mengaku hanya menyantap nasi sehari sekali. Untuk membunuh rasa lapar dan haus, rokok dan kopi menjadi obat pelipur lara. Dalam sehari, terkadang ia menghabiskan dua bungkus rokok kretek dan tiga gelas kopi. 

****

Hampir 70 kilometer dari tempatnya tingga Sarmani, sayup-sayup terdengar kabar; harga rokok bakal menjulang. Gegaranya, cukai atawa pajak tembakau menjadi incaran pemerintah. Maklum, mengutip ucapan Sri Mulyani, Menteri Keuangan yang mantan Direktur Bank Dunia itu diberbagai media massa, pemerintah saat ini mulai kehabisan nafas buat membiayai pembangunan infrastruktur. Jangankan membangun jalan, untuk sekadar bayar gaji pegawai negeri yang jumlahnya puluhan ribu di seluruh Indonesia, kas negara sudah ngos-ngosan. Persis tukang becak menggenjot penumpang bertubuh tambun di tanjakan. 

Berupa-rupa upaya dilakukan pemerintah agar supaya keuangan negara sehat walafiat. Mulai pengampunan pajak yang diyakini bisa meningkatkan pendapatan negara, hingga pungutan cukai macam kabar akan naiknya pajak tembakau. Kalau sudah begini, bisa berujung pada naiknya harga produk akhir macam rokok yang dihisap Sarmani.

Demi mendengar kabar itu, lelaki kelahiran 1935 di Cikopomayak, Bogor ini tak ambil pusing. “Mau naik berapa aja terserah asal masih bisa kebeli. Saya mah enggak ngerti, yang penting jualan buah saya laku,” ujarnya dengan logat sunda kental kepada saya.

(Cikopomayak, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s