(Belum) Pensiun

  
Terbacalah judul di harian Kompas, Jumat (19/8) di halaman 19 yang membuat kening mengernyit: Jumlah Pensiunan Meningkat. Menurut Nur Hasan, Wakil Ketua Umum Perkumpulan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) pada tahun 2025 terjadi ledakan jumlah pensiunan mencapai 40 juta orang. Lebih besar lagi pada tahun 2050 yang diperkirakan mencapai 71,6 juta orang. Celakanya, dari 120 juta pekerja formal saat ini, hanya 5 persen yang mempunyai program pensiun. Artinya, sisanya tak punya jaminan hidup setelah mereka berhenti bekerja.  

Atas situasi itu, bisa jadi bonus demografis yang digadang-gadang sekarang akan menjadi bom waktu di masa mendatang. Persis di Jepang yang kini pemerintahnya jungkir balik memikirkan ketimpangan angkatan muda yang lebih sedikit daripada para pensiunan dan ternyata masih sehat walafiat dan tidak produktif bekerja: Pagi berkebun, siang minum teh dan sorenya jalan-jalan. Walau masih ada segelintir orang tua yang juga bekerja pada sektor formal. Tetapi umumnya demikian. 

Perilaku kaum tua di Jepang itu sebenarnya juga mengindikasikan bahwa menjadi tua bukan berarti melemah. Ibarat pepatah, tua-tua keladi- semakin tua semakin menjadi. Meski pada lazimnya pepatah itu dipakai untuk menggambarkan hal yang negatif, toh pada dunia nyata tak selamanya berkonotasi demikian. Mau bukti? Coba buka lagi lembaran sejarah masa silam. Ketika Charles de Gaulle ditahbiskan sebagai Presiden Prancis ia berusia 69 tahun. Kala ia memimpin tahun 1959 hingga 1969, Prancis tak mau dikangkangi Amerika Serikat maupun Inggris. Prancis berdiri sebagai negara yang mempunyai wibawa. 

Pun demikian dengan Deng Xiaoping, pentolan Partai Komunis China yang pada tahun 1978 saat berusia 74 tahun dia didapuk sebagai orang nomor satu Republik Rakyat China. Kelahiran 22 Agustus 1904 itu di usia senjanya toh masih bisa memimpin negeri Tirai Bambu hingga 1989. Selama 11 tahun memimpin, ia meletakan dasar-dasar China yang katanya negeri Sosialis, kemudian kini menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia.

Atau mau contoh lain? Sultan Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai wakil presiden Republik Indonesia tahun 1973, saat menginjak usia 61 tahun. Kemudian kembali menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta hingga wafat tahun 1988 di usia 76 tahun. Pun demikian dengan kedua tokoh kita ini: Goenawan Mohamad dan Slamet Rahardjo Djarot. 

Meski dalam pembukaan orasi budaya berkaitan dengan perayaan 17an Tempo mengenang Chairil Anwar pada 15 Agustus 2016 lalu, Goenawan menyebutkan dirinya pensiunan toh ia masih sibuk melakukan pekerjaannya: sebagai sastrawan dan juga penulis. Buktinya, ia masih produktif menelurkan tulisan-tulisannya di Majalah Tempo dalam rubrik Catatan Pinggir. Ia masih sibuk diskusi sana-sini, mulai urusan bangsa hingga urusan budaya. Sesekali juga tampil di ruang kaca untuk membicarakan bermacam hal mengenai budaya dan seni yang memang digelutinya. Padahal, lelaki kelahiran Batang, Jawa Tengah itu kini usianya sudah menyentuh 75 tahun. Lebih tua dari usia republik ini.

Demikian halnya dengan Slamaet Rahardjo Djarot yang usianya kini memasuki 67 tahun. Kelahiran Serang, Banten itu termasuk aktor yang masih produktif walaupun usianya sudah berkepala enam. Pria berkumis ini juga masih kerap kali muncul di salah satu televisi swasta bersama Butet Kertaradjasa. Berdandan dengan beskap kumplit, berayun-ayun di kursi goyang. Sesekali menyentil kebijakan pemerintah, tetapi di lain waktu, bisa juga berdiskusi perihal bangsa ini dengan serius.

Maklum, Slamet Rahardjo termasuk sebagai aktor kawakan di Indonesia yang sudah lama malang-melintang di pentas kesenian. Sebagai ‘anak didik’ dari Almarhum Teguh Karya, ia teruji oleh waktu.

Adakah keduanya masuk dalam golongan orang yang memiliki program jaminan hari tua? Saya sendiri tak tahu, apakah mereka berdua memiliki pengaman berupa dana pensiun bila tiba waktunya tak bekerja lagi. Tetapi, saya yakin kalau keduanya tak ambil pusing perihal itu. Walaupun Goenawan sempat menyebut dirinya sudah pensiun sebagai pegawai Tempo, tapi bukan pensiunan sebagai penulis sastra atau sebagai jurnalis. Pun demikian dengan Slamet Rahardjo yang masih terus tampil dalam berbagai layar lebar maupun layar digital. 

Lagipula, rasanya kalaupun dana itu disiapkan, tentu masih lama akan dicairkan. Oleh karena, biasanya tak ada seorang jurnalis ataupun aktor yang memasuki masa pensiun kecuali berhenti umurnya. 

(Ampera, 20/8/2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s