Ada Apa Dengan Chairil?

 

Foto: @sirizka, 1/80 sec at f/4.0 ISO 3200
 
Dia mati di usia 27 tahun tanggal 28 April 1949, tapi hingga 67 tahun sejak kematiannya, masih banyak orang mengenalnya. Bekalnya cuma “mahkota kata-kata” – begitu Sapardi Djoko Damono menyebut puisi- hingga ia tersohor seantero negeri. Goenawan Mohamad dalam orasi 17an Majalah Tempo tanggal 15 Agustus 2016 lalu, menyebut Chairil sebagai seorang yang tak terikat pada aturan-aturan. Ia hidup sebagai seorang yang bebas melakukan apa yang menjadi kehendak hatinya. Inikah wujud kemerdekaan versi Chairil?

Saya tak hendak menafsirkan apa yang ada diisi kepala Chairil. Sebagai orang awam dunia kesusateraan, puisi-puisi Chairil tak mudah saya mengerti. Lain halnya dengan para pakar yang memang berkecimpung dalam dunia berbahasa: mereka dengan bernas menguliti apa yang dituangkan Chairil. Sehingga mereka pun bisa memantapkan Chairil Anwar sebagai seorang sastrawan yang berpengaruh di Indonesia.

Adakah karya-karyanya memang mengangkat harkat martabat lelaki kurus yang mati lantaran deraan berbagai penyakit itu? Adakah ia termashyur lantaran goresan pena yang mengkritisi kondisi kemerdekaan saat itu? Boleh jadi keduanya benar. Tetapi, menarik apa yang dituliskan majalah Tempo dalam edisi khusus kemerdekaan yang mengangkat si Bintang Jalang ini.

Tentu bukan kebetulan bila Chairil adalah keponakan Sutan Sjahrir, yang menjadi Perdana Menteri Indonesia di masa lampau. Terlahir sebagai seorang anak lelaki controleur di Sumatera, ia merupakan bungsu dari dua bersaudara. Toeloes, sang ayah begitu memanjakan Chairil hingga apapun yang diminta, ia dapatkan.

Dari garis ibulah yang menjadikannya bisa dengan mudah masuk dalam elite pergerakan Indonesia masa silam. Di rumah Bung Kecil -begitu Sjahrir disebut-, kerap kali berkumpul para pemuda pejuang. Inilah yang kemudian membuatnya mudah masuk dalam lingkungan pergerakan yang menjadikannya mudah dikenal. Bengal, begitu kata maestro lukis Indonesia Affandi menyebut perihal Chairil yang menjadi sahabatnya. 

Chairil, yang kemudian punya anak semata wayang itu, adalah lelaki yang gandrung hidup bohemian alias mbambung dalam bahasa jawa. Menggelandang, bermalam di rumah Affandi, lain waktu ia bertandang ke tempat pelukis Sudjojono atau sekadar bercengkrama dengan Tino Sidin -sang pelukis anak yang tenar di era 1980an. Ia pun gemar bergulat dengan perempuan pelacuran untuk sekadar melepas penatnya. 

Berasal dari keluarga elite tetapi memilih kehidupan sembarang, menjadikan ia akrab dengan bermacam penyakit ‘kampungan’. Tempo menuliskan, ia pun diduga mengidap penyakit raja singa yang didapat lantaran kerap berhubungan dengan para pelacur. 

Lantas, itukah yang membuatnya terkenal, lantaran dekat dengan elite politik dan perilaku yang jauh dari aristokrat masa silam? Lepas mana yang menjadikan Chairil tetap dibicarakan hingga kini, karyanya menurut Majalah Tempo yang hanya 94 (70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan) atau kehidupan anak elite masa silam itu. Toh kenyataannya, Chairil “…(bisa) hidup seribu tahun lagi”.

(Ampera, 17/8/2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s