Improvisasi

 

@sirizka 1/25 sec f/2.0 ISO 3200
 
Ketukan pemukul ke bilah gambang, teratur membunyikan nada-nadanya. Kadang pelan, terkadang diketuk keras. Dari mulut sang pemain, kemudian meluncur lirik-lirik yang sudah lama ‘dilarang’ semasa pemerintahan Orde Baru. Perkaranya, lagu itu ditengarai dipakai salah satu Partai untuk ‘menyiksa’ para petinggi militer negeri ini. 

“Jer….genjer…nong kedokan, pating keleler…Emake thulik teka-teka mbubuti genjer…,” nyanyi sang pemain.

Lagu yang diciptakan oleh seniman Banyuwangi itu, lirik nya memakai bahasa Osing, yang merupakan suku asli daerah paling ujung timur Pulau Jawa itu. Konon, lantaran dinyanyikan oleh ormas underbouw salah satu parpol terlarang, maka menghilanglah lagu itu dari peredaran. Saya pun kali pertama mendengarnya, ketika sang pemain gambang itu melantunkannya. Akan halnya sang pemain, tak lain adalah almarhum ayah saya sendiri yang memboyong gambang dari rumah pakdhe beberapa tahun sebelum ayah saya wafat. 

Pensiunan kesatuan KKO (sekarang Marinir) yang kemudian dikaryakan pada departemen pendidikan dan kebudayaan (Depdikbud) hingga akhir hayatnya empat tahun lalu ini memang lincah memainkan gambang. Keselarasan gerak tangan kiri dan kanan, membuat suara gambang terdengar riuh dan selaras.  

Kelihaian memainkan alat musik ini didapatnya secara otodidak. Entah darah seni darimana, ayah saya itu memang nyaris bisa memainkan semua alat musik: piano, gambang, harmonika hingga biola. Tapi ada satu yang tak pernah disentuhnya: gitar! Meski ini adalah alat musik ‘sejuta umat’, toh jemarinya tak bisa memetik dawai gitar milik saya.

PERIHAL Gambang sendiri sejatinya bukanlah alat musik yang berdiri sendiri. Dalam gelaran wayang kulit semalam suntuk, biasanya gambang berpadu dengan slentem, gong hingga bonang. Dimainkan dalam irama yang sudah ditentukan untuk kemudian menciptakan keselarasan bunyi yang mengiringi pesinden melantunkan tembang-tembang sesuai lakon yang dimainkan dalang.

Persis seperti yang terjadi baru-baru ini di dekat rumah saya. Gelaran semalam suntuk wayang kulit yang melakonkan perjalanan Kumbakarna -salah satu tokoh pewayangan- juga diiringi permainan musikal jawa itu. Bagi orang awam macam saya ini, paduan itu terlihat selaras dan serasi: saling menimpali dan berpadu menjadi satu. 

Teringatlah saya akan artikel di salahsatu surat kabar nasional perihal gegendingan jawa ini yang ditulis oleh almarhum Mahbub Djunaidi, jurnalis kawakan nasiona. Ia menuliskan, pada tahun 1956, di Universitas Gadjah Mada, almarhum Ki Sindhusawarno, dosen Konservatori Karawitan, mengeluarkan pendapat perihal gamelan yang merupakan bentuk ‘demokrasi’ pada tabuhan musik. Setiap pemain, bebas berkreasi dan ‘diwajibkan’ untuk berimprovisasi. Inilah yang disebut dengan kebebasan wiled. Meski begitu, hasil bunyinya terdengar selaras dan teratur.

Bahkan, dalam beberapa babak, seperti yang saya saksikan sendiri manakala menyaksikan gelaran itu di Ampera beberapa waktu lalu, ada pemain gambang yang terus memainkan musik meski alat musik lainnya berhenti. Terkadang, ada juga yang menyambungnya bersolo. Walau demikian, tidak dilakukan pada penabuh gong. Bisa terbayang, kalau gong berimprovisasi sendiri, bukan tidak bisa, tapi bisa jadi dalang maupun penontonnya akan bingung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s