Rotavirus

  

Foto: @sirizka. 1/80 sec at f 3,5, ISO 3200. Lens 50mm f1.8 .

 Tubuh kecilnya perlahan mulai lunglai. Tawa riangnya, ini tak lagi terdengar. Perempuan cilik berusia 2 tahun 4 bulan itu harus menghadapi kenyataan: lengan kirinya menerima dua kali suntikan.  

“Sakiitt…sakitt….,” teriaknya dengan suara yang mulai tercekat.

Sekuat tenaga ia mencoba meronta. Namun, tubuh mungilnya itu tak lagi punya kuasa untuk menolaknya. Hilang tenaga, lantaran diare disertai muntah sudah menderanya sejak tiga hari belakangan ini. 

“Kemungkinan ia infeksi virus di bagian pencernaannya,” tutur sang dokter.

Rotavirus, begitu sang dokter melanjutkan penjelasannya, bila melihat gejala yang dialami perempuan cilik itu: buang air besar lebih dari 5 kali sehari disertai muntah dengan durasi yang sama. Sselain itu, anak muai terlihat lemas dan selalu merasa haus. Yang membuatnya menjadi rewel, dalam pencernaan si kecil akan terasa sakit sehingga menjadi lebih rewel dari biasanya. 

“Tak ada obat untuk ini, paling tidak membutuhkan 5-8 hari untuk pemulihan dengan sendirinya. Tetapi harus segera diberi cairan pengganti, kalau tidak bisa dehidrasi (kekuarangan cairan tubuh). Itu yang berbahaya. Makanya, yang penting anak mendapat cairan elektronit dan juga penguatan pada penceranaanya,” papar dokter spesialis anak yang memiliki sederet gelar di belakang namanya itu.

Walau demikian, rotavirus sesungguhnya bukanlah penyakit baru. Virus ini biasanya menyerang balita yang mempunyai daya tahan tubuh lebih rentan dari orang dewasa. Meski orang dewasa pun tercatat juga bisa terkena virus ini. 

Dalam catatan dunia kesehatan rotavirus ini merupakan virus yang berbentuk seperti roda dengan ukuran 100 nanometer. Untuk melihatnya pun tak bisa dengan mata telanjang. Diperlukan mikroskop agar tampak.

Ukuran boleh mikro, tapi daya ‘bunuh’ virus ini punya catatan fantastis. Menurut organisasi kesehatan dunia, Tahun 2008 virus dari keluarga reoviridae ini sudah membinasakan 453.000 balita setiap tahunnya di seluruh dunia. Padahal, vaksinasi virus tersebut sudah ditemukan sejak tahun 2006 lalu. Bisa terbayangkan, manakala vaksinasi belum ditemukan, angka kematian balita akibat diare rotavirus bisa lebih besar lagi. 

Beruntung perempuan cilik itu tinggal tak jauh dari rumah sakit yang kini ia tempati. Lepas tiga hari kekurangan cairan dan divonis dehidrasi sedang oleh dokter, perempuan mungil itu masih sempat tertangani. 

Akan halnya penangan yang cepat ini, boleh jadi tak akan terwujud bila balita itu berada di seluruh pelosok negeri. Dalam catatan Unicef tahun 2015 lalu, sebanyak 147.000 anak di Indonesia tak sempat merayakan ulang tahunnya yang kelima. Bermacam sebab balita mengalami hal ini. Salah satunya lantaran rotavirus ini. 

(RSIA KMC, 14/8/2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s