Demi Orangutan

  Meski rambut yang tumbuh di sekujur tubuh saya lebih panjang dan lebat ketimbang kebanyakan orang Indonesia, tetapi saya bersikeras menolak apa yang dikatakan Charles Robert Darwin. Boleh saja biologist kelahiran Shrewsbury, Inggris itu punya teori yang sohor tentang evolusi makhluk hidup, sehingga mencapai kesimpulan yang absurd perihal asal mula manusia yang disinyalir hasil evolusi bangsa kera. Pemikiran sama kemudian ditelurkan Alfred Russel Wallace, naturalist Inggris yang menjadi yakin dengan pemikiran Darwin kala menjelajah Borneo. Di pulau terbesar ketiga di dunia inilah Wallace saat mencari spesies baru, berjumpa dengan orangutan untuk kali pertama. Maka ia pun haqul yakin, Teologi Alam -yang menyebutkan Tuhan menciptakan makhluk tetap sama hingga akhir hayat- bertentangan dengan apa yang ada di dunia. Maka ditulislah Teori Sarawak yang dikirimkan ke Inggris mengenai hal ini. Isinya kira-kira: bahwa manusia juga merupakan bagian dari evolusi dengan nenek moyangnya adalah sebangsa kera..

Boleh saja keduanya berpendapat seperti itu. Tapi saya tak sudi bila dikatakan sebagai hasil evolusi dari bangsa kera, apa pasal? Secara temurun, baik dari garis ayah maupun ibu, tak ada yang menceritakan atau bukti otentik perihal nenek moyang saya adalah sebangsa pongo abelii atau Orangutan. Akan halnya sekujur tangan hingga badan saya dimeriahkan oleh rambut lebih banyak dari kebanyakan orang Indonesia, bisa jadi lantaran kakek-buyut saya salahsatunya berasal dari negeri di Asia selatan yang punya postur seperti itu. Apakah benar atau tidak, sayapun tak paham betul. Maklum, tak ada bukti tertulis semacam akte kelahiran maupun silsilah seperti halnya para raja atau priyayi masa silam. Yang saya tahu, kakek saya dari garis ayah adalah orang Purwokerto, Jawa Tengah yang bekerja sebagai mandor jalan. Sedangkan dari garis ibu, kedua kakek dan nenek saya adalah orang gunung yang tinggal dan mati di Desa Manjung, Magetan.  Tidak lebih tidak kurang.

Tetapi saya memahami: perihal keyakinan memang tak boleh dipaksakan. Jadi, kalau kedua bule itu yakin manusia merupakan keturunan kera, itu hak mereka. Pun demikian sikap saya terhadap rekan saya ini. Bahkan saya tak pernah bertanya, apakah dia setuju atau tidak dengan teori Darwin. Yang jelas, Panut Hadiswoyo -itu nama rekan saya-begitu mencintai orangutan Sumatera (pongo abelii), sehingga rela mendedikasikan hidupnya untuk mempertahankan makhluk berambut lebat itu.

“Tahun 2004, saya melihat orangutan. Sepertinya ia ‘meminta’ tolong kepada saya. Sejak itu, saya bertekad untuk melindungi orangutan Sumatera,” ujarnya kepada saya suatu masa. 

Ia sendiri, termasuk golongan Pujakesuma (Putra Jawa kelahiran Sumatera). Tapi ia tak ingat persis, kapan kakek-buyutnya hijrah dari tanah Jawa ke Sumatera. Boleh jadi manakala tahun 1800 an ketika Belanda yang menjajah Indonesia,melakukan program transmigrasi untuk meningkatkan produksi tembakau Deli, Sumatera Utara. Maklum, kala itu tembakau Deli termasuk yang paling diminati oleh bangsa eropa para penghisap cerutu. Boleh jadi, bukan, saya tak paham. Yang pasti, sejak mengenal Panut 20 tahun lalu, ia kini sudah memperistri adik kelasnya di Universitas Sumatera Utara yang kemudian memberikan dua anak dari hasil pernikahaannya itu.

Akan halnya kecintaan terhadap orangutan, sudah saya singgung sedikit. Setelah kejadian itu, lanjutnya, ia bersama dua teman lain bertekad untuk melakukan konservasi hewan asli pulau Sumatera itu. Maka berdirilah lembaga nirlaba bernama Orangutan Information Center. Tujuannya, agar orangutan Sumatera tetap lestari dan hidup layak di habitat asli mereka. 

Panut melanjutkan, yang pertama mesti dijaga adalah tempat tinggal hewan yang dipenuhi rambut ini. Walhasil, ia pun mulai melakukan gerakan untuk menjadikan hutan seperti apa adanya hutan. “Keep forest as a forest,” ujar peraih gelar sarjana sastra Inggris dari Universitas Sumatera Utara dan gelar MA bidang komunikasi dari Oxford University itu. 

Beruntunglah ia mengkampanyekan hal ini hingga keluar negeri. Maklum, sebagai pelajar sekolah lanjutan yang mendapat beasiswa untuk jenjang strata 2 di Inggris, sekaligus kesempatan buat mengkampanyekan hingga ke seantero negara. Apalagi, perkara pembukaan hutan perawan dan berganti dengan hutan tanaman industri atau menjadi perkebunan kelapa sawit, memang isu yang laris disuarakan para aktivis lingkungan di eropa. 

Maka, teruslah ia mengkampanyekan pelestarian hutan taman nasional Gunung Leuser dan sekelilingnya, yang menjadi habitat asli  orangutan dan kini perlahan menjadi rusak. Dampaknya, orangutan semakin terpinggirkan dan perburuan anakan orangutan juga semakin menjadi-jadi seiring dengan bertumbuhnya permintaan pehobi binatang eksotis semacam orangutan itu.

Di bawah bendera Orangutan Information Center (OIC), ia bersama dengan partnernya sudah menyelamatkan bayi-bayi pongo yang menjadi yatim-piatu lantaran tak ada bapak dan ibunya. “Ada yang terdesak pembukaan hutan ada juga yang diburu untuk kemudian diperjualbelikan. Kami sudah meyelamatkan lebih dari 10 anak orangutan dan kemudian kami lepasliarkan,” ujar Panut yang saya kenal sejak 20 tahun lalu saat sama-sama sebagai peserta Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada.

Buah konsistensi ia bersama tim OIC untuk peduli terhadap orangutan, kemudian menarik organisasi dunia macam Whitley Fund for Nature (WFN)) dan juga National Geographic. Keduanya pun mengganjar dengan bantuan dana untuk terus melestarikan orangutan.

Baginya orangutan adalah makhluk paling cantik sejagat. Entah artinya ia mengakui bahwa ada pertalian antara manusia dengan bangsa kera, atau tidak, nyatanya Panut begitu mencintai orangutan hingga profile picture di saluran whattsapp pun bergambar makhluk ini. Dalam perbincangan akhir Juli lalu, ia meyakinkan saya untuk terus ikut berkampanye tentang pentingnya melestarikan orangutan melalui pelestarian hutan tempat tinggal mereka. Karena ia yakin, orangutan punya hak hidup di bumi ini.

Atas kampanyenya itu, sungguh saya pun seratus persen setuju agar kita mencintai makhluk Tuhan semacam orangutan biar tetap lestari di muka bumi. Tetapi, mohon juga dimaklumi, untuk urusan garis darah dan keturunan, saya tetap pada pendirian sendiri: bahwa nenek moyang saya sesungguhnya bukan sebangsa kera. Demikian. 🙂 

(Ampera, 7 Agustus 2016)

Advertisements

2 thoughts on “Demi Orangutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s